Hari Ini, Chandra Daya (CDIA) Gelar Listing Perdana Saham, Bagaimana Kinerja dan Operasioanalnya?
JAKARTA, investortrust.id – PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), anak usaha PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang dikendalikan Prajogo Pangestu, menggelar debut perdana saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini atau Rabu (9/7/2025). Kapitalisasi pasar (market cap) CDIA langsung mencapai Rp 23,71 triliun.
Dengan nilai tersebut, market cap CDIA langsung melewati PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) dengan kapitalisasi Rp 23,55 triliun dan PT Bank Jago Tbk (ARTO) dengan kapitalisasi Rp 23,28 triliun. CDIA berada di bawah PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dengan kapitalisasi Rp 24,86 triliun.
Berdasarkan data, CDIA akan mencatatkan sebanyak 124,82 miliar saham dengan harga IPO Rp 190 per saham. Saham yang dicatatkan terdiri atas saham pendiri 112,34 miliar dan saham public mencapai 12,48 miliar. Emiten ini dicatatkan di papan pengembangan Bursa Efek Indonesia.
Baca Juga
Menyorot IPO CDIA: Kombinasi Pertumbuhan, Dividen, dan Strategi Investasi Jangka Panjang
Manajemen CDIA juga menyebutkan bahwa PT Chandra Asri Paicfic Tbk (TPIA) sebagai pengendali 60% saham CDIA menyatakan tidak akan melepaskan pengendaliannya dalam jangka waktu selama 12 bulan setelah pernyataan pendaftaran penawaran saham efektif. Begitu juga dengan Phoenix Power selaku pemegang 30% saham CDIA tidak akan mengalihkan seluruh kepemilikan sahamnya dalam jangka waktu 8 bulan setelah pencatatan.
Berdasarkan prospectus yang diterbitkan, CDIA merupakan perusahaan holding investasi infrastruktur, bagian dari PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), yang memiliki sejumlah anak usaha memiliki empat pilar bisnis.
Pertama, pilar bisnis energi yang dijalankan melalui anak usahanya PT Krakatau Chandra Energi (KCE). Perusahaan ini menyediakan suplai tenaga Listrik di area KIK Cilegon Banten dengan 216 pelanggan industry, bisnis, sosial, dan pemerintah. Pembangkit ini juga menyuplai Listrik untuk 1.609 rumah tangga.
Baca Juga
KCE mengelola sejumlah pembangkit Listrik, yaitu PLTU dengan kapasitas 120 MW dengan teknologi combined cycle power plant (CCPP), pembangkit Listrik tenaga surya (PTLS) kapasitas 2,2 MWp, jaringan interkoneksi 150 Kv dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN), jaringan distrubusi Listrik bawah tanah, dan 2.666 ha wilayah usaha ketene listrikan.
KCE melalui perusahaan patungan dengan PT Krakatau Posco, PT Kratakau Posci Energy (KPE) memiliki PLTGU kapasitas 200 MW. KCE melalui anak usahanya KSE juga membangun dan mengoperasikan stasiun pengisian kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dengan daya pengisian 11kW dan 7kW di aera SPBU Grogol dan Hotel Royale Krakatau, serta 6 SPKLU kapasitas 2x7 kW dan 1x7,5kW di Wisma Barito.
Kedua pilar logistic, perseroan anak usahanya, PT Chandra Shipping International (CSI) dan PT Marina Indah maritim (MIM), ekspansi signifikan dalam bisnis logistik yang menyediakan jasa perkapalan untuk industri petrokimia, gas dan minyak bumi. Kapal-kapal yang dimiliki oleh CSI dan MIM dirancang secara khusus untuk mengangkut jenis barang tertentu, sehingga mampu memastikan keamanan produk yang diantarkan dapat tiba di tujuan sesuai dengan yang diinginkan oleh pelanggan.
Perseroan memiliki 7 kapal yang terdiri atas kapal pengangkut bahan kimia dan gas (chemical & gas vessel) dengan kapasitas berkisar antara 5.000 – 8.600 DWT. Perseroan melalui PT SCG Barito Logistics (SBL), entitas asosiasi, juga menyediakan jasa logistik darat, meliputi jasa antar pulau, jasa angkutan laut, jasa ekspor impor, dan jasa pengurusan kepabeanan serta manajemen pergudangan. SBL mengelola armada truk sebanyak 155 unit pada 2025.
Ketiga, pilar kepelabuhan dan penyimpanan dijalankan perseroan melalui anak usahanya PT Redeco Petrolin Utama (RPU) untuk menyediakan jasa operasi pelabuhan. Perseroan memiliki dua dermaga dengan panjang masing-masing 200 meter dan draft 10 meter, sehingga bisa digunakan untuk bersandara kapal kapasitas 35.000 DWT. RPU mengelola 72 tangku dengan kapaitas 130 ribu meter kubik, stasiun terpusat berbagai jenis truk tangka, dan layanan lainnya.
Baca Juga
Keempat, pliar energi yang dijalankan melalui perusahaan asosiasi PT Krakatau Tirta Industri (KTI) yang menjalankan bisnis penyediaan dan pengelolaan ari bersih dengan kapasitas 1.800 liter per second water treatment plant. KTI menyuplai air kota Cilegon. Perseroan juga menyulai air untuk PDAM Gresik dengan kapasitas WTP 1.000 lps.
Prospektus tersebut mengungkap bahwa pilar energi masih menjadi penyumbang utama pendapatan dengan kontribusi sebanyak 73,26% terhadap total tahun 2024. Sisanya disumbangkan tiga pilar bisnis lainnya, seperti pilar logistic dengan sumbangan 5,50%, pilar kepelabuhan dan penyimpanan sebanyak 4,67%, dan pilar air mencapai 16,58%.
Hingga tahun 2024, Chandra Daya (CDIA) berhasil mencatatkan lompatan pendapatan menjadi US$ 102,25 juta, dibandingkan tahun 2023 mencapai US$ 75,76 juta. Laba tahun berjalan juga melambung dari US$ 1,88 juta menjadi US$ 32,69 juta.
Dana Perolehan
Chandra Daya (CDIA) dalam prospectus menyebutkan bahwa perseroan melepas sebanyak 12,48 miliar saham atau setara dengan 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Kisaran harga penawaran ditetapkan dalam rentang Rp 190 per saham, sehingga total dana yang diraup mencapai Rp 2,37 triliun.
Bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi saham, yaitu PT BCA Sekuritas, PT BNI Sekuritas, PT DCS Vickers Sekuritas Indonesia, PT Henan Putihrai Sekuritas, PT OCBC Sekuritas Indonesia, dan PT Trimegah Sekuritas Indonesia.
Baca Juga
Wall Street Masih Tertekan, Pasar Galau di Tengah Ketidakpastian Tarif Trump
Seluruh dana yang diperoleh dari IPO saham setelah dikurangi seluruh biaya-biaya emisi saham akan digunakan, pertama senilai Rp 871,75 miliar untuk penyetoran modal kepada anak usaha. Di antaranya, PT Chandra Shipping International (CSI) dan PT Marina Indah Maritim (MIM).
CSI kemudian akan menggunakan dana tersebut sebagian penyetoran modal kepada Chandra Maritime International Pte. Ltd. (CMI) dan sisanya untuk pembelian kapal dan pembiayaan operasional. Dana yang diperoleh oleh CMI dan MIM akan digunakan untuk pembelian kapal dan pembiayaan operasional.
Perseroan juga mengalokasikan Rp 1,5 triliun dari dana IPO saham sebagai penyetoran modal kepada anak usaha pilar bisnis pelabuhan dan penyimpanan, yaitu PT Chandra Samudera Port (CSP). Dana kemudian digunakan CSP untuk penyertaan modal ke PT Chandra Cilegon Port (CCP). Adapun dana yang diperoleh oleh CCP akan digunakan untuk keperluan pembuatan tangki penyimpanan, pipa saluran ethylene, dan fasilitas-fasilitas penunjang lainnya.

