Bitcoin di Bawah US$ 66.000, Tertekan Sentimen Inflasi AS dan Geopolitik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Harga Bitcoin sempat mengalami tekanan ke level di bawah US$ 66.000, di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi Amerika Serikat (AS) yang dinilai tak berkelanjutan.
Melansir CoinTelegraph, Sabtu (28/3/2026), data TradingView sempat mencatat harga Bitcoin turun hampir 4% dalam sehari. Penurunan ini juga membuka peluang Maret menjadi bulan keenam berturut-turut Bitcoin ditutup di zona merah, kondisi yang terakhir kali terjadi setelah pasar bearish 2018.
Tekanan terhadap aset berisiko, termasuk kripto, dipicu oleh kombinasi sentimen makroekonomi dan geopolitik. Kondisi pasar saham AS melemah setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, termasuk penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.
Situasi itu memperburuk ekspektasi inflasi, mengingat harga energi memiliki kontribusi besar terhadap tekanan harga di AS. Di saat yang sama, pasar mulai memperhitungkan risiko resesi yang diperkirakan dapat terjadi pada 2026.
Baca Juga
Bitcoin Tertekan 25% Sepanjang 2026, Gejolak Iran Picu Sentimen 'Risk Off'
Laporan dari The Kobeissi Letter menyebut, pasar obligasi AS tengah berada dalam tekanan signifikan. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun tercatat naik ke level tertinggi sejak konflik berlangsung, menciptakan tantangan tambahan bagi bank sentral AS.
“Kondisi ini menjadi dilema bagi The Fed, karena di satu sisi pasar tenaga kerja masih lemah, namun di sisi lain ekspektasi inflasi justru meningkat tajam,” tulis laporan tersebut.
Pasar bahkan telah berbalik arah dari ekspektasi penurunan suku bunga menjadi kemungkinan pengetatan atau setidaknya penahanan suku bunga dalam jangka panjang. Dalam skenario dasar, kebijakan suku bunga diperkirakan akan berada dalam posisi ‘pause’ hingga 18 bulan ke depan.
Di pasar kripto, tekanan teknikal juga semakin terlihat. Analis dari komunitas perdagangan Technical Crypto Analyst menilai, Bitcoin telah menembus tren naik jangka pendek dan kini menunjukkan pola lower high di bawah area suplai US$ 70.000 - US$ 72.000.
Baca Juga
JPMorgan Sebut Bitcoin Lebih Kuat dari Emas dan Perak di Tengah Gejolak Geopolitik
Dengan hilangnya level support di kisaran US$ 68.000, harga berpotensi melanjutkan penurunan menuju area permintaan di US$ 64.000 - US$ 65.000. Sementara itu, pemulihan di atas US$ 70.000 dinilai menjadi syarat utama untuk membatalkan tren bearish jangka pendek.
Melirik CoinMarketCap, saat ini harga Bitcoin berada di level US$ 66.298,76 pada Sabtu (28/3/2026), pukul 12.56 WIB, atau menurun 3,19% dalam 24 jam terakhir. Dini hari tadi, harga Bitcoin sempat anjlok ke level US$ 65.539,18 pada pukul 01.25 WIB.

