Bitcoin Diprediksi Sentuh Rekor Baru US$ 125.000 di 2026, Ini Pendorongnya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bitcoin digadang-gadang bakal menyentuh kembali rekor baru tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) di level US$ 125.000 pada 2026. Prediksi bertabur optimisme itu didorong sejumlah sentimen.
Prediksi bahwa Bitcoin bakal kembali menembus US$ 125.000 disampaikan Chief Executive Officer (CEO) & Founder Triv, Gabriel Rey saat ditemui dalam acara F.I.R.E Scholarship Press Conference 2026 di Glass House Habitate Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Sentimen yang bakal mendorong Bitcoin menembus ATH, menurut Gabriel Rey, di antaranya eskalasi ketegangan politik di AS yang akan memaksa perubahan haluan kebijakan moneter secara drastis. Angka US$ 125.000 merupakan target minimal jika skenario penurunan suku bunga secara paksa benar-benar terealisasi.
"Ketika suku bunga diturunkan, otomatis harga akan naik. Ini tinggal masalah kapan terjadi penurunan suku bunga. Dalam jangka menengah, ini sangat possible terjadi pada 2026. Paling minim, Bitcoin kembali menyentuh ATH-nya di US$ 125.000," ujar Rey.
Baca Juga
Bitcoin Tembus US$ 97.000, Melesat 10% Secara 'Year To Date'
Gabriel Rey menjelaskan, dunia finansial tengah menyoroti peristiwa yang dianggap sebagai sejarah baru dalam pemerintahan AS, di mana Ketua Federal Reserve, Jerome Powell menghadapi upaya kriminalisasi.
Dia menambahkan, pemanggilan resmi Powell oleh Jaksa AS yang dikenal memiliki kedekatan dengan Donald Trump menandai adanya tekanan besar dari administrasi presiden terhadap independensi bank sentral.
Gabriel Rey mengungkapkan, tindakan terhadap Powell merupakan strategi Trump untuk menekan The Fed agar segera menurunkan suku bunga demi kepentingan pertumbuhan ekonomi jangka pendek. Target ambisius dari manuver politik ini adalah membawa suku bunga turun hingga level 1%.
"Dalam jangka menengah, suku bunga 1% itu bukan pertanyaan ya atau tidak, tapi kapan terjadinya, karena Trump maunya suku bunga ini turun menjadi 1%," ungkap Rey.
Gabriel Rey memprediksi penurunan suku bunga secara agresif terjadi pada 2026. Dengan turunnya suku bunga, pasar akan berlimpah likuiditas. Hal itu bakal memicu kenaikan harga aset berisiko, seperti saham S&P 500 dan kripto.
Baca Juga
Venezuela Dikabarkan Simpan 600.000 Bitcoin, Risiko 'Supply Shock' Mencuat
"Ketika kita melihat suku bunga ini turun menjadi 1%, otomatis apa yang terjadi? Ini sudah hukum alam di mana-mana, Bitcoin pasti naik, S&P 500 pasti naik," tegas Rey.
Trump vs Powell
Selain tekanan kebijakan, kata dia, rencana pergantian kepemimpinan The Fed menjadi sorotan utama. Powell diperkirakan diganti sekitar Mei atau Juni mendatang, dengan kandidat terkuat yang berasal dari lingkaran dalam Trump.
Jika pergantian ini terealisasi, menurut Gabriel Rey, arah kebijakan moneter AS diprediksi jauh lebih akomodatif dan pro-pasar. Hal itu semakin memperkuat fondasi aset digital untuk terus meroket tanpa hambatan kebijakan pengetatan moneter.
Dia mengemukakan, sentimen positif itu kian diperkuat oleh data total dana kelolaan (assets under management/AUM) institusi besar, seperti BlackRock dan Fidelity yang terus menunjukkan peningkatan.
“Fenomena ini mengindikasikan bahwa smart money atau investor institusional terus melakukan akumulasi Bitcoin meskipun pasar sempat mengalami fluktuasi,” tutur dia.
Menurut Gabriel Rey, sentimen penolang lainnya yaitu aksi korporasi seperti MicroStrategy yang terus menambah kepemilikan Bitcoin mereka hingga melampaui 600 ribu unit. Hal itu menunjukkan kepercayaan jangka panjang yang sangat kuat.
Baca Juga
Dukungan terhadap ekosistem kripto juga merambah ranah personal dan pemerintahan lokal di AS. Pengumuman pembelian Bitcoin secara terbuka oleh Eric Trump, putra Donald Trump, dianggap sebagai sinyal kuat bahwa kebijakan keluarga kepresidenan tidak akan merugikan kepentingan aset tersebut.
"Sejelek-jeleknya seorang ayah, nggak mungkin bikin rugi anaknya. Jadi, itulah policy-policy yang dilakukan oleh Trump, yang pasti akan mendukung pertumbuhan harga Bitcoin," kata Rey.
Di tingkat negara bagian, kata Rey, Texas telah mencetak sejarah sebagai negara bagian pertama di AS yang secara resmi membeli Bitcoin. "Jadi dengan fundamental-fundamental ini, saya termasuk orang yang percaya tidak ada siklus empat tahunan lagi. Di 2026 ini kita akan masuk ke dalam lengthening cycle,” ucap dia.
Kendati proyeksi menunjukkan tren bullish yang kuat menuju 2026, para investor tetap diingatkan agar memperhatikan risiko eksternal. “Kembali lagi, ini disclaimer on, not financial advice, dan bisa juga analisis ini salah apabila terjadi black swan, seperti tiba-tiba terjadi wabah baru atau faktor lainnya yang kita tidak tahu," papar Rey.

