Bitcoin Tertekan 25% Sepanjang 2026, Gejolak Iran Picu Sentimen 'Risk Off'
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Harga Bitcoin (BTC) terus berada dalam tekanan sepanjang 2026 seiring meningkatnya ketegangan geopolitik dengan Iran, lonjakan harga minyak, serta pergeseran sentimen investor ke aset aman seperti emas. Dalam kondisi tersebut, pelaku pasar juga mencermati arus keluar bersih dari ETF bitcoin spot dan pelemahan minat investor ritel.
Mitra pengelola The Future Funds Gary Black mengatakan, tekanan terhadap Bitcoin saat ini merupakan kombinasi dari faktor makroekonomi, deleveraging, dan perubahan sentimen pasar menuju penghindaran risiko. Menurut dia, kondisi itu berpotensi memicu koreksi berkepanjangan seperti yang pernah terjadi pada 2022.
“Setelah penurunan Bitcoin sebesar -75% dari US$66.100 pada November 2021 menjadi US$15.600 pada November 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina, Bitcoin membutuhkan waktu dua setengah tahun hingga Maret 2024 untuk sepenuhnya memulihkan kerugiannya,” ujar Black dalam unggahan media sosial, dikutip Sabtu (28/3/2026).
Ia menyebut, Bitcoin telah turun tajam dari level puncaknya hingga berada di kisaran US$ 65.900. Penurunan itu, kata dia, diperparah oleh tingginya minat terbuka di pasar berjangka yang memicu likuidasi beruntun saat harga bergerak turun.
Baca Juga
JPMorgan Sebut Bitcoin Lebih Kuat dari Emas dan Perak di Tengah Gejolak Geopolitik
Menurut Black, miliaran dolar posisi beli terhapus dalam beberapa gelombang, sehingga memperbesar tekanan jual di luar faktor fundamental. Likuidasi paksa tersebut juga membuat kondisi likuiditas pasar semakin tipis dan memperkuat momentum negatif.
Di sisi lain, meningkatnya ketegangan dengan Iran telah mendorong harga minyak naik dan memicu kekhawatiran inflasi global. Kondisi itu membuat investor beralih ke aset safe haven seperti emas, yang justru menguat ketika Bitcoin melemah.
Pada saat yang sama, dolar Amerika Serikat (AS) menguat, Federal Reserve memberi sinyal hawkish, dan imbal hasil obligasi pemerintah meningkat. Kombinasi itu menekan aset berisiko, termasuk BTC dan saham teknologi, karena arus modal beralih ke instrumen yang dinilai lebih aman.
Black menambahkan, setelah sempat menopang reli pasar kripto pada 2025, ETF Bitcoin spot kini mencatat arus keluar bersih signifikan. Menurut dia, hal itu mencerminkan aksi ambil untung, batas toleransi penurunan harga, serta menurunnya selera risiko investor di tengah volatilitas pasar.
Dari sisi investor ritel, sentimen terhadap Bitcoin juga disebut berada di wilayah sangat bearish. Hal itu tercermin dari rendahnya volume percakapan pasar, yang menunjukkan minat pelaku ritel belum pulih di tengah tekanan harga.
Secara year to date, BTC tercatat telah melemah sekitar 25% sepanjang 2026. Pelemahan ini memperlihatkan bahwa aset kripto terbesar di dunia itu masih sangat sensitif terhadap perubahan lanskap makroekonomi global, dinamika geopolitik, dan pergeseran preferensi investor terhadap aset aman.
Baca Juga
Anak Menkeu Purbaya Prediksi Bitcoin Bisa Tembus US$ 80.000 di April - Mei
Berdasarkan pantauan data CoinMarketCap, Sabtu (28/3/2026) pukul 07.35 WIB harga BTC tercatat berada dalam tekanan dalam perdagangan 24 jam terakhir. BTC turun 3,34% ke level US$ 66.420.
Sejalan dengan pelemahan harga, kapitalisasi pasar bitcoin juga menyusut 3,32% menjadi US$1,32 triliun. Meski demikian, aktivitas perdagangan justru meningkat, tercermin dari volume transaksi 24 jam yang naik 18,15% menjadi US$ 46,04 miliar.
Kenaikan volume di tengah penurunan harga menunjukkan tekanan jual masih cukup kuat di pasar. Rasio volume terhadap kapitalisasi pasar tercatat sebesar 3,47%, menandakan aktivitas transaksi berlangsung relatif tinggi saat harga bergerak di zona merah.
Dari sisi valuasi, fully diluted valuation (FDV) bitcoin berada di level US$1,39 triliun. Sementara itu, total pasokan bitcoin tercatat 20 juta BTC, dengan pasokan maksimum tetap 21 juta BTC. Adapun jumlah pasokan beredar juga berada di kisaran 20 juta BTC.
Data tersebut juga menunjukkan kepemilikan treasury holdings mencapai 1,17 juta BTC. Di sisi lain, grafik pergerakan intraday memperlihatkan bitcoin sempat bergerak melemah tajam sebelum memangkas sebagian kerugian, meski hingga akhir periode 24 jam masih berada di bawah tekanan.
Pergerakan ini menegaskan bahwa bitcoin masih menghadapi volatilitas tinggi, dengan sentimen pasar yang cenderung berhati-hati di tengah meningkatnya aktivitas perdagangan.

