AS dan Israel Gempur Isfahan, Iran Balas Serang Israel dan Basis Militer AS
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Konflik militer antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel terus meningkat. Serangan udara dan rudal terbaru menghantam sejumlah lokasi di Provinsi Isfahan, Iran bagian tengah, menewaskan sedikitnya 15 orang di tengah eskalasi perang yang semakin meluas di kawasan Timur Tengah.
Laporan live update yang diterbitkan Al Jazeera pada 15 Maret 2026 menyebutkan bahwa militer Amerika Serikat dan Israel terus melancarkan serangan terhadap berbagai target militer dan industri di Iran. Provinsi Isfahan—yang merupakan salah satu pusat industri dan militer penting Iran—menjadi salah satu wilayah yang paling intens dibombardir dalam beberapa hari terakhir.
Menurut laporan dari Teheran, serangan tersebut tidak hanya menyasar fasilitas militer, tetapi juga berdampak pada kawasan sipil. Beberapa wilayah permukiman dilaporkan mengalami kerusakan, sementara puluhan korban jiwa dilaporkan jatuh di berbagai kota yang menjadi sasaran serangan.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan sejumlah gelombang serangan rudal ke Israel serta menargetkan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah menembakkan 10 rudal dan sejumlah drone ke pangkalan udara Al-Dhafra milik AS di Uni Emirat Arab.
Iran juga menyatakan akan terus meningkatkan tekanan militer terhadap Israel. Dalam pernyataannya, IRGC bahkan menyatakan akan terus mengejar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di tengah perang yang masih berlangsung.
Sementara itu, konflik juga mulai meluas ke negara-negara Teluk. Kementerian Pertahanan Arab Saudi melaporkan berhasil mencegat dan menghancurkan empat drone yang memasuki wilayah udara Riyadh. Sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026, sejumlah negara di kawasan tersebut juga menjadi sasaran serangan drone dan rudal Iran yang diklaim menargetkan kepentingan militer Amerika Serikat.
Baca Juga
Perang Iran vs AS–Israel Guncang Ekonomi Dunia, Fiskal dan Moneter Indonesia Hadapi Tekanan Berat
Di Israel sendiri, dampak konflik juga semakin terasa. Kementerian Kesehatan Israel melaporkan 108 orang mengalami luka-luka dalam 24 jam terakhir, sementara sejak akhir Februari sedikitnya 3.195 orang telah dirawat di rumah sakit akibat konflik tersebut.
Ketegangan juga meningkat di jalur strategis energi global. Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya meminta negara-negara sekutu—termasuk China, Inggris, Jepang, Prancis, dan Korea Selatan—mengirim kapal perang untuk mengawal kapal tanker minyak yang melintas di Selat Hormuz setelah Iran secara efektif mengganggu jalur pelayaran tersebut.
Namun hingga kini belum ada negara yang secara terbuka menyatakan akan memenuhi permintaan tersebut. Inggris menyatakan masih berdiskusi dengan sekutu mengenai opsi pengamanan pelayaran, sementara Jepang menegaskan bahwa keputusan pengiriman kapal perang harus melalui pertimbangan independen pemerintahnya.
Di sisi lain, China menyerukan agar semua pihak segera menghentikan operasi militer dan memastikan pasokan energi global tetap stabil. Beijing menilai keamanan jalur energi internasional harus menjadi tanggung jawab bersama seluruh pihak yang terlibat dalam konflik.
Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas energi global serta keamanan jalur perdagangan internasional.
Baca Juga
Perang AS–Israel vs Iran Memasuki Hari ke-15, Serangan ke Pulau Kharg Tingkatkan Krisis Energi

