Harga Minyak Melonjak 40% Sejak AS-Israel Serang Iran, WTI dan Brent Bercokol di Atas US$ 100
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Konflik Iran melawan AS dan Israel terus memanas. Harga minyak bergolak, terutama setelah Iran memblokade Selat Hormuz. Minyak AS (WTI/West Texas Intermediate) dan minyak patokan global Brent kini bercokol di atas US$ 100 per barel. Harga minyak mentah telah melonjak sekitar 40% sejak AS dan Israel menyerang Iran tiga pekan lalu.
Baca Juga
AS dan Israel Gempur Isfahan, Iran Balas Serang Israel dan Basis Militer AS
Harga minyak mentah AS (WTI) menembus US$ 100 per barel pada Minggu malam (15/3/2026) ketika pemerintahan Trump mempertimbangkan serangan militer terhadap fasilitas ekspor minyak utama Iran di Pulau Kharg, anggota OPEC.
Harga minyak mentah AS naik 2,64% menjadi $101,32 per barel pada pukul 18:15 ET atau 22.15 GMT. Harga Brent, acuan internasional, naik 2,94% menjadi $106,17 per barel.
Presiden Donald Trump pada 13 Maret memerintahkan serangan terhadap aset militer Iran di Pulau Kharg. Trump mengatakan serangan tersebut tidak merusak infrastruktur minyak. Namun ia memperingatkan bahwa AS akan mempertimbangkan menyerang fasilitas minyak mentah di pulau tersebut jika Iran terus menyerang kapal tanker di Selat Hormuz yang sangat penting.
Gedung Putih berencana mengumumkan secepatnya minggu ini bahwa beberapa negara telah sepakat membantu mengawal kapal tanker minyak melalui selat tersebut, kata pejabat AS kepada The Wall Street Journal. Namun mereka masih membahas apakah operasi tersebut akan dimulai sebelum atau setelah perang berakhir.
Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Mike Waltz kembali menegaskan ancaman Trump untuk menyerang infrastruktur minyak di pulau tersebut. Sekitar 90% ekspor minyak Iran dikirim dari sana, menurut JPMorgan.
Berdasarkan data OPEC, Iran memproduksi sekitar 3,2 juta barel per hari pada Februari. “Ia dengan sengaja hanya menyerang infrastruktur militer untuk saat ini. Dan saya pikir ia akan mempertahankan opsi tersebut jika ingin menghancurkan infrastruktur energi mereka,” kata Waltz kepada CNN pada Minggu.
“Serangan AS di Pulau Kharg dan ancaman Trump untuk menyerang infrastruktur minyak Iran menandai eskalasi besar dalam perang,” kata Natasha Kaneva, kepala strategi komoditas global di JPMorgan, dikutip CNBC.
Baca Juga
Kekhawatiran Krisis Energi Tekan Wall Street, S&P 500 Sentuh Titik Terendah 2026
Serangan langsung terhadap terminal ekspor Iran di pulau tersebut akan segera memangkas sebagian besar ekspor minyak mentahnya sebesar 1,5 juta barel per hari.
Langkah tersebut kemungkinan akan memicu “pembalasan keras” dari Iran di Selat Hormuz atau terhadap infrastruktur energi regional, katanya.
Serangan Iran terhadap kapal tanker minyak di Teluk Persia telah pada dasarnya menghentikan lalu lintas melalui selat tersebut, jalur perdagangan paling penting bagi pasar minyak global.
Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur air sempit itu sebelum perang.
Penutupan selat yang menghubungkan Teluk dengan pasar dunia itu telah memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah.
Harga minyak telah naik lebih dari 40% sejak AS dan Israel menyerang Iran tiga minggu lalu. Brent ditutup di atas $100 untuk pertama kalinya dalam empat tahun pada pekan lalu.
Harga tetap naik meskipun lebih dari 30 negara memutuskan melepaskan 400 juta barel cadangan minyak untuk mengatasi gangguan pasokan, langkah terbesar dalam sejarah.
AS akan melepaskan 172 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve sebagai bagian dari upaya tersebut.
Badan Energi Internasional yang berbasis di Paris menyatakan bahwa negara-negara Asia akan mulai melepaskan pasokan minyak darurat segera. Negara-negara di Amerika dan Eropa akan mulai melepaskan cadangan mereka pada akhir Maret.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan bahwa tidak ada jaminan harga minyak akan turun dalam beberapa minggu mendatang. “Tidak ada jaminan sama sekali dalam perang,” kata Wright kepada ABC News. Tetapi, menurut dia, situasinya akan jauh lebih buruk bila tidak dilancarkan operasi militer untuk melumpuhkan rezim Iran.

