Analis Ungkap Penyebab IHSG Anjlok 6% hingga Sempat Terkena Trading Halt Pertama
JAKARTA, investortrust.id - Sejumlah analis menilai penurunan dalam indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga terkena penghentian sementara (trading halt) pertama dipicu sejumlah sentimen negative.
Sentimen utamanya adalah keputusan suku bunga acuan The Fed hingga pemangkasan rating saham-saham di Indonesia. Sebagaimana diketahui, perdagangan saham sempat mengalami trading halt selama 30 menit setelah anjlok 352,03 poin (5,02%) ke level 6.146,91.
Sedangkan penutupan sesi I, IHSG turun sebanyak 395,87 poin (6,12%) menjadi 6.076. Penurunan dipicu pelemahan seluruh sektor saham sektor materal dasar 9,78%, sektor energi 6,24%, sektor material dasar 6,24%, sektor keuangan 3,86%, dan sektor teknologi sebanyak 12,46%.
Baca Juga
IHSG Lanjutkan Penurunan lebih dari 6%, Trading Halt Kedua Mengintai
Pengamat pasar modal Panin Sekuritas Reydi Octa mengatakan, IHSG terkoreksi hingga terkena trading halt dipicu sejumlah faktor, seperti keputusan investor yang tengah wait and see terhadap keputusan suku bunga acuan The Fed yang prediksinya hampir 99% suku bunga akan ditahan di level 4,25 - 4,5% untuk pertemuan besok tanggal 19 Maret 2025.
"Artinya investor akan lebih senang untuk mengamankan dananya di instrumen investasi low risk yang masih menawarkan return yang tinggi karena suku bunga masih tinggi," kata Reydi kepada investortrust.id Selasa, (18/3/2025).
Reydi melihat bahwa kekhawatiran investor akan berlanjut paska keputusan suku bunga The Fed akibat terhadap kebijakan perdagangan Amerika Serikat yang kabarnya akan ada potensi tarif tambahan setelah pengumuman suku bunga The Fed besok.
Baca Juga
BEI Tetapkan Trading Halt Perdagangan Saham Usai Anjlok 5,02% per Pukul 11.20 WIB
"Asing juga tercatat masih terus melakukan nett sell saham, kemarin asing tercatat melakukan penjualan bersih sebesar Rp 848 miliar yang didominasi penjualan di sektor perbankan besar," ujar Reydi.
Sementara itu, VP Marketing, Strategy & Planning Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi mengatakan, anjloknya IHSG hari ini menunjukkan anomali, dibandingkan dengan bursa regional Asia lainnya yang justru melesat, seperti Nikkei +1,4%, Shanghai +0,09%, STI +1% dan FKLCI +1%.
"Hal ini bisa menunjukkan kekhawatiran investor akan ekonomi Indonesia dan pasar keuangan," kata Audi saat dihubungi investortrust.id Selasa, (18/3/2025).
Baca Juga
Audi juga menilai penurunan indeks dipicu dari pemangkasan rating saham-saham Indonesia, seperti oleh Morgan Stanley dan Goldman Sachs yang memang mengkhawatirkan terkait melebarnya defisit anggaran seiring mendorong fiskal risk.
"Kemudian, tekanan jual asing yang masih sangat kuat, tercatat sampai 17 Maret 2025, pemodal asing mencatatkan outflow sebesar Rp 26,9 triliun, kami melihat jika IHSG berlanjut hingga turun 5% dan lebih maka kemungkinan halt trading dapat dilakukan oleh regulator untuk menstabilkan pasar," terang dia.

