OPEC Tahan Produksi hingga 2026, Harga Minyak Brent dan WTI Menguat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak dunia mengalami kenaikan sebesar 1% lebih pada perdagangan Senin (1/12/2025) dilatarbelakangi keputusan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi atau Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) yang menegaskan tidak akan meningkatkan produksi minyak mentah karena kekhawatiran kelebihan pasokan pada 2026.
Mengutip dari Investing, Senin (1/12/2025), harga minyak mentah minyak mentah Brent berjangka yang berakhir pada bulan Februari 2026 naik 1,2% menjadi US$ 63,13 per barel. Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menjadi menjadi US$ 59,27 per barel, naik sebesar 1,2%.
Kenaikan harga itu setelah keputusan OPEC pada 30 November 2025, yang kembali menegaskan rencana menghentikan peningkatan produksi minyak hingga kuartal pertama 2026. Selain itu, OPEC juga mempertahankan pemotongan produksi sukarela sebesar 3,24 juta barel per hari.
Baca Juga
Wakil Ketua Komisi XII Minta Kepastian Arah Energi Nasional Demi Lajunya Roadmap Kilang Minyak
Keputusan itu menunjukkan sikap kehati-hatian OPEC dalam menghadapi tren permintaan minyak yang tidak merata dan dikhawatirkan menyebabkan kelebihan pasokan pada 2026.
Dalam laporan tersebut disampaikan bahwa OPEC telah menyepakati mekanisme untuk mengevaluasi kapasitas produksi maksimum anggota pada periode Januari dan September 2026, yang menjadi dasar untuk menetapkan kuota pda 2027.
"Hal ini tentu saja dapat menimbulkan perselisihan di antara para anggota, karena negara-negara ingin mengamankan nilai dasar lebih tinggi," kata analis ING dalam sebuah catatan.
Baca Juga
TNI Dapat Tugas Jaga Kilang Minyak, Wamen ESDM: Demi Amankan Objel Vital Nasional
Di sisi lain, pasar juga sedang mempertimbangkan risiko pasokan baru terkait dengan retorika politik Presiden Amerika Serikat, Donald Trump terhadap Venezuela. Dalam pernyataanna, Trump mengaku sedang mempertimbangkan menutup wilayah udara di atas negara itu.
"Eskalasi antara AS dan Venezuela ini membuat AS melancarkan serangan terhadap kapal-kapal yang diklaimnya membawa narkoba, sekaligus membangun kehadiran militernya di dekatnya," ujar analis ING.

