Mengapa MSCI Bisa Merontokkan IHSG hingga 15% dalam Dua Hari Ini? Ini Penjelasan Lengkapnya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga saham-saham Indonesia runtuh setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) Inc. menyuarakan kekhawatiran terkait kelayakan investasi pasar modal Indonesia serta memperingatkan potensi penurunan peringkat Indonesia di indeks global.
MSCI merupakan lembaga penyusun indeks saham global yang menjadi acuan utama banyak fund manager internasional, dana pensiun, dan investor institusi besar dalam menentukan alokasi investasi lintas negara. Indeks MSCI Emerging Markets dan MSCI Global Market kerap dijadikan rujukan utama arus modal global ke pasar modal negara-negara berkembang.
Perubahan kebijakan atau peringatan dari MSCI berpotensi memicu rerating indeks dan rotasi modal internasional, terutama dari investor asing. Dampaknya langsung terasa di pasar saham Indonesia.
Baca Juga
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat anjlok hampir 15% dalam dua hari berturut-turut, hingga memicu dua kali trading halt. Penurunan harian hingga 8,8% pada Rabu (28/1/2026) tercatat sebagai penurunan satu hari terbesar dalam lebih dari sembilan bulan terakhir.
“MSCI punya banyak dana investasi, jadi bisa mengalir ke saham yang masuk indeks mereka. Sementara mental investor domestik masih banyak yang panik ketika asing jual saham-saham Indonesia,” ujar Co-Founder AP Trading Insight Singapore, Kiswoyo Adi Joe, kepada investortrust.id, Kamis (29/1/2026).
Aksi jual masif terjadi setelah MSCI menyatakan akan menghentikan sementara sejumlah perubahan indeks, termasuk penambahan saham, hingga regulator mampu menjawab kekhawatiran terkait kepemilikan saham yang terkonsentrasi pada perusahaan tercatat.
Isu utama yang menjadi sorotan adalah free float, atau jumlah saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan di pasar. MSCI menilai banyak perusahaan besar di Indonesia diperdagangkan secara terbatas dan dikendalikan oleh segelintir pemegang saham.
Baca Juga
Dalam pernyataan resminya pada Rabu (29/1/2026), MSCI menyebut keputusannya dilatarbelakangi oleh “masalah kelayakan investasi fundamental” serta kekhawatiran investor terhadap upaya terkoordinasi yang berpotensi mendistorsi harga saham.
“Pembekuan MSCI adalah tembakan peringatan, bukan vonis. Pasar sudah mulai memperhitungkan kemungkinan hasil negatif, yang menjelaskan tekanan pada saham-saham Indonesia dengan bobot besar di indeks,” ujar Kepala Divisi Prime Brokerage Maybank Securities Singapura, Tareck Horchani, dikutip dari Bloomberg.
Sebagai respons, BEI menyatakan komitmen untuk memenuhi seruan MSCI terkait peningkatan transparansi dan akan bekerja sama untuk mencapai konsensus. Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyebutkan rencana konsultasi dengan pelaku pasar mengenai tingkat free float yang ideal.
Baca Juga
BEI Jelaskan Isu Free Float Saham yang Menjadi Sorotan MSCI, Buka Peluang Meniru India
Jika Indonesia gagal menunjukkan kemajuan signifikan dalam transparansi hingga Mei 2026, MSCI akan meninjau kembali status aksesibilitas pasar modal Indonesia. Langkah ini berpotensi mengurangi bobot seluruh saham Indonesia di MSCI Emerging Markets Index, bahkan membuka peluang penurunan status menjadi frontier market.
Pada perdagangan Rabu (28/1/2026), aksi jual investor asing mencapai Rp20,9 triliun, sementara investor domestik mencatatkan outflow Rp24,6 triliun. Saham-saham yang tertekan paling dalam merupakan saham yang diperkirakan masuk dalam indeks MSCI pada tinjauan berikutnya.
Saham-saham tersebut antara lain PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Petrosea Tbk (PTRO), dan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), yang masing-masing turun hingga batas 15%.
Akibat Free Float
Pengumuman terbaru MSCI diambil setelah proses konsultasi selama berbulan-bulan, menyusul rencana untuk memperketat definisi free float bagi saham-saham Indonesia. MSCI juga mempertimbangkan penggunaan sumber data alternatif dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) guna menilai saham yang benar-benar diperdagangkan.
Jika ditemukan perbedaan signifikan antara data aktual dan laporan emiten, dana pasif berpotensi dipaksa untuk mengurangi kepemilikan. Bursa juga menyatakan akan bekerja sama dengan KSEI untuk memberikan rincian lebih jelas mengenai jenis pemegang saham, termasuk dana kekayaan negara dan hedge fund.
Regulator sebelumnya telah berupaya meredam kekhawatiran pasar dengan rencana menaikkan batas minimum free float menjadi 10%–15% dari saat ini 7,5%. Target jangka panjang BEI adalah meningkatkan free float hingga 25%, meski belum menetapkan tenggat waktu.
Baca Juga
Penurunan IHSG makin Dahsyat Capai 10% Usai Trading Halt Pertama, Trading Halt Kedua Menanti
Angka tersebut merujuk pada praktik di negara lain, seperti Hong Kong dan India yang menerapkan free float 25%, serta Thailand sebesar 15%.
Kekhawatiran terhadap dislokasi harga juga terlihat tahun lalu ketika IHSG mengungguli Indeks MSCI Indonesia dengan selisih rekor. Banyak saham yang diperdagangkan tipis dinilai sulit dilacak oleh manajer investasi global.
Rata-rata manajer investasi reksa dana dan passive fund manager menilai tolok ukur tersebut tidak lagi representatif, sehingga mendorong peralihan ke indeks MSCI dengan kriteria yang lebih ketat.
Baca Juga
Perdagangan Saham kembali Terkena Trading Halt, SRO dan OJK Siap Beri Keterangan
Sebelum kejatuhan tajam pekan ini, kinerja saham Indonesia juga tertinggal dari pasar Asia Tenggara lainnya. Awal tahun ini, tolok ukur Indonesia hanya naik 2,7%, dibandingkan kenaikan 5,3% pada Indeks MSCI ASEAN.
Jika penurunan peringkat benar-benar terjadi, dampaknya terhadap arus dana pasif global diperkirakan signifikan. Manajer Portofolio Franklin Templeton Global Investments, Yiping Liao, menyatakan partisipasi asing di pasar Indonesia telah berkurang akibat kekhawatiran makroekonomi dan kebijakan. “Tanpa mengasumsikan perubahan lain di sekitarnya, ini tentu saja bukan hal yang positif,” ujarnya, dikutip dari Bloomberg.
Pendiri Valverde Investment Partners, John Foo, menambahkan bahwa penurunan status Indonesia menjadi frontier market berpotensi memicu panic selling berkelanjutan.

