Bitcoin di Momen Imlek Selalu Untung, Analis : BTC Berpotensi Kembali Sentuh Rekor Baru di 2025
JAKARTA, investortrust.id - Jelang penutupan buan Januari di awal tahun 2025, Penguatan harga Bitcoin (BTC) dan juga alternative coin (altcoin) terus berlanjut. Menilik data Coinmarketcap, Jumat (31/1/2025) pukul 05.15 WIB, BTC tengah terpantau menguat 1,49% ke US$ 105.099. Ethereum (ETH), XRP, Solana (SOL), dan BNB juga mengalami kenaikan, masing-masing 3,56%, 1,34%, 2,64%, dan 1,27%.
Kapitalisasi pasar kripto global saat ini menjadi US$ 3,57 triliun, meningkat 1,85% dari hari terakhir. Total volume pasar kripto selama 24 jam terakhir adalah US$ 110,78 miliar, yang berarti penurunan 10,45%. Dominasi Bitcoin saat ini adalah 58,24%, penurunan 0,25% dari hari ini.
Melansir Cryptonewsland, Jumat (31/1/2025) Bitcoin (BTC) terus meningkat selama Tahun Baru Imlek, menghasilkan keuntungan 11 dari 12 tahun terakhir. Data dari Matrixport mengungkap tren di mana pembelian Bitcoin 10 hari sebelumnya dan menahannya selama 10 hari setelahnya sering kali menghasilkan keuntungan. Satu-satunya tahun dengan pengembalian negatif adalah di 2014, yang menyoroti penyimpangan langka dalam kinerjanya.
Pada tahun 2012, Bitcoin naik 45,2% selama periode Imlek, awal terkuatnya dalam kumpulan data. Namun, tahun 2014 merupakan anomali, karena Bitcoin turun 22,3%, menjadikannya satu-satunya tahun dengan kerugian selama jangka waktu ini.
Kripto tersebut mengalami pertumbuhan yang stabil pada tahun-tahun berikutnya. Bitcoin naik 17,5% pada tahun 2015 dan 11,5% pada tahun 2016, menunjukkan keuntungan yang moderat tetapi dapat diandalkan. Pada tahun 2017, pengembalian meningkat menjadi 21,3%, dan tahun 2018 menghasilkan peningkatan sebesar 38,5%, yang semakin memperkuat tren kinerja positif ini.
Baca Juga
Sepekan, Aliran Modal ke ETF Bitcoin di AS Capai Rp 27 Triliun
Dua tahun berikutnya membawa hasil yang tenang karena nilai Bitcoin tetap relatif stabil. Pada tahun 2019, Bitcoin hanya tumbuh 0,7%, sementara pada tahun 2020 mengalami keuntungan yang sedikit lebih baik sebesar 6,1%. Tahun-tahun yang lebih tenang ini mendahului kenaikan Bitcoin yang bersejarah pada tahun 2021 ketika ia membukukan kenaikan yang luar biasa sebesar 70,9% selama periode yang sama, menandai kinerja tertingginya yang pernah ada.
Dalam beberapa tahun terakhir, Bitcoin terus menunjukkan kinerja positif selama Tahun Baru Imlek. Bitcoin naik 15,6% pada tahun 2022, diikuti oleh 25,7% pada tahun 2023. Data terbaru dari tahun 2024 menunjukkan peningkatan yang solid sebesar 22,8%, yang mencerminkan pertumbuhan yang konsisten selama periode ini.
Baca Juga
Robert Kiyosaki Ungkap 2 Alasan Kenapa Bitcoin Lebih Unggul dari Dolar AS
Pola berulang ini mungkin didorong oleh aktivitas perdagangan yang meningkat selama Tahun Baru Imlek, terutama karena investor ritel dan likuiditas pasar meningkat sekitar waktu ini. Data menunjukkan bahwa pergerakan harga Bitcoin selama Tahun Baru Imlek sejalan dengan dinamika dan momentum pasar yang lebih luas.
Temuan Matrixport menyoroti potensi peluang yang menguntungkan selama Tahun Baru Imlek, tetapi alasan di balik tren musiman ini masih terbuka untuk ditafsirkan. Pengamat pasar Ash Crypto membagikan pemikirannya di Twitter, dengan mengatakan bahwa Bitcoin telah menunjukkan pengembalian positif dalam 11 dari 12 tahun terakhir. Temuan ini menunjukkan suatu periode dalam kalender pasar, yang menunjukkan bagaimana kinerja historis dapat memandu strategi investasi di masa mendatang.
Ekspektasi Pasar Kripto
Secara terpisah, trader Tokocrypto Fyqieh Fachrur menilai bahwa keputusan The Fed yang menahan suku bunga ini memberikan dorongan positif bagi pasar kripto, terutama Bitcoin. "Stabilitas suku bunga menciptakan lingkungan yang lebih menarik bagi investor untuk beralih ke aset berisiko tinggi seperti kripto. Investor cenderung mencari peluang di aset yang memberikan imbal hasil lebih besar, terutama dalam kondisi di mana ekspektasi pemangkasan suku bunga masih belum pasti," jelasnya dalam siaran pers, dikutip Jumat (31/1/2025).
Lebih lanjut, Fyqieh menyoroti bahwa pola pergerakan Bitcoin saat ini menunjukkan indikasi breakout dari pola bull flag, yang berpotensi membawa harga BTC ke level US$ 116.000 atau sekitar Rp 1,88 miliar dalam beberapa sesi mendatang. "Jika BTC mampu mempertahankan level di atas US$ 105.000, maka kita bisa melihat momentum bullish yang lebih kuat," tambahnya.
Salah satu faktor utama yang mendukung kenaikan Bitcoin adalah menurunnya daya tarik investasi di instrumen pendapatan tetap. Dengan suku bunga yang stabil, investor cenderung mencari alternatif dengan potensi keuntungan lebih tinggi, seperti ekuitas dan kripto. Di sisi lain, pasar ETF Bitcoin-spot di AS juga menunjukkan arus masuk bersih sebesar US$ 120,4 juta pada 29 Januari, menandakan meningkatnya minat investor institusional. Namun, kebijakan kripto dari pemerintah AS juga menjadi faktor yang perlu dicermati. Perintah eksekutif terbaru Presiden Donald Trump terkait aset digital membentuk Kelompok Kerja Kepresidenan tentang pasar aset digital. Hal ini memunculkan spekulasi tentang kemungkinan pembentukan Cadangan Bitcoin Strategis (SBR) oleh pemerintah AS.
Senator Cynthia Lummis juga telah mengajukan Undang-Undang Bitcoin, yang mengusulkan pembelian 1 juta BTC oleh pemerintah AS selama lima tahun. Jika regulasi ini disahkan, maka keseimbangan pasokan-permintaan Bitcoin akan berubah signifikan.
Meski Bitcoin mengalami reli dalam beberapa hari terakhir, investor masih mengamati berbagai faktor yang dapat mempengaruhi pergerakan pasar. Salah satu perhatian utama adalah kemungkinan tekanan politik terhadap The Fed di bawah kepemimpinan Trump. Beberapa analis memperkirakan bahwa Trump bisa mendorong kebijakan moneter yang lebih akomodatif untuk menurunkan suku bunga, meskipun Powell menegaskan independensi The Fed.
Selain itu, perkembangan di sektor derivatif juga memberikan sentimen positif bagi pasar. CME Group berencana memperkenalkan produk berjangka Bitcoin dan Ether di platform Robinhood, sementara SEC sedang mengevaluasi berbagai proposal ETF kripto, termasuk yang berfokus pada memecoin.
"Secara teknikal, pergerakan Bitcoin menunjukkan potensi kenaikan lebih lanjut. Breakout dari pola bull flag memberikan indikasi bahwa BTC bisa mencapai level rekor baru dalam beberapa bulan ke depan. Jika sentimen pasar tetap positif dan tidak ada hambatan regulasi yang signifikan, maka tahun 2025 bisa menjadi momentum bagi Bitcoin untuk mencapai titik tertinggi sepanjang masa," kata Fyqieh.
Keputusan The Fed untuk menahan suku bunga telah memberikan angin segar bagi pasar kripto, dengan Bitcoin mengalami kenaikan signifikan. Sentimen investor juga semakin kuat dengan arus masuk ke ETF Bitcoin-spot dan potensi kebijakan kripto yang lebih akomodatif di bawah pemerintahan Trump.
Menurut Fyqieh, keberlanjutan momentum bullish Bitcoin sangat bergantung pada kemampuannya mempertahankan level kunci di atas US$ 105.000. Jika berhasil, BTC bisa menuju target harga US$ 116.000 dan bahkan lebih tinggi. Dengan berbagai faktor pendukung yang ada, pasar kripto bisa terus mengalami pertumbuhan positif dalam waktu dekat.

