Bitcoin Melemah ke US$ 90 Ribu, Sentimen Pasar Goyah Jelang Keputusan The Fed
Poin Penting
| ● | Bitcoin turun ke US$90.598 setelah gagal menembus resistensi US$92.250, tertekan oleh ketidakpastian pasar tenaga kerja AS dan penilaian tinggi sektor AI. |
| ● | Sentimen risiko melemah, terlihat dari premi berjangka yang rendah, likuidasi paksa US$92 juta, stablecoin di China yang diperdagangkan di bawah nilai, serta aliran masuk ETF yang minim. |
| ● | Peluang menuju US$100.000 bergantung pada kejelasan data ekonomi AS, terutama ketenagakerjaan dan pasar properti, yang belum pulih dalam waktu dekat. |
JAKARTA, investortrust.id — Harga Bitcoin (BTC) melemah ke level US$ 90.598 pada perdagangan Selasa (9/12/2025) pagi waktu Asia, setelah turun US$ 2.650, menyusul kegagalannya menembus resistensi US$ 92.250 pada Minggu (8/12/2025). Penurunan ini terjadi di tengah pembalikan pasar saham Amerika Serikat serta meningkatnya kekhawatiran atas kondisi pasar tenaga kerja, valuasi investasi kecerdasan buatan, dan ketidakpastian kebijakan moneter.
Pelaku pasar kini menanti keputusan Federal Reserve AS pada Rabu (10/12/2025), namun peluang Bitcoin untuk pulih menuju US$ 100.000 dinilai bergantung pada perubahan sentimen risiko investor. Premi berjangka bulanan BTC tetap berada di bawah batas netral 5% selama dua pekan, mencerminkan lemahnya minat terhadap posisi leverage bullish. Bitcoin tercatat telah terkoreksi 28% sejak mencapai rekor tertinggi pada Oktober.
Melansir Cointelegraph, Selasa (9/12/2025) minimnya data resmi ketenagakerjaan dan inflasi AS akibat penghentian pendanaan selama 43 hari memperburuk visibilitas terhadap kondisi ekonomi. Prediksi penurunan suku bunga Fed sebesar 0,25% pada Desember belum cukup memicu optimisme, terlebih laporan ketenagakerjaan swasta menunjukkan 71.321 PHK pada November.
Baca Juga
45% Gen Z Ingin Dapat Hadiah Berupa Aset Kripto hingga Bitcoin Lampaui Mastercard dan Visa
Dari sektor real estat, Redfin melaporkan 15% pembatalan pembelian rumah pada Oktober, sementara delisting naik 38% dari Oktober 2024 dan harga rumah rata-rata turun 0,4% secara tahunan. Kondisi ini semakin menekan sentimen pasar kripto, membuat Bitcoin berkinerja lebih buruk dibanding indeks S&P 500 yang hanya 1,2% di bawah rekor tertingginya.
Penurunan menuju US$ 90.000 turut dipercepat oleh likuidasi paksa senilai US$ 92 juta dari posisi berjangka bullish. Sementara itu, investor besar menuntut premi 13% untuk opsi jual di Deribit, menandakan kebutuhan perlindungan penurunan harga yang lebih tinggi. Meski begitu, level US$ 90.000 dinilai menjadi support kuat.
Di pasar Tiongkok, stablecoin diperdagangkan di bawah nilai tukar resmi, menunjukkan tingginya risk aversion di kalangan pedagang. Minimnya arus masuk ke ETF Bitcoin spot AS selama beberapa pekan terakhir juga menambah tekanan pada prospek bullish jangka pendek.
Baca Juga
Goldman Sachs Akuisisi Inovator Senilai US$ 2 Miliar, Tambah ETF Bitcoin
Kemampuan Bitcoin untuk kembali mengejar level US$ 100.000 dinilai sangat bergantung pada kejelasan data ketenagakerjaan AS dan stabilisasi pasar properti, dua faktor yang diperkirakan membutuhkan waktu lebih dari sekadar satu keputusan kebijakan The Fed.
Adapun, fokus pasar minggu ini sepenuhnya tertuju pada pertemuan FOMC (Federal Open Market Committee) yang akan diselenggarakan pada 9–10 Desember. Para trader hampir sepenuhnya yakin bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan sikap dovish.
Keyakinan ini tercermin di pasar prediksi seperti Polymarket, di mana peluang pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) berada di angka 92%, mengubah sentimen pasar dari potensi penurunan menjadi harapan comeback bagi aset kripto. Meskipun Ketua The Fed Jerome Powell diperkirakan akan menyetujui pemotongan suku bunga, perlu dicatat bahwa ada resistensi dari anggota hawkish di tubuh The Fed, di mana lima pejabat telah mengindikasikan mereka tidak akan mendukung pemotongan suku bunga lagi pada bulan Desember ini.

