Rupiah Melemah ke Rp 16.341 Saat Pasar Tunggu Keputusan The Fed
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (28/7/2025) sore ini. Data Jisdor Bank Indonesia (BI) menunjukkan kurs rupiah merosot 16 poin (0,09%) ke level Rp 16.341 per dolar AS dibandingkan pada Jumat (25/7/2025) lalu yang berada di posisi Rp 16.325 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah bergerak melemah 43 poin (0,27%) ke level Rp 16.363 per dolar AS.
Baca Juga
Jisdor Catat Kurs Rupiah Menguat ke Rp 16.283 per Dolar AS, Kamis 24 Juli 2025
Menurut Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi, pasar saat ini menantikan keputusan kebijakan moneter The Fed yang akan diumumkan pada Rabu (30/7/2025) waktu setempat. Pasar secara umum memperkirakan suku bunga akan tetap stabil antara 4,25% dan 4,5%, dengan probabilitas sebesar 96% The Fed akan mempertahankan suku bunga. Sementara sebesar 4% The Fed akan menurunan suku bunga sebesar 25 basis poin.
"Sebagian besar proyeksi mengarah bahwa penurunan suku bunga akan dilakukan paling cepat pada pertemuan September," kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin (28/7/2025).
Ibrahim mengatakan, pasar juga akan memantau dengan cermat konferensi pers The Federal Open Market Committee (FOMC) untuk mendapatkan beberapa petunjuk jadwal penurunan suku bunga tahun ini. Sebagian besar pejabat The Fed tampaknya lebih memilih menunggu dan melihat bagaimana tarif akan memengaruhi perekonomian sebelum mereka melakukan pemotongan.
Kesepakatan AS-Uni Eropa (UE)
Selain menanti keputusan The Fed, Ibrahim mengungkap pasar merespon positif setelah kesepakatan kerangka kerja AS-UE yang diumumkan pada Minggu (27/7/2025). Perjanjian tersebut mencakup tarif 15% untuk barang-barang UE yang masuk ke AS, turun dari 30% yang awalnya diusulkan.
Baca Juga
Sementara itu, para pejabat tinggi AS dan China dijadwalkan bertemu di Stockholm pada Senin untuk menyelesaikan ketegangan perdagangan dan dilaporkan mengupayakan perpanjangan gencatan senjata tarif mereka selama 3 bulan.
Menurut laporan South China Morning Post, kedua belah pihak ingin memperpanjang gencatan senjata tarif sebelum berakhir pada 12 Agustus, tanpa rencana untuk mengenakan bea baru atau meningkatkan ketegangan.

