Menkeu Proyeksikan Shock di IHSG Hanya Berlangsung 2-3 Hari
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksi shock yang terjadi di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlangsung selama 2 hingga 3 hari perdagangan. Prediksi ini dia sampaikan usai menjalani rapat bersama Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan CEO Danantara Rosan Roeslani, serta Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN, Dony Oskaria yang juga mencabat sebagai Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara.
“Biasanya dua hari, 2,5 hari, 2-3 hari habis itu sudah,” kata Purbaya, di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (29/1/2026).
Purbaya mengatakan investor diminta untuk tak khawatir, karena fundamental ekonomi Indonesia dalam kondisi yang baik-baik saja.
Pergolakan IHSG terjadi karena masuknya Morgan Stanley Capital International (MSCI) ke pasar saham domestik untuk melihat keterbukaan suatu emiten. Saham yang bagus dan transparan aliran modalnya dapat masuk ke MSCI.
“Tapi, yang gorengan, terpaksa dimasukkan. MSCI curiga itu saham gorengan, yang mereka minta lebih transparan saja,” kata dia.
Purbaya mengatakan perihal penjelasan lebih detil mengenai keterbukaan informasi emiten akan diberikan oleh Kepala Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar.
Baca Juga
Perdagangan Saham kembali Terkena Trading Halt, SRO dan OJK Siap Beri Keterangan
Sebelumnya diberitakan investortrust.id, Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan penghentian sementara (trading halt) perdagangan saham selama 30 menit pada Kamis (29/1/2026) mulai pukul 09.26 WIB. Trading halt hari ini merupakan yang kedua dalam dua hari beruntun.
Langkah penghentian perdagangan oleh otoritas BUrsa Efek Indonesia dilakukan setelah indeks harga saham gabungan (IHSG) BEI turun lebih dari 8% di menit ke-26 transaksi saham hari ini.
Sebagaimana diketahui, pada awal perdaganngan sesi II pada Rabu, perdagangan saham dihentikan akibat terjun lebih dari 8%.
Pada hari ini, hingga pukul 09.25 WIB, seluruh sektor saham terjun dengan penurunan signifikan lebih dari 9%. Penurunan terjadi pada emiten-emiten sektor energi, material dasar, dan infrastruktur. Begitu pun saham sektor properti dan konsumen primer turun lebih dari 7%.
Saham penekan utama kejatuhan adalah seluruh saham big cap dan saham-saham emiten konglomerasi. Di antaranya, BREN longsor 13,86% menjadi Rp 7.125, DSSA anjlok 14,98% menjadi Rp 83.825.
Penurunan tajam indeks dalam dua hari ini dipicu atas rambatan keputusan MSCI Global yang menangguhkan perhitungan MSCI Indonesia, bahkan membuka peluang penurunan kelas bursa saham Indonesia menjadi frontier market. Penurunan diperparah keputusan Goldman Sachs yang memangkas prospek saham Indonesia menjadi underweight.

