Iran Isyaratkan Jalur Aman Terbatas Hormuz, Harga Minyak Turun Lebih dari 2%
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia turun pada Rabu (25/3/2026) setelah muncul sinyal diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran, serta indikasi bahwa Teheran akan mengizinkan kapal “non-hostile” melintasi Selat Hormuz.
Baca Juga
Iran Buka Ruang Negosiasi Damai, Israel Justru Tingkatkan Serangan
Dikutip dari CNBC, minyak mentah Brent anjlok 2,2% ke level US$102,22 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) juga turun 2,2% ke US$90,32 per barel.
Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Washington dan Teheran “sedang bernegosiasi saat ini,” dan mengindikasikan Iran menunjukkan minat untuk mencapai kesepakatan damai—meski Iran sendiri membantah adanya pembicaraan langsung.
Trump juga menyatakan telah menahan rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran sebagai bagian dari upaya diplomasi.
Laporan media menyebut AS telah mengajukan proposal 15 poin kepada Iran melalui Pakistan. Namun belum jelas apakah proposal tersebut didukung oleh Israel, yang juga terlibat dalam serangan terhadap Iran.
Di tengah dinamika ini, Iran menegaskan bahwa kapal-kapal “non-hostile” dapat melintasi Selat Hormuz dengan koordinasi tertentu. Dalam beberapa hari terakhir, kapal dari China, India, dan Pakistan dilaporkan telah melintas, menandakan kontrol Iran atas jalur tersebut.
Meski demikian, pejabat militer Iran memperingatkan volatilitas harga minyak akan tetap tinggi hingga stabilitas kawasan benar-benar tercapai.
Gangguan di Selat Hormuz sejak serangan militer AS dan Israel pada 28 Februari telah menghambat ekspor energi global secara signifikan. Jalur ini biasanya mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dan LNG dunia, menjadikannya titik krusial perdagangan global.
Baca Juga
Iran-Israel Tetap Saling Serang di Tengah Ketidakpastian, Harga Minyak Tembus US$100
Goldman Sachs menilai gangguan saat ini merupakan salah satu yang terbesar dalam beberapa dekade jika diukur terhadap pasokan global. Bank tersebut menekankan bahwa pergerakan harga kini lebih dipengaruhi oleh risiko geopolitik dibanding fundamental permintaan-penawaran.
Harga minyak saat ini mencerminkan premi risiko geopolitik, seiring investor melakukan lindung nilai terhadap kemungkinan skenario terburuk, termasuk gangguan berkepanjangan dan stok yang menipis.
Goldman memperkirakan skenario dasar menunjukkan arus minyak melalui Selat Hormuz akan kembali normal pada April dalam periode sekitar empat minggu.

