Trump Ultimatum Iran Buka Selat Hormuz, Harga Minyak WTI Melonjak di Atas 2%
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak kembali melonjak setelah Presiden AS Donald Trump mengultimatum Iran untuk membuka Selat Hormuz paling lambat Selasa, atau menghadapi serangan militer terhadap infrastruktur vital.
Baca Juga
Trump Ultimatum Iran: Membuka Selat Hormuz dalam 24 Jam atau “Neraka Turun dari Langit”
Dikutip dari CNBC, minyak mentah AS jenis West Texas Intermediate naik 2,35% ke US$114,16 per barel pada Minggu (5/4/2026), sedangkan minyak Brent menguat 1,72% ke US$110,91 per barel. Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik yang mengancam pasokan energi global.
Dalam pernyataan keras di media sosial, Trump memperingatkan Iran akan “hidup dalam neraka” jika tidak membuka jalur tersebut. Ia bahkan mengancam akan membombardir pembangkit listrik dan jembatan di Iran.
Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia ke pasar global, sebelumnya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Penutupan jalur ini akibat serangan terhadap kapal tanker telah memicu disrupsi pasokan terbesar dalam sejarah modern.
Menurut TD Securities, hampir 1 miliar barel minyak akan ‘hilang’ hingga akhir bulan, terdiri atas sekitar 600 juta barel minyak mentah dan 350 juta barel produk olahan.
“Dengan konflik yang diperkirakan akan berlangsung setidaknya hingga pertengahan April, perhitungan barel menjadi semakin suram,” tulis Ryan McKay, ahli strategi komoditas senior di TD Securities, dalam catatan kepada klien, seperti dikutip CNBC.
Rapidan Energy memperkirakan total kerugian bersih sebesar 630 juta barel minyak dan produk pada akhir Juni, dengan memperhitungkan pengalihan aliran melalui pipa, pelepasan stok darurat, dan pengurangan persediaan.
Menurut Ryan Mckay, dengan konflik yang diperkirakan berlangsung hingga April, perhitungan pasokan menjadi semakin suram.
Baca Juga
OPEC+ Tambah Produksi, tapi Tak Mampu Redam Lonjakan Harga Minyak
Sementara itu, OPEC+ tetap berupaya meredam krisis dengan menaikkan produksi 206.000 barel per hari untuk Mei. Namun, efektivitasnya diragukan karena jalur distribusi utama masih tertutup.

