Gejolak Harga Minyak Mereda, tapi Brent Masih Bercokol di Atas US$ 80
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Gejolak di pasar energi global mulai mereda, tetapi ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menahan harga minyak pada level tinggi dan memicu kekhawatiran inflasi baru di berbagai negara.
Baca Juga
Harga Minyak Bergejolak, Militer AS Siap Kawal Kapal Tanker di Selat Hormuz
Pada Rabu (4/3/2026), harga minyak relatif stabil setelah pemerintah Amerika Serikat menjanjikan dukungan bagi kapal tanker yang melintasi Teluk Persia. Dikutip dari CNBC, minyak mentah AS ditutup naik tipis 10 sen atau 0,13% menjadi US$74,66 per barel, sementara patokan global Brent turun tipis 3 sen menjadi US$81,37.
Stabilisasi sementara ini terjadi setelah lonjakan tajam pada awal pekan. Harga minyak mentah AS sempat melonjak 6% pada Senin dan 5% pada Selasa, bahkan mendekati US$78 per barel—level tertinggi pekan ini—setelah serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Teheran membalas dengan serangan rudal dan drone ke sejumlah target di Timur Tengah, termasuk fasilitas energi.
Pemerintah Presiden Donald Trump mencoba menenangkan pasar dengan menjanjikan asuransi bagi kapal tanker melalui International Development Finance Corporation serta kemungkinan pengawalan oleh Angkatan Laut AS jika diperlukan. Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan Washington juga akan mengumumkan sejumlah langkah tambahan untuk menjaga kelancaran perdagangan minyak di kawasan Teluk.
Baca Juga
Iran Tutup Selat Hormuz di Tengah Meningkatnya Ketegangan di Timur Tengah, Harga Minyak Meroket
Namun masalah utama belum sepenuhnya terselesaikan. Lalu lintas kapal tanker melalui Strait of Hormuz—jalur sempit antara Iran dan Uni Emirat Arab—hampir terhenti setelah Iran mengancam akan menyerang kapal yang melintas. Selat ini merupakan jalur energi paling vital di dunia karena sekitar 20% pasokan minyak global melewati wilayah tersebut.
Data Lloyd’s List Intelligence menunjukkan sekitar 200 kapal tanker kini tertahan, sementara premi asuransi pelayaran melonjak tajam, terutama untuk kapal yang berafiliasi dengan Amerika Serikat, Inggris, atau Israel.
Gangguan pada jalur energi global ini langsung memicu lonjakan harga gas. Di Inggris, harga gas acuan telah melonjak lebih dari 60% sejak konflik dimulai. Brent crude sendiri telah naik sekitar 12% sejak serangan pertama pada akhir pekan lalu.
Dampaknya mulai merembet ke ekonomi global. David Miles dari Office for Budget Responsibility memperingatkan bahwa inflasi Inggris bisa meningkat jika harga energi tetap tinggi dalam jangka panjang.
“Jika harga bertahan di level saat ini, kemungkinan dampaknya terhadap tingkat harga di Inggris sekitar 1% atau lebih,” katanya dalam wawancara dengan BBC.
Ketegangan juga menyentuh pasar energi lain. Arab Saudi melaporkan serangan drone yang menargetkan kilang minyak Ras Tanura, sementara perusahaan energi milik negara Qatar, QatarEnergy, menghentikan sementara produksi gas alam cair (LNG). Sekitar 80% ekspor LNG Qatar biasanya mengalir ke pasar Asia, sehingga kawasan tersebut paling sensitif terhadap gangguan pasokan.
Tekanan tersebut tercermin di pasar keuangan. Bursa saham Inggris dan Amerika Serikat berhasil menguat setelah dua hari penurunan, tetapi sejumlah indeks Asia justru merosot tajam karena kawasan tersebut sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah.
Analis memperingatkan stabilisasi harga minyak saat ini belum tentu bertahan lama. Menurut Lindsay James dari perusahaan manajemen kekayaan Quilter, pasar mungkin terlalu optimistis terhadap solusi keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
“Solusinya adalah kesepakatan damai, dan rasanya kita masih jauh dari itu,” ujarnya.
Pasar energi global kini berada dalam fase ketidakpastian: harga minyak mulai stabil, tetapi risiko geopolitik tetap tinggi. Jika konflik berkepanjangan, dunia berpotensi menghadapi lonjakan biaya energi yang dapat mendorong inflasi, memperumit kebijakan suku bunga, dan memperlambat pemulihan ekonomi global.

