Kekhawatiran Krisis Energi Tekan Wall Street, S&P 500 Sentuh Titik Terendah 2026
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id — Pasar saham Amerika Serikat kembali berada di bawah tekanan setelah lonjakan harga minyak akibat konflik Iran mendorong kekhawatiran baru tentang inflasi dan perlambatan ekonomi global. Indeks S&P 500 bahkan menyentuh level terendahnya tahun ini dan mencatat tiga pekan penurunan berturut-turut.
Pada perdagangan Jumat waktu AS atau Sabtu (14/3/2026) WIB, S&P 500 turun 0,61% dan ditutup di level 6.632,19—sekitar 5% di bawah puncak terbarunya. Nasdaq Composite yang sarat saham teknologi melemah 0,93% menjadi 22.105,36, sementara Dow Jones Industrial Average turun 119,38 poin atau 0,26% ke level 46.558,47.
Baca Juga
Harga Minyak Bertahan di Atas $100, Krisis Energi Global Mengintai
Sepanjang pekan ini, S&P 500 turun 1,6%, menandai tiga minggu kerugian berturut-turut untuk pertama kalinya dalam hampir satu tahun. Indeks Dow Jones terkoreksi sekitar 2% dalam sepekan, sementara Nasdaq turun sekitar 1,3%.
Tekanan utama pasar berasal dari lonjakan harga energi yang terus berlanjut. Harga minyak dunia kembali menguat pada Jumat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 3,11% menjadi $98,71 per barel, sedangkan minyak Brent naik 2,67% menjadi $103,14 per barel. Brent bahkan telah kembali menembus level psikologis $100 per barel untuk pertama kalinya sejak Agustus 2022.
Lonjakan harga energi terjadi setelah pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa Selat Hormuz—jalur vital pengiriman sekitar seperlima minyak dunia—harus tetap ditutup sebagai “alat untuk menekan musuh.”
Sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari, lalu lintas kapal tanker di selat tersebut hampir terhenti. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius tentang gangguan pasokan energi global.
Pemerintah AS berusaha meredakan kekhawatiran tersebut. Menteri Pertahanan Pete Hegseth pada Jumat mengatakan Washington telah mengantisipasi situasi tersebut.
“Kami telah menanganinya dan tidak perlu khawatir tentang hal itu,” kata Hegseth dalam konferensi pers di Pentagon.
Namun di Wall Street, kekhawatiran investor tetap meningkat. Banyak pelaku pasar mulai memperhitungkan risiko skenario stagflasi—kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang melambat—yang sering kali menjadi situasi paling sulit bagi bank sentral.
Lonjakan harga minyak dikhawatirkan dapat kembali mendorong inflasi global pada saat ekonomi mulai menunjukkan tanda perlambatan.
Situasi ini juga mulai mengubah ekspektasi kebijakan moneter di Amerika Serikat. Investor kini semakin meragukan kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve dalam waktu dekat.
Perdagangan kontrak berjangka fed funds bahkan tidak lagi memperkirakan pemangkasan suku bunga pada September, berbeda dengan proyeksi pasar sebelumnya.
“Laba perusahaan sebenarnya cukup baik, tetapi sentimen pasar sangat sulit,” kata David Aspell, kepala investasi global macro di Mount Lucas Management, seperti dikutip CNBC.
Menurutnya, lonjakan harga minyak mulai memicu penilaian ulang terhadap prospek suku bunga dan valuasi saham. “Lonjakan harga minyak dan valuasi saham mencerminkan jalur suku bunga tertentu yang kini mulai dipertanyakan,” ujarnya.
Baca Juga
Bursa Eropa Melemah di Tengah Konflik Timur Tengah yang Terus Memanas
Bagi investor global, konflik Timur Tengah kini menjadi faktor risiko utama yang berpotensi mengubah arah pasar keuangan. Jika harga energi terus melonjak dan Selat Hormuz tetap tertutup, tekanan terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi dunia dapat semakin besar dalam beberapa bulan ke depan.

