Pembukaan Hormuz Masih ‘Simpang Siur’, Iran Bantah Negosiasi Langsung dengan AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Harapan tercapainya kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) untuk membuka kembali Selat Hormuz mulai meredup. Iran membantah tengah melakukan perundingan langsung dengan Washington, meski pemerintahan Presiden Donald Trump sebelumnya mengisyaratkan kesepakatan dapat segera tercapai.
Baca Juga
Kapal ADNOC Dihantam Rudal, Ketegangan Hormuz Memuncak di Tengah Tarik-Ulur Kesepakatan Iran-AS
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Teheran saat ini tidak melakukan pembicaraan langsung dengan AS untuk mengakhiri perang maupun membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.
Namun, Araghchi mengakui bahwa komunikasi tetap berlangsung melalui pihak ketiga. Menurut kantor berita Mehr, pesan antara Iran dan AS masih dipertukarkan melalui para perantara.
“Pembicaraan dengan Oman tidak berarti Selat Hormuz akan dibuka kembali. Kesepakatan mungkin tercapai, tetapi pembukaan selat bergantung pada kondisi lain yang disampaikan melalui perantara,” kata Araghchi, dikutip dari CNBC, Senin (10/8/2026).
Oman menjadi salah satu mediator penting dalam upaya meredakan ketegangan. Negara tersebut berbatasan langsung dengan Selat Hormuz dan selama ini memainkan peran sebagai perantara dalam konflik antara Iran dan AS.
Sehari sebelumnya, Araghchi mengatakan Iran dan Oman hampir mencapai kesepakatan mengenai navigasi di kawasan tersebut, terutama terkait penentuan jalur transit kapal.
Namun, kesepakatan teknis dengan Oman belum otomatis berarti Selat Hormuz akan dibuka sepenuhnya bagi seluruh kapal.
Tuntutan Iran
Iran dilaporkan mengajukan sejumlah tuntutan besar kepada Washington sebagai syarat pembukaan kembali Selat Hormuz, menurut CNBC yang belum diverifikasi secara independen.
Sekretaris Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran Mohammad Bagher Zolghadr mengatakan AS harus mencabut blokade laut dan sanksi, menarik pasukan militernya dari kawasan, membayar kompensasi perang, serta membuka aset Iran yang dibekukan.
Teheran juga meminta AS menghentikan serangan terhadap sekutu-sekutunya di kawasan serta mengakhiri ancaman terhadap Iran.
Adanya tuntutan Iran juga menunjukkan bahwa persoalan Selat Hormuz telah berkembang menjadi bagian dari negosiasi yang jauh lebih luas mengenai sanksi, aset Iran, kehadiran militer AS, dan hubungan Tehran dengan kelompok-kelompok sekutunya di Timur Tengah.
Sebelumnya, kesepakatan sementara yang dicapai AS dan Iran pada Juni memang mencakup pembahasan mengenai jadwal pencabutan sanksi, kompensasi, serta aset Iran yang dibekukan.
Sementara itu, Iran dan Oman dilaporkan tengah menyusun skema jalur pelayaran. Kapal yang masuk akan menggunakan perairan Iran, sedangkan kapal keluar melalui perairan Oman.
Namun, rencana tersebut masih menghadapi ketidakpastian. Media pemerintah Iran sebelumnya mempublikasikan rancangan aturan yang justru akan membatasi lalu lintas di Selat Hormuz.
Baca Juga
Draft Iran Larang Kapal AS-Israel Lewati Hormuz, Washington Tolak Keras
Dalam rancangan tersebut, kapal AS dan Israel dilarang melintasi selat. Kapal dari negara lain yang dianggap telah merugikan Iran juga dapat dilarang melintas sampai kompensasi dibayarkan.
Selat Hormuz menjadi salah satu jalur energi paling penting di dunia. Sekitar seperlima pasokan energi global melewati kawasan tersebut, sehingga gangguan berkepanjangan dapat berdampak langsung terhadap harga minyak, biaya transportasi dan inflasi global.
Presiden AS Donald Trump, dalam wawancara dengan Axios pada Minggu, mengatakan Washington hanya melakukan negosiasi secara terbatas dengan Iran. “Kami hanya bernegosiasi setengah hati dengan mereka,” ujar Trump, seraya mengatakan tekanan ekonomi terhadap Iran akan membantu menyelesaikan persoalan tersebut.
Pernyataan Trump berbeda dengan komentar Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya yang mengisyaratkan kesepakatan pembukaan Selat Hormuz dengan prinsip kebebasan bergerak dapat tercapai dalam waktu dekat.

