Chandra Asri (TPIA) Akuisisi Kilang di Singapura hingga Dapat Suntikan Danantara Rp 13 Triliun, Apa Dampaknya?
JAKARTA, investortrust.id – PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) bersama mitra strategisnya Glencore resmi mengakuisisi kilang milik Shell di Singapura dengan nilai transaksi sekitar Rp 4,2 triliun. Akuisisi ini diklaim akan meningkatkan kapasitas produksi tahunan dari 4,2 juta ton menjadi 17,2 juta ton.
Aksi tersebut bakal pendapatan perusahaan diproyeksikan kenaikan signifikan hingga lima kali lipat dalam dua tahun ke depan. Aksi tersebut juga disinyalir berdampak positif terhadap sahamnya. Berdasarkan data penutupan perdagangan saham Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (17/6/2025), saham TPIA berhasil melesat 3,28% menjadi Rp 10.225, bahkan market cap emiten ini menyalip PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Pengamat Pasar Modal Panin Sekuritas Reydi Octa menilai optimismtis pasar semakin optimistis terhadap saham TPIA diperkuat kabar mengenai investasi sebesar Rp 13 triliun yang digelontorkan oleh Danantara dan Indonesia Investment Authority (INA).
Baca Juga
Market Cap Salip BREN, Chandra Asri (TPIA) Akuisisi Fasilitas Condensate Splitter di Singapura
"Investasi ini dinilai sebagai langkah strategis jangka panjang bagi TPIA. Melalui induk usahanya, Barito Pacific (BRPT), yang menguasai 34,63% saham TPIA, Danantara dan INA menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan sektor energi, logistik, serta perluasan bisnis petrokimia dan energi hijau," ucap Reydi saat dihubungi investortrust.id Selasa, (17/6/2025).
Fokus investasi ini akan diarahkan pada proyek pembangunan pabrik chlor alkali-ethylene dichloride yang melibatkan kemitraan strategis. Langkah ini diharapkan memperkuat struktur bisnis TPIA secara keseluruhan, meningkatkan daya saing global, serta membuka peluang diversifikasi pendapatan dari sektor berkelanjutan.
"Investasi jangka panjang dari Danantara mencerminkan strategi ekspansi TPIA yang ambisius namun tetap berhati-hati," ujarnya
Meskipun perusahaan saat ini masih menghadapi tantangan finansial dalam jangka pendek, seperti kerugian bersih dan tekanan pada margin laba, dia mengatakan, prospek jangka panjangnya tetap positif. Dengan posisinya di sektor energi, kimia, dan transisi energi, emiten yang dikendalikan Prajogo Pangestu (TPIA) ini menjadi salah satu emiten potensial bagi investor yang berorientasi pada pertumbuhan berkelanjutan.
Rekomendasi Sahamnya
Senada dengan Reydi, Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana menambahkan, bagi TPIA, kemitraan ini bukan sekadar tambahan pendanaan, tetapi penguatan legitimasi institusional terhadap arah bisnis perusahaan yang tengah melakukan transformasi dari produsen petrokimia konvensional menjadi konglomerasi energi, bahan baku kimia hilir, dan energi hijau berbasis circular economy.
"Dukungan dari INA dan BPI Danantara dapat membantu perusahaan memperoleh pendanaan jangka panjang dengan skema lebih kompetitif, sekaligus membuka akses terhadap jaringan mitra global di bidang energi, petrokimia, dan keberlanjutan," kata Hendra kepada investortrust.id Selasa, (17/6/2025).
Baca Juga
Danantara dan INA Bakal Guyur Investasi Rp 13 Triliun ke Pabrik CA-EDC Chandra Asri (TPIA)
Dalam konteks makro, ujar dia, kerja sama ini juga mempertegas peran TPIA sebagai bagian penting dari agenda pemerintah dalam membangun rantai nilai hilirisasi industri berbasis sumber daya domestik. Kolaborasi antara swasta nasional, sovereign wealth fund, dan entitas strategis lainnya menjadi model baru dalam pembiayaan infrastruktur industri yang minim risiko fiskal namun tetap memiliki dampak ekonomi tinggi.
Pasar pun merespons positif pengumuman ini, tercermin dari penguatan saham TPIA sebesar 3% pada hari yang sama. "Sentimen ini tidak lepas dari anggapan bahwa masuknya INA dan BPI Danantara akan menurunkan risiko eksekusi proyek yang selama ini menjadi perhatian investor, terutama karena skala ekspansi yang sangat besar," terang dia.
Dengan pendanaan semakin terjamin, probabilitas keterlambatan proyek maupun pembengkakan biaya menjadi lebih kecil, sehingga ekspektasi terhadap proyeksi peningkatan pendapatan lima kali lipat antara 2024–2026 kini dinilai lebih kredibel.
Namun demikian, dari sisi valuasi, TPIA masih diperdagangkan pada level yang sangat premium. Price to Book Value (PBV) mencapai 20,5 kali, jauh di atas rata-rata industri kimia dasar yang hanya sekitar 2–3 kali. Ini menandakan bahwa pasar telah memberi penghargaan sangat tinggi terhadap ekspektasi pertumbuhan perusahaan.
Baca Juga
Siam Cement akan Lepas 10,57% Saham Chandra Asri (TPIA), Nilai Transaksinya bisa Segini
"Dalam kondisi seperti ini, investor perlu lebih cermat mempertimbangkan aspek risiko, terutama terkait realisasi proyek dan efisiensi operasional, yang hingga kuartal I-2025 masih menyisakan kerugian bersih sebesar Rp 389 miliar, meski sudah menyempit 24,5%. Artinya, cerita pertumbuhan TPIA tetap sangat menarik, tetapi tidak bebas dari tantangan jangka pendek yang bersifat fundamental," tuturnya.
Dari sisi teknikal, TPIA saat ini bergerak mendekati area support psikologis di sekitar Rp10.000. Momentum penguatan akibat sentimen MoU ini dapat mendorong harga mendekati area target resistensi jangka pendek di Rp10.525. Jika harga mampu menembus level tersebut dengan volume perdagangan yang tinggi, maka potensi rally lanjutan ke Rp11.22t–Rp12.000 akan terbuka.
"Oleh karena itu, dengan mempertimbangkan dukungan fundamental yang mulai menguat, katalis institusional yang solid, serta posisi teknikal yang atraktif, kami merekomendasikan saham TPIA sebagai speculative buy di area Rp 9.900 - Rp 10.200, khusus bagi investor jangka menengah hingga panjang yang memiliki toleransi terhadap fluktuasi jangka pendek," beber dia.

