Pasar Modal Indonesia Dipenuhi Katalis Positif pada 2025
JAKARTA, investortrust.id – Pasar modal Indonesia disebut-sebut memiliki banyak katalis positif pada 2025 mulai dari pemangkasa suku bunga hingga berlanjutnya stimulus pemerintah. Katalis juga datang dari harapan kebijakan Trump yang tak menimbulkan disrupsi global.
Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Freddy Tedja mengatakan, ada beberapa katalis, seperti pemangkasan Fed Funds Rate dan BI Rate yang masih berlanjut, serta potensi perbaikan daya beli masyarakat jika didukung implementasi kebijakan yang tepat sasaran. Ada pula katalis berupa harapan kebijakan-kebijakan Trump 2.0 yang tidak menimbulkan disrupsi global semenakutkan yang diperkirakan sebelumnya.
“Semuanya ini dapat menjadi katalis baik bagi pasar saham maupun pasar obligasi,” tegas Freddy menjawab pertanyaan wartawan, yang dikutip pada Selasa (28/1/2025).
Baca Juga
OJK: Beragam Instrumen Pasar Modal bisa Dimanfaatkan Dukung Program 3 Juta Rumah
Dia mengamini bahwa kondisi global dan domestik sangat dinamis, berubah dengan cepat, sehingga pelaku pasar akan cenderung mengalami bias kognitif. Hal ini dianggap sangat normal terjadi.
Pada kuartal I dan kuartal III-2024, pasar terlalu optimistis moderasi ekonomi AS akan terjadi, Fed Funds Rate akan turun cepat dan besar. Pada periode ini, terjadi dominasi bias ‘greed’, pelaku pasar sangat yakin bahwa hal-hal yang diharapkan pasti terjadi.
Freddy Tedja
Sebaliknya, pada kuartal kedua dan kuartal keempat 2024, pesimisme melanda dipengaruhi data ekonomi AS yang persisten bersamaan dengan kemenangan Trump. Saat itu pasar dipengaruhi bias ‘fear’. Investor melihat dan memperkirakan semua hal yang terburuk segera terjadi.
Bias greed atau bias fear secara bersamaan biasanya juga diikuti bias ketiga, yaitu selective attention atau kecenderungan untuk fokus pada elemen tertentu dan mengabaikan hal lainnya. Dalam hal ini adalah fakta bahwa secara global, inflasi tetap dalam tren penurunan, seiring siklus ekonomi global yang juga sedang dalam periode moderasi.
Baca Juga
LP3ES Sebut Prabowo Punya Modal Bagus untuk Berantas Korupsi
“Walaupun terkadang sulit, sebagai investor kita harus tetap berupaya melihat segala aspek secara utuh dan meminimalkan bias, sehingga kita dapat tetap mengacu pada potensi dan katalis jangka menengah-panjang dibandingkan distraksi dan hambatan-hambatan jangka pendek,” sambung Freddy.
Pergerakan Suku Bunga
Sesuai ekspektasi Desember lalu, The Fed menurunkan suku bunga 25 basis points (bps) ke level 4,25 - 4,50% sehingga total pemangkasan di 2024 mencapai 100 bps. Namun yang membuat pasar terkejut adalah berubahnya proyeksi pemangkasan untuk tahun 2025, dari sebelumnya 100 bps kini hanya menjadi 50 bps. Hal ini diikuti dengan naiknya proyeksi inflasi dan pertumbuhan PDB.
Perubahan proyeksi The Fed yang diikuti volatilitas pasar yang harus menyesuaikan kembali ekspektasinya sebenarnya. “Ini bukanlah hal baru,” imbuh Freddy.
Kondisi tersebut sudah terjadi berulang-ulang sejak 2023, karena seperti berulang kali disampaikan The Fed, proyeksi kebijakan ekonomi akan sangat bergantung pada data pendukung makroekonomi AS.
Baca Juga
Saham BBCA Mendadak Jadi Penyumbang Net Sell Terbesar Januari, Ada Apa?
“Namun yang tidak boleh kita abaikan adalah fakta dan konsistensi bahwa inflasi global tetap dalam siklus penurunan. Yang berubah-ubah adalah akselerasi jangka pendeknya, kadang laju penurunannya cepat, kadang agak melambat,” tegas dia.
Kebijakan Populis
Di lain pihak dari domestik, kebijakan-kebijakan populis pemerintah diharapkan menjadi dorongan tambahan bagi konsumsi, setidaknya di kuartal pertama menjelang Idul Fitri. Kebijakan dimaksud, termasuk anggaran perlindungan sosial dan tambahan paket-paket stimulus senilai Rp 38 triliun yang tetap diimplementasikan walau kenaikan PPN dibatalkan.
“Ke depan, kebijakan-kebijakan populis yang telah dicakup dalam APBN, dan redanya ketidakpastian terkait arah suku bunga, pergerakan nilai tukar, likuiditas pasar, diharapkan dapat menopang konsumsi dan daya beli jangka menengah-panjang ke tingkat yang diharapkan,” tambah Freddy.
Pada kesempatan berbeda, Senior Portfolio Manager and Head of Asset Allocation Asia Manulife Investment Management Luke Browne meyakini bahwa ada banyak peluang investasi di Asia, termasuk Indonesia.
Baca Juga
Penerapan PSAK 117 Tak Berdampak Signifikan terhadap Pendapatan Pertalife
“Melihat ke beberapa pasar Asia, Filipina maupun Indonesia, saya pikir dengan beberapa tindakan yang diambil di sana dan kemampuan pemerintah untuk menumbuhkan ekonomi, serta menjadi penerima manfaat bersih dari potensi pergerakan harga komoditas. Hal itu saya pikir menawarkan peluang,” papar Luke secara virtual, baru-baru ini.
Tahunnya Pendapatan Tetap
Dilihat dari kelas asetnya, Luke memproyeksikan bahwa investasi pendapatan tetap di negara-negara tersebut masih memiliki ruang imbal hasil (yield) yang tinggi. Potensi ini bahkan disebut sebagai untapped wealth of return atau kekayaan imbal hasil yang belum dimanfaatkan dalam portofolio investasi banyak pihak.
Bagi banyak investor global, sambung Luke, kekhawatiran yang cenderung dihindari adalah implikasi mata uang lokal terhadap dolar. “Namun Anda tahu, saya pikir itu adalah elemen yang menarik,” menurut dia.
Chief Investment Officer, Asia (ex-Japan) Fixed Income, Manulife Investment Management Murray Collis meyakini pasar pendapatan tetap Asia akan tetap tangguh pada 2025.
Baca Juga
KSEI Luncurkan Aplikasi Transaksi Reksa Dana K-CASH, Ini Keunggulannya
Terkhusus Indonesia, Collis menggarisbawahi katalis positif untuk pasar modal didukung reformasi domestik dari kebijakan pemerintah, berupa pengembangan sumber daya manusia melalui program makanan gratis, dan kepemilikan rumah.
“Di tengah lingkungan dolar AS yang kuat dan meningkatnya sensitivitas suku bunga, obligasi hasil tinggi Asia dan kredit berperingkat investasi menghadirkan peluang yang menarik, menawarkan diversifikasi dan potensi pendapatan,” tegas Collis.
Menurut dia, Kredit berimbal hasil tinggi menghadirkan fundamental yang stabil dan valuasi yang menarik, sehingga menciptakan peluang untuk kompresi spread. Kredit berperingkat investasi terus menawarkan imbal hasil yang disesuaikan dengan risiko yang menarik, didukung oleh fundamental yang kuat dan permintaan yang stabil.
"Seiring pemerintah mengadopsi langkah-langkah fiskal yang pro-pertumbuhan, dan Fed AS diperkirakan akan terus melanjutkan siklus pelonggarannya, kami memperkirakan pasar pendapatan tetap Asia akan tetap tangguh,” ujarnya.
Obligasi hasil tinggi dan kredit berperingkat investasi menawarkan manfaat diversifikasi yang unik dan potensi pendapatan yang stabil. Hal ini memungkinkan investor menavigasi volatilitas global secara efektif.
Optimisme yang hampir sama juga diungkapkan salah satu regulator pasar modal dalam negeri, yakni Bursa Efek Indonesia (BEI). Perseroan mengincar saham 66 perusahaan untuk terdaftar di pasar modal pada 2025.
Jumlah yang lebih besar dibandingkan realisasi 2024 itu, optimistis bisa dicapai. Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna pun, menjelaskan perhitungan bursa dalam menentukan target tersebut.
Baca Juga
Tak Terpengaruh Pengurangan Anggaran, Kementerian HAM Tinggal ‘Take Off’
“Kita sudah selesai pelaksanaan pemilu, pemerintahan baru sudah terbentuk, tentu kebijakan-kebijakan akan ditunggu oleh para entrepreneur,” jelas Nyoman, menjawab Investortrust.id beberapa waktu lalu.
Dia mengatakan, pelaksanaan pemilu di sejumlah negara juga sudah selesai sehingga mengurangi sentimen ketidakpastian yang membuat investor wait and see beberapa periode terakhir.
“Optimismenya ada di situ. Selain kami harapkan kebijakan-kebijakan yang ada saat ini kondusif untuk equity, perusahaan-perusahaan yang memberikan equity itu melakukan penerbitan. Jadi kita malah di tahun depan jumlah (penerbitan efek) semua instrumen, bukan hanya equity, kita naik dari kemarin 340 menjadi 407,” pungkasnya.
Grafik IHSG

