45% Gen Z Ingin Dapat Hadiah Berupa Aset Kripto hingga Bitcoin Lampaui Mastercard dan Visa
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Di tengah penurunan harga Bitcoin, generasi muda di Amerika Serikat (AS) justru menunjukkan minat tinggi terhadap aset kripto sebagai bagian dari belanja akhir tahun. Survei Visa baru-baru ini mencatat 45% Gen Z akan sangat senang jika menerima kripto sebagai hadiah Natal. Angka ini jauh di atas rata-rata orang dewasa yang disurvei, yakni 28%. Hasil survei ini mencuat ketika pasar kripto mengalami koreksi besar.
Bitcoin sempat turun dari hampir US$ 125.000 pada awal Oktober menjadi di bawah US$ 82.000 pada 21 November 2025. Ethereum kehilangan sekitar sepertiga nilainya, sementara XRP turun hampir 30%. Survei yang dilakukan Morning Consult terhadap 1.000 responden dewasa pada 14–16 Oktober 2025 itu juga menunjukkan Gen Z memimpin perilaku belanja digital. Sebanyak 44% responden Gen Z mengatakan mereka bersedia menggunakan kripto untuk berbelanja kebutuhan liburan.
Selain itu, penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam perilaku belanja juga meningkat. Hampir 47% orang dewasa mengaku memanfaatkan AI untuk membantu mencari ide hadiah. Data Adobe Analytics memperlihatkan trafik belanja yang didorong AI melonjak tajam, naik 670% pada Cyber Monday dan 760% sepanjang akhir pekan Thanksgiving dibandingkan tahun sebelumnya. Cyber Monday bahkan mencetak rekor belanja daring mencapai US$ 14,25 miliar.
Wakil Presiden Consumer Insights Visa, Bruce Cundiff, menilai tren ini menunjukkan perubahan besar dalam pola belanja masyarakat. “Mulai dari penemuan hadiah berbasis AI hingga kripto sebagai pilihan hadiah yang sah, Gen Z dan millennial muda memimpin transformasi cara orang berbelanja,” ujarnya dilansir Newsweek, Sabtu (6/12/2025).
Baca Juga
Goldman Sachs Akuisisi Inovator Senilai US$ 2 Miliar, Tambah ETF Bitcoin
Di sisi lain, sejumlah analis menilai penurunan harga kripto saat ini masih berada dalam pola historis Bitcoin. Ahli strategi investasi Lyn Alden menyebut koreksi lebih dari 30% seperti ini merupakan yang ke-17 dalam sejarah Bitcoin. Ekonom Garrick Hileman menilai penurunan jangka pendek justru memberikan ruang masuk bagi investor baru dengan harga yang lebih menarik. Meskipun pasar masih bergerak hati-hati, para analis menilai sebagian besar tekanan jual kemungkinan sudah mereda. Laporan Visa menegaskan bahwa minat ritel dan institusional terhadap kripto tetap kuat, terutama di kalangan generasi muda.
Bagi Gen Z, aset digital bukan lagi sekadar instrumen spekulasi, tetapi mulai dipandang sebagai bentuk nilai yang layak dan alat pembayaran yang relevan. Temuan ini menunjukkan kripto semakin terintegrasi dalam pola belanja dan ekosistem keuangan AS, seiring percepatan digitalisasi dan perubahan preferensi konsumen muda.
Baca Juga
Bitcoin Lampaui Visa dan Mastercard
Di sisi lain, volume penyelesaian transaksi (settlement volume) Bitcoin kini menyaingi bahkan melampaui jaringan pembayaran global seperti Visa dan Mastercard. Volume penyelesaian transaksi ini menunjukkan seberapa besar Bitcoin digunakan sebagai jaringan pemindahan nilai global, yang kini skalanya mulai menyaingi jaringan sistem pembayaran tradisional.
Laporan terbaru firma analisis Glassnode dan Fasanara berjudul "Fasanara x Glassnode Q4 2025 Digital Assets Report" mencatat bahwa selama 90 hari terakhir, Bitcoin memproses total settlement sekitar US$ 6,9 triliun, lebih tinggi dibandingkan Visa yang mencatat US$ 4,25 triliun dan Mastercard US$ 2,63 triliun pada periode yang sama.
Glassnode menjelaskan, setelah penyesuaian menggunakan entity-adjusted heuristics metode yang menyaring perpindahan dana internal antar alamat yang dikendalikan satu entitas, Bitcoin tetap mencatat volume penyelesaian ekonomi sebesar US$ 0,87 triliun per kuartal, atau setara US$ 7,8 miliar per hari. Angka tersebut selevel dengan aktivitas perdagangan spot harian Bitcoin di bursa global.
Temuan ini mempertegas posisi Bitcoin sebagai jaringan penyelesaian bernilai besar yang relevan secara global, yang saat ini digunakan untuk mengakomodasi arus transaksi investor institusional maupun pengguna ritel di berbagai negara.

