Wall Street Ambruk Dipicu Eskalasi Konflik Iran, Dow Anjlok 400 Poin Setelah Sempat Ambles 1.200 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS mengalami sesi yang bergolak pada Selasa waktu AS atau Rabu (4/3/2026) WIB. Pasar terguncang karena kekhawatiran konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran, meskipun pernyataan Presiden Donald Trump tampak sedikit meredakan kecemasan tersebut.
Baca Juga
Wall Street Bergejolak Imbas Konflik Iran, tapi Bangkit Berkat Saham Teknologi
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 403,51 poin atau 0,83% dan berakhir di 48.501,27. S&P 500 melemah 0,94% menjadi 6.816,63, sementara Nasdaq Composite turun 1,02% ke 22.516,69. Pada titik terendah, S&P 500 sempat anjlok 2,5% dan Nasdaq turun sekitar 2,7%. Dow yang berisi 30 saham bahkan sempat merosot lebih dari 1.200 poin atau sekitar 2,6% di titik nadirnya.
Trump mengatakan pada Selasa sore bahwa Angkatan Laut AS akan mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz jika diperlukan.
“Apapun yang terjadi, Amerika Serikat akan memastikan arus bebas energi ke seluruh dunia. Kekuatan ekonomi dan militer Amerika Serikat adalah yang terbesar di dunia. Tindakan lebih lanjut akan menyusul,” tulisnya di Truth Social.
Baca Juga
Harga Minyak Bergejolak, Militer AS Siap Kawal Kapal Tanker di Selat Hormuz
Minyak mentah Brent, patokan global, ditutup naik 4,71%. Kenaikan ini jauh dari level tertinggi intraday dan mengikuti lonjakan 6% pada Senin. Minyak mentah WTI juga turun dari puncaknya dan ditutup naik 4,68%, setelah sebelumnya melonjak 6% pada sesi sebelumnya. Keduanya sempat menguat lebih dari 9%.
Lonjakan awal harga energi pada hari itu sempat mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS naik karena kekhawatiran harga yang lebih tinggi dapat kembali memicu inflasi, di saat investor berharap pemangkasan suku bunga Federal Reserve untuk mendorong ekonomi. Namun imbal hasil kemudian memangkas kenaikan seiring turunnya harga minyak.
Kekhawatiran perdagangan memburuk setelah komandan Garda Revolusi Iran mengatakan Selat Hormuz — jalur transit minyak mentah paling vital di dunia — ditutup dan Iran akan membakar kapal yang mencoba melintasinya. Peringatan Trump bahwa konflik bisa berlangsung lebih dari empat minggu juga memperparah kegelisahan.
Beberapa hal menunjukkan tanda-tanda konflik makin dalam saat memasuki hari keempat. Kedutaan Besar AS di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, diserang drone saat Iran meningkatkan serangannya. Departemen Luar Negeri memerintahkan evakuasi personel dari Bahrain, Irak, dan Yordania. Hizbullah yang didukung Teheran menyerang Tel Aviv dengan rudal dan drone. Kekhawatiran meningkat tentang berapa lama negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab dapat menahan rentetan rudal dan drone Iran dengan pertahanan udara mereka.
“Saya pikir kemungkinan misi yang lebih berkepanjangan dapat membebani pasar selama beberapa minggu ke depan,” kata Jeffrey O’Connor, kepala struktur pasar ekuitas AS di Liquidnet, kepada CNBC. Ia merujuk pada potensi harga minyak tinggi yang bertahan dan investor yang harus menghadapi pergerakan inflasi, imbal hasil, dan ekspektasi pemangkasan suku bunga ke depan.
“Secara historis, pasar AS mampu mengabaikan guncangan geopolitik seperti ini, tetapi Selat Hormuz sekarang ditutup,” lanjutnya. Mengingat sekitar 20% konsumsi minyak dunia melewati selat tersebut, O’Connor menambahkan bahwa penutupan berkepanjangan “tidak bisa diabaikan.”
Seluruh sektor dalam S&P 500 berada di zona merah pada Selasa. Sektor material dan industri mencatat kerugian terbesar karena kekhawatiran harga minyak dan biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat membebani ekonomi AS.
Beberapa saham teknologi utama seperti Nvidia yang memimpin pemulihan intraday pada Senin, turun pada Selasa. Saham memori AS juga tertekan mengikuti penurunan signifikan saham chip memori di Korea Selatan. Selain itu, saham Blackstone turun 3,8% setelah Financial Times melaporkan dana kredit swastanya mengalami arus keluar bersih US$1,7 miliar pada kuartal pertama.
Investor kesulitan mencari perlindungan, dengan harga emas juga turun tajam setelah kenaikan pada Senin. Indeks Volatilitas CBOE — indikator ketakutan Wall Street — melonjak ke level tertinggi sejak November.

