Dari MSCI hingga Mundurnya Pimpinan OJK, Berikut Kronologi Krisis Pasar Saham RI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pasar modal Indonesia mengalami tekanan hebat sepanjang 27–30 Januari 2026, dipicu oleh kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan sementara proses peninjauan dan rebalancing saham Indonesia dalam indeks global.
Tekanan dahsyat tersebut membuat penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) BEI pekan ini mencapai 621 poin (6,94%) menjadi 8.329. Koreksi tersebut menjadi penurunan mingguan IHSG BEI terparah dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga
Mengapa MSCI Bisa Merontokkan IHSG hingga 15% dalam Dua Hari Ini? Ini Penjelasan Lengkapnya
Penurunan tersebut membuat kapitalisasi pasar (market cap) BEI menguap Rp 1.197 triliun menjadi Rp 15.046 triliun hanya dalam sepekan. Tak hanya itu, pemodal asing terpantau merealisasikan penjualan bersih (net sell) saham jumbo mencapai Rp 13,92 triliun pekan ini.
Berikut kronologi lengkap krisis pasar modal Indonesia dalam periode tersebut:
Selasa, 27 Januari 2026 (Waktu Global)
MSCI mengumumkan pembekuan sementara (interim freeze) atas proses review dan rebalancing saham-saham Indonesia dalam indeks globalnya. Dalam pengumuman tersebut, MSCI menyampaikan kekhawatiran serius terkait transparansi struktur kepemilikan saham atau free float serta indikasi praktik perdagangan terkoordinasi yang dinilai mengganggu mekanisme pembentukan harga yang wajar (fair price discovery).
Baca Juga
MSCI memberikan waktu kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) dan otoritas pasar modal Indonesia untuk melakukan perbaikan. Jika tidak terdapat perbaikan yang memadai, MSCI membuka peluang penurunan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi frontier market pada Mei 2026. Pengumuman tersebut dirilis pada waktu global (New York) dan belum berdampak langsung terhadap pasar domestik hingga pembukaan perdagangan bursa keesokan harinya.
Sebelumnya, pada September 2025, MSCI telah mengumumkan rencana perubahan signifikan dalam metodologi perhitungan free float khusus untuk pasar saham Indonesia. MSCI mengusulkan perhitungan free float didasarkan pada angka terendah dari dua sumber data, yakni data resmi perusahaan seperti laporan tahunan dan siaran pers, serta estimasi kepemilikan saham dari KSEI.
Rabu, 28 Januari 2026
Pada pembukaan perdagangan saham Rabu (28/1/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka anjlok 586 poin atau 6,53% ke level 8.393 setelah pengumuman MSCI yang membekukan review saham domestik dalam MSCI Investable Market Indexes. Seluruh saham tercatat mengalami penurunan.
Memasuki perdagangan sesi II, tepatnya pukul 13.43 WIB, panic selling saham makin gencar hingga memaksa BEI menerapkan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) selama 30 menit akibat penurunan IHSG sebanyak 718 poin atau 8% ke level 8.261. Pada akhir perdagangan, IHSG ditutup melemah 659,67 poin atau 7,35% ke posisi 8.320, dengan rentang pergerakan 8.187–8.980 dan nilai transaksi mencapai Rp 43,16 triliun.
Kamis, 29 Januari 2026 (Pagi)
Tekanan terhadap pasar saham berlanjut setelah Goldman Sachs menurunkan peringkat pasar saham Indonesia menjadi “underweight”. Goldman memperingatkan potensi arus keluar modal hingga US$ 13 miliar apabila Indonesia turun status dari emerging market menjadi frontier market.
Sentimen tersebut mendorong IHSG pada pembukaan perdagangan Kamis (29/1/2026) kembali melemah 292,73 poin atau 3,52% ke level 8.027. Pada pukul 09.26 WIB, penurunan IHSG semakin dalam hingga mencapai 8% sehingga BEI kembali menerapkan trading halt. Pembekuan perdagangan tersebut menjadi trading halt kedua dalam dua hari perdagangan berturut-turut. Setelah trading halt selama 30 menit, IHSG kembali melanjutkan pelemahan hingga anjlok 829 poin atau 10% ke level 7.489.
Kamis, 29 Januari 2026 (Siang)
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menggelar konferensi pers di Gedung BEI untuk merespons gejolak pasar. Dalam kesempatan tersebut, OJK menyampaikan sejumlah langkah penenangan pasar:
- OJK menegaskan fundamental sektor jasa keuangan nasional tetap kuat.
- Pimpinan OJK akan berkantor di BEI untuk mengawal reformasi pasar.
- BEI akan mengeluarkan peraturan ketentuan minimal free float saham dari 7,5% menjadi 15%.
- OJK juga menjanjikan percepatan reformasi pasar modal, termasuk peningkatan transparansi data investor hingga rencana demutualisasi bursa.
Baca Juga
OJK: BEI Segera Revisi Aturan Free Float Saham Jadi 15%, Pelemahan IHSG Langsung Berkurang
Kamis, 29 Januari 2026 (Sore–Malam)
Pemerintah pusat turut merespons gejolak pasar.
- Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa menegaskan kondisi fiskal dan sistem keuangan nasional tetap solid.
- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan volatilitas pasar bersifat sementara dan pemerintah berkomitmen menjaga status Indonesia sebagai emerging market melalui koordinasi lintas lembaga.
Serangkaian pernyataan resmi dari otoritas pasar modal dan pemerintah tersebut berhasil menurunkan tensi pasar. IHSG ditutup melemah 88,36 poin atau 1,06% ke level 8.232, menyempit dibandingkan tekanan pada pertengahan sesi I yang sempat mencatat penurunan lebih dari 10%.
Baca Juga
Pemerintah Naikkan Batas Investasi Dana Pensiun dan Asuransi di Pasar Modal Jadi 20%
Jumat, 30 Januari 2026
Gejolak pasar modal ini bertransformasi menjadi krisis tata kelola yang berdampak pada jajaran pimpinan industri pasar modal.
- Direktur Utama BEI Iman Rachman menjadi pejabat pertama yang menyatakan pengunduran diri dan menggelar konferensi pers usai pembukaan perdagangan saham Jumat pagi.
- Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menyampaikan surat pengunduran diri pada sore hari.
- Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Inarno Djajadi serta Deputi Komisioner OJK I. B. Aditya Jayaantara juga mengumumkan pengunduran diri bersamaan dengan Hendra Siregar.
- Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara menjadi pejabat terakhir yang mengumumkan pengunduran diri pada hari yang sama.
Baca Juga
Setelah Dirut BEI, Ketua DK OJK Mahendra dan Pengawas Pasar Modal Inarno Mundur

