Menlu Iran: Selat Hormuz Terbuka, tetapi Tertutup bagi Musuh
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Iran menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka untuk pelayaran internasional, namun “tertutup bagi musuh” yang terlibat dalam agresi terhadap Teheran. Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di tengah eskalasi konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang terus memanas di kawasan Timur Tengah.
“Selat Hormuz terbuka, tetapi tertutup bagi musuh kami, bagi mereka yang melakukan agresi pengecut terhadap kami dan sekutu-sekutu mereka,” kata Araghchi, seperti dilaporkan Al Jazeera, Senin (16/03/2026). Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Iran tetap menggunakan jalur pelayaran strategis itu sebagai alat tekanan geopolitik dalam konflik yang kini melibatkan banyak negara di kawasan.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia. Sekitar 20% pasokan minyak global melewati selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut. Sejak perang antara Iran melawan koalisi AS–Israel pecah pada akhir Februari 2026, lalu lintas kapal di jalur itu menurun drastis dan bahkan sempat mendekati kondisi terhenti.
Laporan lapangan menyebutkan puluhan hingga ratusan kapal kini menunggu di sekitar pintu masuk selat tersebut karena ketidakpastian keamanan. Beberapa kapal yang mencoba melintas dilaporkan menjadi sasaran serangan, termasuk kapal kargo berbendera Thailand yang terkena rudal balistik Iran, menyebabkan sebagian awak kapal harus diselamatkan dan beberapa lainnya masih dinyatakan hilang di laut.
Di sisi lain, operasi militer antara kedua pihak terus berlanjut. Pasukan Amerika Serikat dan Israel dilaporkan kembali melancarkan serangan udara ke sejumlah kota di Iran, termasuk Tehran, Hamadan, dan Isfahan. Iran juga membalas dengan serangan rudal dan drone yang menghantam beberapa wilayah Israel.
Baca Juga
Trump Peringatkan Masa Depan NATO Bisa “Sangat Buruk” Jika Sekutu Tak Bantu Amankan Selat Hormuz
Eskalasi konflik ini turut meluas ke negara-negara sekitar. Arab Saudi melaporkan sistem pertahanan udaranya berhasil menembak jatuh 11 drone dalam beberapa jam terakhir di wilayah Al-Kharj. Sementara Kuwait menyatakan berhasil mencegat empat drone dalam 24 jam terakhir tanpa korban jiwa atau kerusakan material.
Serangan dan ketegangan juga berdampak pada negara lain di kawasan. Fragmen rudal dilaporkan jatuh di kota Irbid, Yordania, menyebabkan seorang anak mengalami luka ringan. Sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026, otoritas Yordania mencatat ratusan insiden jatuhnya serpihan rudal di wilayah negara tersebut.
Ketegangan juga terlihat di Israel. Otoritas militer memperpanjang pembatasan aktivitas publik, termasuk larangan kegiatan belajar tatap muka di sebagian besar wilayah hingga pertengahan pekan. Sirene peringatan udara kembali terdengar di beberapa kota setelah Iran meluncurkan rudal yang menargetkan wilayah Israel tengah dan sekitar Yerusalem.
Di tengah konflik yang terus berkembang, harga minyak dunia sempat berfluktuasi. Kontrak minyak West Texas Intermediate (WTI) turun lebih dari 5% menjadi sekitar US$93,37 per barel, sementara minyak Brent turun menjadi sekitar US$100,28 per barel setelah muncul harapan bahwa sebagian kapal mulai kembali melintasi Selat Hormuz.
Namun demikian, Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan gangguan pasokan energi global masih menjadi risiko besar. Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan negara-negara anggota masih dapat melepaskan cadangan minyak darurat tambahan jika diperlukan, meskipun sebelumnya telah menyetujui pelepasan stok terbesar dalam sejarah organisasi tersebut.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan militer AS berusaha menghindari kerusakan infrastruktur sipil di Iran. Ia mengatakan fasilitas energi utama, termasuk jaringan pipa minyak di Pulau Kharg, sengaja tidak diserang karena dampaknya bisa membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki.
Konflik yang semakin luas ini meningkatkan kekhawatiran akan gangguan berkepanjangan terhadap perdagangan energi global. Dengan posisi Selat Hormuz sebagai jalur vital bagi minyak dunia, setiap eskalasi di kawasan tersebut berpotensi mengguncang stabilitas pasar energi dan ekonomi global.

