Iran Isyaratkan Selat Hormuz Tetap Tertutup, Harga Minyak Melonjak, Negosiasi Makin Buntu
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga minyak dunia kembali melonjak pada perdagangan Senin (10/08/2026) setelah Iran menegaskan bahwa kesepakatan yang hampir tercapai dengan Oman mengenai pengaturan pelayaran di Selat Hormuz tidak otomatis berarti jalur energi paling strategis di dunia itu akan dibuka kembali. Teheran tetap mensyaratkan Amerika Serikat memenuhi sejumlah tuntutan politik, keamanan, dan ekonomi sebelum pelayaran dapat kembali normal.
Berdasarkan data CNBC, harga minyak mentah WTI kontrak September 2026 di New York Mercantile Exchange (NYMEX) pada pukul 13.40 EDT berada di posisi US$81,80 per barel, melonjak US$3,62 atau 4,63% dibandingkan penutupan sebelumnya sebesar US$78,18 per barel.
WTI dibuka pada US$78,42 per barel dan sempat menyentuh level terendah US$77,79 sebelum berbalik melesat hingga mencapai level tertinggi intraday US$81,83 per barel. Volume perdagangan tercatat 171.359 kontrak.
Baca Juga
Harga Minyak Naik Lebih dari 1%, Pasar Tunggu Kesepakatan Pembukaan Selat Hormuz
Pada perdagangan Senin, Brent sempat berada di sekitar US$85 per barel. Reuters mencatat Brent naik sekitar 1,7% menjadi US$84,95 per barel dalam perdagangan hari itu. Sumber pasar lainnya mencatat kenaikan intraday yang lebih tinggi seiring perubahan cepat sentimen mengenai prospek pembukaan Hormuz.
CNN dalam laporan yang diperbarui pada Senin, 10 Agustus 2026 pukul 13.36 EDT menyebut harga minyak bertahan tinggi setelah Iran meredam optimisme mengenai pembukaan Selat Hormuz. Laporan tersebut menyebut lalu lintas kapal melalui selat itu tetap “subdued” dan bahkan “weakened”, atau masih sangat terbatas dan kembali melemah.
Perkembangan tersebut dikonfirmasi oleh Reuters dalam laporan 10 Agustus 2026. Reuters melaporkan Iran dan Oman memang semakin dekat dengan kesepakatan final mengenai penetapan jalur pelayaran baru di Selat Hormuz. Namun, Teheran menegaskan kesepakatan teknis dengan Muscat hanya menyelesaikan satu bagian persoalan. Pembukaan kembali selat tetap bergantung pada pemenuhan tuntutan Iran oleh Washington.
Inti persoalannya adalah perbedaan antara kesepakatan navigasi Iran-Oman dan kesepakatan politik Iran-AS. Iran mengatakan pembicaraan dengan Oman mengenai jalur pelayaran sudah mendekati tahap final. Namun, Teheran menegaskan pengaturan teknis pelayaran tersebut tidak cukup untuk mengembalikan Selat Hormuz ke kondisi sebelum perang.
Baca Juga
Stok Senjata AS Menipis akibat Perang Iran, Pentagon Perintahkan Industri Genjot Produksi
Iran mensyaratkan antara lain kompensasi atas kerusakan akibat perang, pencabutan atau pengakhiran sanksi, serta berakhirnya ancaman militer Amerika Serikat sebelum jalur tersebut dapat dibuka kembali secara normal. Reuters melaporkan Selat Hormuz secara efektif telah terblokir sejak serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Posisi Iran membuat harapan pasar bahwa kesepakatan dengan Oman akan segera menormalisasi ekspor minyak Teluk Persia kembali memudar. Dengan demikian, kesepakatan Iran-Oman pada dasarnya baru dapat menjadi kerangka operasional pelayaran, sementara keputusan politik mengenai pembukaan penuh Hormuz masih menjadi bagian dari konfrontasi Teheran-Washington.
Baca Juga
Perang Iran-AS Kerek Harga Minyak Mentah ke US$90, OPEC+ Berencana Tambah Produksi
Risiko tersebut sangat besar bagi perekonomian dunia. Data U.S. Energy Information Administration (EIA) menunjukkan sekitar 20,9 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz pada semester I-2025, setara sekitar 20% konsumsi petroleum liquids dunia dan seperempat perdagangan minyak global melalui laut. Kapasitas jaringan pipa Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab yang dapat melewati Hormuz hanya sekitar 4,7 juta barel per hari, sehingga tidak cukup menggantikan seluruh volume yang biasanya melewati selat.
Hormuz juga merupakan urat nadi perdagangan gas dunia. EIA mencatat sekitar 20% perdagangan LNG global melewati jalur tersebut pada 2024, terutama LNG Qatar. Sekitar 83% LNG yang melewati Hormuz menuju Asia, dengan China, India, dan Korea Selatan sebagai tiga tujuan utama.
Trump Pilih “Low-Key”
Di tengah kebuntuan Hormuz, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan Washington tidak sedang mengejar terobosan diplomatik secara agresif. Dalam laporan CNN pada 10 Agustus 2026, Trump mengatakan AS sedang “low-keying” perundingan dengan Iran—sebuah strategi yang pada dasarnya membiarkan tekanan ekonomi terhadap Teheran terus meningkat.
CBS News pada hari yang sama menyebut Trump mengatakan AS hanya melakukan “semi-negotiating” dengan Iran. Sementara Teheran menegaskan belum terlibat dalam perundingan langsung dengan Washington.
Perselisihan bahkan memasuki babak baru ketika Iran menuntut kompensasi atas kerusakan akibat perang sebagai salah satu syarat pembukaan Hormuz. Trump membalas dengan tuntutan kompensasi kepada Iran atas warga Amerika yang menurutnya terbunuh atau terluka akibat berbagai serangan dan konflik yang dikaitkan dengan Iran.
Trump menyatakan tuntutan kompensasi itu harus dimasukkan ke dalam seluruh perundingan berikutnya dengan Teheran. Reuters mencatat tuntutan baru AS tersebut sebelumnya tidak muncul dalam pembicaraan, sehingga justru menambah persoalan baru pada negosiasi yang sudah rumit.
Namun, salah satu klaim Trump perlu diberi konteks. Presiden AS memasukkan keluarga 17 pelaut Amerika yang tewas dalam pengeboman USS Cole di Yaman pada 12 Oktober 2000 ke dalam tuntutan kompensasinya. Reuters menegaskan serangan terhadap USS Cole secara luas dikaitkan dengan al-Qaeda, bukan Iran.
Baca Juga
China Tolak Tarif Baru Trump, Perang Dagang Memasuki Babak Baru
Kebuntuan diplomatik terjadi setelah konflik berlangsung lebih dari lima bulan. Reuters mencatat AS dan Iran sempat menyepakati gencatan senjata pada Juni 2026. Namun, Washington kembali memberlakukan blokade terhadap pelayaran Iran di Teluk pada Juli. Teheran menilai tindakan itu melanggar gencatan senjata yang ketika itu memang telah mulai runtuh.
Persoalan kini bahkan tidak lagi terbatas pada Hormuz. Serangan Iran terhadap pelayaran di selat tersebut berjalan bersamaan dengan peningkatan aktivitas kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman. Houthi juga menyerang kapal-kapal di kawasan Laut Merah dan Teluk Aden, sehingga mengancam jalur strategis kedua di sisi barat Jazirah Arab.
Pada Senin, 10 Agustus 2026, militer Yaman mengatakan tujuh orang—terdiri atas personel militer dan warga sipil—tewas akibat serangan Houthi terhadap kota pelabuhan Mocha di Laut Merah. Pertahanan udara Yaman mengklaim berhasil menembak jatuh 11 drone Houthi yang ikut digunakan dalam serangan tersebut.
Situasi ini menciptakan risiko yang jauh lebih serius bagi perdagangan dunia: gangguan secara bersamaan terhadap Selat Hormuz di timur Jazirah Arab dan koridor Laut Merah-Bab el-Mandeb di barat. Artinya, dua jalur utama pengangkutan energi dan barang antara Asia, Timur Tengah, dan Eropa berada di bawah tekanan pada saat yang sama.
Khamenei Rombak Pimpinan Militer
Di tengah tekanan eksternal tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei pada 10 Agustus 2026 melakukan perombakan besar terhadap jajaran pimpinan militer. CNN dan CBS News melaporkan enam pejabat senior ditunjuk dalam restrukturisasi tersebut.
Di antaranya, Ali Abdollahi ditunjuk sebagai kepala staf angkatan bersenjata, Ahmad Vahidi menjadi panglima Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), sedangkan Ali Azmaei dipercaya memimpin Angkatan Laut IRGC. Mantan kepala intelijen Hossein Taeb juga ditunjuk memimpin Basij, organisasi paramiliter sukarela di bawah IRGC.
Baca Juga
S&P 500 Futures Bergerak ‘Flat’, Ketidakpastian Hormuz Bayangi Bursa AS
Instruksi Khamenei kepada jajaran baru menekankan peningkatan kemampuan deterrence atau daya tangkal, kesiapan melakukan operasi ofensif yang kuat, serta perluasan jaringan intelijen domestik. Langkah tersebut mengindikasikan bahwa Teheran, bersamaan dengan membuka jalur diplomasi melalui Oman, tetap mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan konflik berkepanjangan.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada hari yang sama juga mengungkapkan telah mengadakan pertemuan hampir tujuh jam dengan Khamenei. Pembahasan mencakup kondisi kehidupan masyarakat, pasar, lapangan kerja, perumahan, serta tekanan ekonomi yang muncul akibat sanksi AS. Khamenei, menurut Pezeshkian, menekankan pentingnya persatuan dan kohesi domestik.
Hormuz Jadi Penggerak Utama
Lonjakan harga minyak Senin terutama dipicu kembali meningkatnya ketidakpastian mengenai Selat Hormuz. CNBC pada Senin, 10 Agustus 2026 melaporkan minyak AS telah menembus US$81 per barel seiring membesarnya keraguan terhadap kesepakatan yang dapat membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.
Iran sebelumnya mengisyaratkan bahwa kesepakatan dengan Oman mengenai pengelolaan pelayaran melalui Selat Hormuz tidak serta-merta berarti jalur tersebut akan kembali dibuka secara normal. Teheran masih mengaitkan pembukaan Hormuz dengan sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi Amerika Serikat.
CNN dalam laporan yang diperbarui Senin, 10 Agustus 2026 pukul 13.36 EDT juga menyebut harga minyak tetap tinggi setelah Iran menegaskan bahwa kesepakatan yang semakin dekat dengan Oman belum cukup untuk membuka kembali Hormuz jika AS tidak memenuhi tuntutan Teheran.
Presiden AS Donald Trump pada hari yang sama mengatakan Washington sedang “low-keying” negosiasi dengan Iran. Trump mengindikasikan AS memilih membiarkan tekanan ekonomi terhadap Teheran meningkat. Sementara itu, Iran menyatakan belum terlibat dalam perundingan langsung dengan Washington.
Baca Juga
Pembukaan Hormuz Masih ‘Simpang Siur’, Iran Bantah Negosiasi Langsung dengan AS
Kebuntuan tersebut membuat pasar kembali memperhitungkan risiko terganggunya pasokan energi dari kawasan Teluk dalam waktu lebih lama. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi terpenting dunia karena menjadi pintu keluar utama minyak dan LNG dari sejumlah produsen besar Timur Tengah menuju pasar internasional.
Karena kapasitas jalur alternatif tidak mampu sepenuhnya menggantikan volume minyak yang biasanya melewati Hormuz, setiap indikasi bahwa gangguan pelayaran akan berlangsung lebih lama dengan cepat diterjemahkan pasar menjadi kenaikan geopolitical risk premium pada harga minyak.
Lonjakan Brent hingga US$87,38 dan WTI menjadi US$81,80 juga memperlihatkan perubahan ekspektasi pasar. Optimisme bahwa kesepakatan Iran-Oman dapat segera mengembalikan pelayaran ke kondisi normal mulai digantikan kekhawatiran bahwa persoalan Hormuz tidak dapat diselesaikan tanpa kesepakatan politik yang lebih luas antara Iran dan Amerika Serikat.
Jika harga minyak bertahan di level tinggi dalam waktu lama, dampaknya berpotensi meluas dari pasar energi ke perekonomian global. Minyak yang lebih mahal akan meningkatkan biaya transportasi dan produksi, mendorong inflasi, serta berpotensi mempersempit ruang bank sentral dunia untuk menurunkan suku bunga.
Bagi Indonesia sebagai negara net importir minyak, perkembangan tersebut juga perlu dicermati. Kenaikan harga minyak internasional berpotensi memperbesar nilai impor minyak dan BBM, meningkatkan kebutuhan devisa, menekan neraca perdagangan migas, dan pada akhirnya dapat memberikan tekanan terhadap rupiah.
Harga minyak yang tinggi juga dapat meningkatkan beban fiskal apabila harga keekonomian BBM semakin jauh dari harga yang ditetapkan pemerintah. Besarnya dampak terhadap APBN akan bergantung pada durasi kenaikan harga, nilai tukar rupiah, volume impor, harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP), serta kebijakan subsidi dan kompensasi energi pemerintah.
Perdagangan Senin akhirnya memberikan sinyal kuat mengenai apa yang sedang menjadi perhatian utama pasar. Ketika Brent melonjak 4,58% menjadi US$87,38 dan WTI melesat 4,63% menjadi US$81,80 per barel dalam sehari, pasar sedang memasukkan satu risiko besar ke dalam harga minyak: Selat Hormuz belum pasti kembali normal.

