Wall Street Ambruk Tertekan Saham Teknologi, Dow Ambles Hampir 800 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS ambruk pada perdagangan Kamis waktu AS atau Jumat (14/11/2025) WIB. Saham-saham di Wall Street merosot, dipimpin aksi jual pada sektor teknologi. Investor semakin pesimistis terhadap prospek pemangkasan suku bunga.
Baca Juga
Indeks Dow Jones Tembus Rekor 48.000 Dipicu Optimisme Berakhirnya Krisis Shutdown AS
Dow Jones Industrial Average jatuh 797,60 poin atau 1,65% menjadi 47.457,22—jauh dari rekor tertinggi sesi sebelumnya. S&P 500 terkoreksi 1,66% ke level 6.737,49, sementara Nasdaq Composite ambles 2,29% menjadi 22.870,36. Ketiga indeks utama, termasuk Russell 2000, mencatat penurunan harian terburuk sejak 10 Oktober.
Tekanan jual terbesar datang dari saham-saham teknologi dan perusahaan terkait artificial intelligence (AI), termasuk Nvidia, Broadcom, dan Alphabet. Meski saham teknologi sempat menguat awal pekan, Nasdaq membukukan penurunan tiga hari berturut-turut.
Menurut Ron Albahary, CIO Laird Norton Wealth Management, pergerakan ini merupakan konsolidasi yang wajar. “Ini langkah yang sehat. Pada akhirnya belanja modal untuk AI akan membuahkan hasil nyata bagi sektor-sektor lain,” bebernya kepada CNBC.
Sentimen pasar juga tertekan oleh perubahan mendadak ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve. Probabilitas pemangkasan suku bunga pada pertemuan Desember turun dari 62,9% menjadi 51%, menurut CME FedWatch Tool.
Ketidakpastian data ekonomi semakin besar karena selama shutdown pemerintah AS, bank sentral tidak menerima laporan penting seperti data inflasi dan laporan pekerjaan Oktober. Gedung Putih bahkan menyebut sebagian data itu mungkin tidak akan dirilis.
Shutdown yang berlangsung lebih dari enam minggu itu resmi berakhir Rabu malam setelah Presiden Donald Trump menandatangani RUU pendanaan pemerintah yang akan berlaku hingga akhir Januari.
Baca Juga
Carol Schleif, Chief Market Strategist BMO Private Wealth, memperingatkan bahwa volatilitas kemungkinan masih akan berlangsung. “Kami tidak terkejut jika pasar masih bergerak liar beberapa minggu ke depan,” ujarnya.

