Harga Emas Goyah, Pasar Antisipasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas melemah pada Rabu (27/8/2025) seiring penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS), meski tekanan jual tertahan permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian politik di Negeri Paman San. Sentimen pasar terfokus pada independensi Federal Reserve (The Fed) setelah Presiden Donald Trump berupaya memecat salah satu gubernurnya.
Harga emas spot turun 0,1% menjadi US$ 3.388,15 (Rp 55,3 juta) per ons. Namun, emas berjangka AS untuk pengiriman Desember justru naik 0,2% menjadi US$ 3.438,30 (Rp 56,1 juta) per ons.
Indeks dolar menguat 0,2% terhadap sekeranjang mata uang utama, membuat emas lebih mahal bagi pembeli non-AS.
Baca Juga
Sentimen Jackson Hole Dorong Emas Antam Melonjak Rp 17.000 Tembus Rp 1,933 Juta
Menurut analis senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, kombinasi dolar kuat dan kenaikan imbal hasil obligasi AS sebesar 0,4% membebani emas dan perak. “Hari ini kita melihat indeks dolar AS yang menguat dan sedikit kenaikan imbal hasil obligasi, ini memberikan tekanan jual pada pasar emas dan perak,” ujarnya dikutip CNBC.
Ketidakpastian politik menambah volatilitas pasar emas. Awal pekan ini, Trump menyatakan akan mencopot Gubernur Federal Reserve Lisa Cook dari dewan direksi The Fed. Langkah ini dinilai berpotensi menggerus independensi bank sentral AS. Sementara Cook melalui pengacaranya menegaskan akan menempuh jalur hukum untuk mencegah pemecatan tersebut.
Situasi ini sempat mendorong harga emas menyentuh level tertinggi dalam lebih 2 pekan pada Selasa (26/8/2025). Investor memandang emas sebagai lindung nilai di tengah risiko konflik politik yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter AS.
Pasar tunggu data inflasi AS
Selain drama politik, pelaku pasar kini menantikan rilis data produk domestik bruto (PDB) pada Kamis (28/8/2025) dan indeks pengeluaran konsumsi pribadi (personal consumption expenditure/PCE) pada Jumat (29/8/2025). PCE merupakan indikator inflasi favorit The Fed untuk menentukan arah suku bunga.
Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan PCE naik 2,6% pada Juli, sama dengan bulan sebelumnya. Wyckoff menilai data inflasi akan menjadi kunci arah pasar.
“Jika data PCE meleset dan menunjukkan inflasi lebih kuat, hal itu mungkin menimbulkan pertanyaan apakah The Fed akan memangkas suku bunga pada bulan September. Namun, saya menduga dibutuhkan angka inflasi yang sangat kuat untuk mencegah The Fed memangkas suku bunga pada bulan September,” jelasnya.
Baca Juga
Trump Bikin Pasar Terguncang, Harga Emas Antam Meroket ke Rp 1,940 Juta
CME FedWatch Tool mencatat peluang lebih dari 87% terjadinya pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam pertemuan kebijakan Fed bulan depan.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 0,3% menjadi US$ 38,47 per ons. Platinum melemah 0,3% ke US$ 1.344,20 per ons, sementara paladium terkoreksi 0,6% ke US$ 1.087,10 per ons.

