DBS Optimistis Pasar Modal RI Akan Berkinerja Positif, Ini Katalis Pendorongnya
JAKARTA, investortrust.id - The Fed diprediksi akan kembali memangkas suku bunga acuannya pada periode November dan Desember 2024. Sentimen itu diramal akan berpengaruh positif terhadap pasar modal Indonesia.
Senior Investment Strategist Bank DBS Daryl Ho mengatakan bahwa pemangkasan suku bunga tersebut akan berdampak secara langsung pada obligasi. Kurva imbal hasil dinilai akan ikut menurun sejalan dengan pemangkasan suku bunga.
“Itu menjadi hal yang positif bagi capital gain obligasi yang di-hold, sebab imbal hasil naik karena harga obligasi bergerak berlawanan arah dengan imbal hasil,” terangnya dalam Media Briefing DBS Chief Investment Officer (CIO) Insights 4Q24: In a Sweet Spot secara daring, Senin (30/9/2024).
Selanjutnya, pemangkasan suku bunga juga akan berpotensi meredakan penguatan dolar AS. Hal ini menjadi katalis positif, sebab Indonesia memiliki beban utang eksternal yang sangat besar. “Namun tentu saja jika dolar diperkirakan melemah karena pemangkasan suku bunga oleh The Fed, maka kemampuan membayar utang menjadi sedikit lebih baik,” terang Daryl.
Baca Juga
Intip Prospek Saham Emiten Taxi Ini (BIRD) di Tengah Kabar Pembatasan BBM Subsidi
DBS juga menyoroti bahwa mereka (asing) menyukai obligasi Indonesia secara umum karena obligasi tersebut berada di peringkat kredit BBB, yang mana mendapatkan spread kredit yang sangat bagus untuk risiko yang diambil. “Saya pikir perusahaan Indonesia tertentu juga menerbitkan jumlah yang cukup baik dalam jangka waktu 7 hingga 10 tahun, yang juga sangat kami sukai,” ungkapnya.
Untuk pasar saham sendiri, DBS memilih beberapa sektor yang dikira potensial dalam era pemangkasan suku bunga, seperti perusahaan dengan kapitalisasi pasar yang besar dan juga sektor yang sensitif terhadap suku bunga. Hal ini disebabkan oleh aliran likuiditas ke emerging market yang akan menguntungkan pasar secara keseluruhan.
“Di mana mereka dulu membayar suku bunga yang sangat tinggi dan sekarang dengan suku bunga yang rendah, mereka akan diuntungkan,” imbuhnya.
Terlebih lagi, 30% dari pasar saham di Indonesia, Singapura, Thailand dan Malaysia didominasi oleh saham perbankan. Sehingga, perbankan dinilai juga akan diuntungkan seiring adanya aliran likuiditas.
Walaupun demikian, ia juga menggarisbawahi masih akan ada tantangan yang ditimbulkan dari suku bunga rendah. “Namun karena kami percaya bahwa ekonomi secara umum di ASEAN sangat tangguh dan oleh karena itu pertumbuhan pinjaman seharusnya benar-benar diuntungkan dari suku bunga yang lebih rendah dan oleh karena itu bank seharusnya tidak terlalu terpengaruh oleh suku bunga yang lebih rendah,” jelasnya.
DBS percaya bahwa Indonesia dapat menjadi salah satu pasar utama yang akan diuntungkan oleh strategi China Plus One, karena arus foreign direct investment (FDI) ,atau penanaman modal asing langsung ke tempat-tempat komoditas hilir dan juga merupakan pasar konsumsi domestik yang besar usai adanya pemangkasan suku bunga.
Baca Juga
Luncurkan Layanan RDN, Bank DBS dan Mirae Asset Bidik 1 Juta Investor Aktif
Asal tahu, China Plus One adalah strategi bisnis untuk menghindari investasi hanya di China dan mendiversifikasi bisnis ke negara lain, atau menyalurkan investasi ke manufaktur pada negara berkembang lain yang menjanjikan.
“Oleh karena itu, akan ada lebih banyak konsumsi dan pengeluaran. Jadi secara keseluruhan, pasar Indonesia adalah salah satu pasar favorit kami sebagai emerging market yang diuntungkan oleh pemangkasan Fed,” terang Daryl.
Dalam kesempatan yang sama, Chief Investment Officer Bank DBS Hou Wey Fook juga memaparkan bahwa DBS terus mempertahankan pilihan untuk obligasi ketimbang saham. Obligasi berjangka waktu lebih panjang dan peringkat layak investasi akan memberikan arus kas konsisten di sisi pendapatan portofolio durasi campuran (barbell), dengan potensi keuntungan dari selisih harga jual dan beli saham bertepatan dengan dimulainya rangkaian penurunan suku bunga oleh the Fed.
“Saat kita beralih dari jeda ke siklus pemangkasan, investor obligasi harus terus melanjutkan peralihan dari uang tunai ke pendapatan tetap,” jelasnya. (CR-4)

