Harga Bitcoin Berpotensi Sentuh US$ 40.000, Pemulihan Diprediksi Mundur ke 2027
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Harga Bitcoin kembali menunjukkan tekanan signifikan setelah menghapus seluruh kenaikan selama Maret 2026. Secara bulanan, aset kripto terbesar ini tercatat turun 1,40%, sementara sepanjang kuartal I 2026 telah terkoreksi hingga 24,6%. Melirik CoinMarketCap pada Minggu (29/3/2026) pukul 06.48 WIB, harga Bitcoin berada di level US$ 66.296,66 atau naik tipis 0,02% dalam 24 jam terakhir.
Melansir CoinTelegraph, Minggu (29/3/2026), sejumlah analisis menilai koreksi ini belum selesai dan berpotensi berlanjut hingga akhir 2026. Bahkan, dalam skenario ekstrem, harga Bitcoin diperkirakan masih bisa turun hingga 40% dari level saat ini.
Baca Juga
Bitcoin di Bawah US$ 66.000, Tertekan Sentimen Inflasi AS dan Geopolitik
Mitra pengelola CMCC Crest Willy Woo menilai, likuiditas, baik di pasar spot maupun derivatif saat ini tengah melemah. Ia memperkirakan fase bearish masih akan berlanjut, dengan potensi harga Bitcoin turun ke kisaran US$ 40.000 hingga US$ 45.000 sebagai dasar pasar (bear market floor).
“Rezim yang lebih luas sangat bearish dengan likuiditas spot dan berjangka yang memburuk,” ujarnya.
Penurunan yang lebih dalam ini berimplikasi pada waktu pemulihan yang lebih panjang. Berdasarkan pola historis, pemulihan harga Bitcoin baru berpotensi terjadi pada kuartal II 2027.
Data dari Ecoinometrics menunjukkan adanya korelasi kuat antara kedalaman penurunan harga (drawdown) dengan lamanya waktu pemulihan. Setiap tambahan penurunan sebesar 10% secara historis menambah sekitar 80 hari untuk kembali ke level tertinggi sebelumnya.
Saat ini, Bitcoin telah mengalami drawdown sekitar 48% dari puncaknya di level US$ 126.000 pada Oktober 2025. Dengan kondisi tersebut, estimasi waktu pemulihan berada di kisaran 300 hari sejak puncak harga.
Sekitar 172 hari telah berlalu, menyisakan estimasi 125 hingga 130 hari tambahan, dengan asumsi level terndah siklus sudah tercapai di US$ 60.000. Namun, sejumlah indikator menunjukkan titik terendah itu kemungkinan belum terbentuk.
Indikator siklus belum menyentuh dasar
Salah satu indikator utama, Bitcoin COmbined Market Index (BCMI), saat ini berada di level 0,27. Angka ini masih jauh di atas level 0,15 yang secara historis menandai titik terendah siklus sejak 2018.
Sebagai perbandingan, pada 2018 BCMI di 0,15 saat harga menyentuh US$ 3.100, lalu pada 2020 BCMI di 0,17 pada level US$ 5.100, kemudian pada 2022 BCMI di 0,12 saat harga berada di US$ 15.880.
Dengan posisi BCMI yang masih relatif tinggi, penurunan lanjutan dinilai masih mungkin terjadi sebelum pasar mencapai fase kapitulasi.
Baca Juga
Bitcoin Tertekan 25% Sepanjang 2026, Gejolak Iran Picu Sentimen 'Risk Off'
Tekanan jual dari investor besar
Trader kripto Ardi mengungkapkan, selisih aktivitas antara whale dan investor ritel (whale delta vs retail delta) telah mencapai -22,13%, level terendah sejak Oktober 2024.
“Pemain besar saat ini menjual lebih agresif dibandingkan 18 bulan terakhir. Ini tidak berarti harga langsung jatuh, tetapi menunjukkan adanya tekanan jual nyata di level saat ini,” katanya.
Data tersebut mengindikasikan distribusi aset oleh investor besar masih berlangsung, yang berpotensi menahan kenaikan harga dalam jangka pendek.
Faktor makro tambah tekanan
Dari sisi makroekonomi, tekanan tambahan datang dari kebijakan suku bunga global, The Kobeissi Letter mencatat, ekspektasi penurunan suku bunga kini mundur hingga Desember 2027.
Bahkan, terdapat probabilitas 51% bahwa suku bunga justru akan kembali naik pada Maret 2027. Kondisi ini berpotensi memperlambat pemulihan aset berisiko seperti Bitcoin dibandingkan siklus sebelumnya.

