Analis: Sentimen Domestik Faktor Utama Kejatuhan IHSG hingga Terkena Trading Halt Hari Ini
JAKARTA, investortrust.id – Sejumlah analis menyoroti penyebab Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) yang tercatat sudah anjlok 6,12% pada perdagangan sesi I, Selasa (18/3/2025). Koreksi paling parah dicatatkan saham-saham kapitalisasi pasar besar (big cap), khususnya emiten Prajogo Pangestu.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus pun menyebut beberapa faktor penyebab turunnya indeks. Namun dari faktor-faktor tersebut, sentimen domestik terpantau lebih banyak dibandingkan global.
Kepada wartawan, Nico menyebutkan, sentimen global yang memengaruhi penurunan IHSG untuk saat ini diperkirakan baru terdapat tiga hal.
Baca Juga
Kebijakan The Fed hingga Rumor Menkeu Sri Mulyani Mundur Picu IHSG Terjun 6,12%, masih Ada Harapan?
“Berikut beberapa sentiment yang menjadi perhatian, tensi geopolitik yang meningkat karena Putin ingin perang lebih lama, pembalasan Tarif yang lebih besar dari Uni Eropa, dan kekhawatiran akan resesi di Amerika yang terus mengalami kenaikkan,” papar Nico, melalui pesan singkat, Selasa (18/3/2025)
Sedangkan sentimen lainnya, berkaitan dengan kondisi ekonomi Indonesia, antara lain penerimaan Indonesia yang mengalami penurunan hingga 30%. Hal ini mengakibatkan defisit APBN melebar sehingga membutuhkan penerbitan utang yang lebih besar, hingga dapat dapat melemahkan nilai tukar Rupiah.
Keadaan tersebut kemudian berpotensi menyebabkan tingkat suku bunga Bank Indonesia sulit diturunkan. Di sisi lain, penerimaan pajak mengalami penurunan hingga 30,19% (yoy) yang hanya Rp 269 triliun.
Belum lagi, ada defisit APBN sebesar Rp 31,2 triliun per Februari 2025, serta penurunan belanja pemerintah yang turun 7%. Alhasil utang negara terlihat naik 44.77% pada Januari 2025.
Baca Juga
IHSG Lanjutkan Penurunan lebih dari 6%, Trading Halt Kedua Mengintai
“Semua khawatir bahwa risiko fiskal kian mengalami peningkatan di Indonesia yang membuat banyak pelaku pasar dan investor pada akhirnya memutuskan untuk beralih kepada investasi lain yang jauh lebih aman dan memberikan kepastian imbal hasil,” tegas Nico.
Dengan begitu, saham jadi dinilai tidak menarik, serta kemungkinan obligasi jadi pilihan investor setelah saham.
Trading Halt
Sekadar mengingatkan, BEI telah menerapkan penghentian perdagangan sementara (trading halt) karena penurunan IHSG yang menembus total 5% lebih. Bursa pun telah memberikan keterangan resminya sebelum perdagangan sesi I ditutup.
“Dengan ini kami menginformasikan bahwa hari ini, Selasa, 18 Maret 2025 telah terjadi pembekuan sementara perdagangan (trading halt) sistem perdagangan di BEI pada pukul 11:19:31 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS) yang dipicu penurunan IHSG mencapai 5%,” tulis keterangan resmi yang ditandatangani Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi siang ini.
Baca Juga
Puan: Sikap Fraksi PDIP di RUU TNI untuk Luruskan yang Tak Sesuai
Bursa menjelaskan, pembekuan dilakukan sesuai Surat Keputusan Direksi BEI Nomor: Kep-00024/BEI/03-2020 tanggal 10 Maret 2020 perihal Perubahan Panduan Penanganan Kelangsungan Perdagangan di Bursa Efek Indonesia dalam Kondisi Darurat.
“Perdagangan akan dilanjutkan pukul 11:49:31 waktu JATS tanpa ada perubahan jadwal perdagangan,” ungkap bursa, merujuk keterangan resminya.

