Harga Minyak Brent dan WTI Tembus Level Tertinggi di Tengah Ancaman Trump
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Harga minyak mentah dunia kembali melesat tajam seiring meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, menyusul ancaman keras Presiden AS Donald Trump menjelang tenggat pembukaan Selat Hormuz. Kenaikan harga minyak mentah mendongkrak harga BBM dan LPG. Jika perang tidak segera diakhiri, dunia menuju resesi.
Berdasarkan laporan CNBC yang dipublikasikan 6 April 2026 pukul 20.57 EDT dan diperbarui pada 7 April 2026, harga minyak mentah AS (West Texas Intermediate/WTI) naik sekitar 2% menjadi US$114,81 per barel pada perdagangan Selasa pagi waktu New York. Sementara itu, minyak mentah acuan internasional Brent untuk kontrak pengiriman Juni diperdagangkan di kisaran US$110,50 per barel.
Kenaikan harga ini terjadi setelah Trump kembali mengeluarkan pernyataan bernada ancaman terhadap Iran. Dalam unggahannya di Truth Social pada hari Selasa (07/04/2026), Trump menyatakan bahwa “satu peradaban akan musnah malam ini” jika tidak tercapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz. Ancaman tersebut muncul menjelang tenggat pukul 20.00 waktu Timur AS atau Rabu (08/04/2026), pukul 07.00 WIB, yang ditetapkan Washington bagi Teheran untuk membuka jalur pelayaran strategis tersebut—yang mengalirkan sekitar 20% perdagangan minyak global.
Selain retorika politik, pasar minyak juga merespons perkembangan militer di lapangan. Seorang pejabat AS yang dikutip NBC News (6–7 April 2026) mengonfirmasi bahwa militer AS telah melancarkan serangan terhadap puluhan target militer di Pulau Kharg, Iran—yang merupakan pusat ekspor minyak utama negara tersebut.
Meski pejabat tersebut menegaskan bahwa infrastruktur minyak tidak menjadi target langsung, serangan di kawasan strategis ini tetap meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan global. Sentimen ini diperkuat oleh posisi Selat Hormuz sebagai chokepoint energi dunia. Setiap gangguan terhadap jalur ini berpotensi langsung mendorong lonjakan harga minyak dan gas global.
Harga Tembus US$110 per Barel
Laporan senada juga disampaikan The New York Times (7 April 2026) yang mencatat bahwa harga minyak Brent sempat naik sekitar 1,5% ke kisaran US$111 per barel sebelum terkoreksi tipis. Kenaikan ini dipicu oleh penolakan Trump terhadap proposal gencatan senjata sehari sebelumnya dan meningkatnya risiko eskalasi militer.
Media internasional lain seperti Reuters dan Bloomberg juga sebelumnya melaporkan tren serupa, yakni penguatan harga minyak di atas US$100 per barel dalam beberapa hari terakhir, seiring meningkatnya ketidakpastian di kawasan Teluk.
Selain minyak mentah, ketegangan di Selat Hormuz juga berpotensi mengganggu perdagangan gas alam cair (LNG), terutama dari Qatar—salah satu eksportir LNG terbesar dunia yang jalur distribusinya bergantung pada stabilitas kawasan tersebut.
Baca Juga
Gangguan terhadap LNG akan berdampak langsung pada harga gas global, khususnya di pasar Asia dan Eropa yang masih sangat bergantung pada impor energi.
Dengan kombinasi ancaman militer, serangan ke fasilitas strategis, dan ketidakpastian diplomasi, pasar energi saat ini memasuki fase risk premium, di mana harga minyak mencerminkan potensi gangguan pasokan, bukan hanya kondisi fundamental permintaan.
Jika konflik terus meningkat atau Selat Hormuz benar-benar terganggu, harga minyak Brent dan WTI berpotensi menembus level yang lebih tinggi dalam jangka pendek, dengan implikasi langsung terhadap inflasi global, beban fiskal negara importir energi seperti Indonesia, serta stabilitas pasar keuangan.
Harga BBM dan LPG Terdongkrak
Lonjakan harga minyak mentah akibat eskalasi perang Amerika Serikat–Israel melawan Iran kini mulai merambat luas ke sektor hilir, memicu kenaikan tajam harga bahan bakar minyak (BBM) dan gas, termasuk LPG, di berbagai belahan dunia.
Kenaikan harga minyak mentah global—dengan Brent dan WTI yang telah menembus level di atas US$110 per barel—langsung diteruskan ke harga BBM ritel. Di Amerika Serikat, harga bensin dilaporkan telah melampaui US$4 per galon, meningkat sekitar 35% sejak konflik memanas pada akhir Februari 2026, sebagaimana dilaporkan CNBC dan Reuters (6–7 April 2026).
Tekanan serupa juga terjadi di Asia. Di pasar energi Singapura sebagai hub regional, harga bensin, solar (diesel), dan avtur dilaporkan melonjak tajam—bahkan mendekati dua kali lipat dibandingkan sebelum perang, menurut berbagai laporan pasar yang dikompilasi Reuters dan pelaku industri energi.
Kondisi ini menegaskan bahwa tekanan inflasi energi kini bersifat global, tidak hanya dirasakan negara produsen, tetapi juga negara importir yang sangat bergantung pada pasokan energi internasional.
Dampak yang lebih serius justru terjadi pada sektor gas dan LPG. Penutupan parsial Selat Hormuz serta serangan terhadap infrastruktur energi di Iran dan kawasan Teluk menyebabkan gangguan signifikan terhadap ekspor LNG, terutama dari Qatar—salah satu pemasok utama dunia.
Baca Juga
Trump Ancam Luluhlantakkan Jembatan dan Pembangkit Listrik, Iran Siap Lawan
Data pasar menunjukkan bahwa harga LNG spot di Asia melonjak hingga lebih dari 140%, sementara harga gas di Eropa sempat naik hampir dua kali lipat hanya dalam beberapa hari pertama eskalasi konflik, sebagaimana dihimpun dari laporan lembaga energi dan media internasional.
Badan Energi Internasional (IEA) bahkan menyebut situasi ini sebagai “krisis keamanan energi terbesar dalam sejarah modern”, karena gangguan terjadi secara simultan pada minyak dan gas.
Karena LPG sangat terkait dengan harga minyak mentah dan gas, lonjakan ini secara otomatis mendorong kenaikan harga LPG global, terutama di negara-negara importir yang mengandalkan pasar spot—termasuk Indonesia, yang sekitar 70% kebutuhan LPG-nya masih bergantung pada impor.
Hormuz Jadi Titik Kritis
Lonjakan harga energi global ini berakar pada dua faktor utama. Pertama, terganggunya Selat Hormuz sebagai jalur vital energi dunia. Jalur ini mengalirkan sekitar 20 juta barel minyak per hari, atau hampir seperlima perdagangan minyak global, serta menjadi rute penting bagi ekspor LNG.
Kedua, meningkatnya serangan terhadap infrastruktur energi. Kilang, pelabuhan ekspor, jalur pipa, hingga ladang gas di Iran dan negara-negara Teluk menjadi target serangan, baik langsung maupun tidak langsung, sehingga mempersempit pasokan global.
Kombinasi gangguan pasokan dan permintaan yang tetap tinggi menciptakan tekanan harga yang sulit dihindari mekanisme klasik dalam pasar komoditas energi.
Kenaikan harga BBM dan LPG ini membawa implikasi luas terhadap perekonomian global. Energi sebagai komponen utama biaya produksi dan transportasi mendorong kenaikan inflasi di berbagai negara.
Bagi negara importir seperti Indonesia, tekanan ini juga berdampak pada fiskal, terutama melalui peningkatan beban subsidi energi. Jika harga energi global terus bertahan tinggi, ruang fiskal akan semakin tertekan.
Lebih jauh, kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang melambat membuka risiko stagflasi, bahkan potensi resesi global jika konflik berkepanjangan.
Dengan konflik yang belum menunjukkan tanda mereda dan jalur diplomasi masih buntu, pasar energi global kini berada dalam kondisi sangat rapuh. Setiap eskalasi kecil di Timur Tengah berpotensi langsung diterjemahkan menjadi lonjakan harga minyak, BBM, dan LPG di seluruh dunia dengan dampak sistemik terhadap ekonomi global.

