Wall Street Ambruk Dipicu Sentimen Disrupsi AI dan Tarif Baru Trump, Dow Ambles Lebih 800 Poin
Poin Penting
|
NEW YOK, investortrust.id – Pasar saham AS merosot pada Senin waktu AS atau Selasa (24/2/2026). Investor bergulat dengan kekhawatiran yang terus berlanjut seputar disrupsi kecerdasan buatan (AI) terhadap berbagai industri serta keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menaikkan tarif global.
Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 821,91 poin, atau 1,66%, ditutup di 48.804,06, sementara Nasdaq Composite melemah 1,13% dan berakhir di 22.627,27. S&P 500 terkoreksi 1,04% dan ditutup di 6.837,75, kembali masuk zona negatif untuk 2026.
Baca Juga
Wall Street Menguat Setelah MA Batalkan Tarif Resiprokal Trump, Dow Melonjak Lebih 200 Poin
Dow yang berisi 30 saham terseret oleh saham IBM yang anjlok 13% setelah Anthropic menguraikan kemampuan pemrograman baru untuk produk Claude Code miliknya.
Saham perangkat lunak seperti Microsoft dan CrowdStrike kembali berada di bawah tekanan karena kekhawatiran disrupsi AI membayangi pasar. Microsoft turun 3%, sementara CrowdStrike merosot hampir 10%. Sektor perangkat lunak bukan satu-satunya yang terdampak akibat kekhawatiran AI baru-baru ini: saham yang terkait dengan truk dan logistik, real estat komersial, serta jasa keuangan juga mengalami kerugian bulan ini.
Kekhawatiran mengenai dampak AI terhadap ekonomi memuncak akhir pekan lalu setelah Citrini Research merilis laporan yang menilai bahwa ledakan AI dapat merugikan ekonomi secara luas karena berpotensi mendorong pengangguran hingga 10%.
Makalah riset tersebut dikutip oleh pelaku pasar di Wall Street sebagai penyebab pelemahan saham perangkat lunak dan sektor keuangan. Saham American Express turun 7%, membebani Dow. Saham Mastercard merosot hampir 6%.
Sebaliknya, sektor defensif seperti kebutuhan pokok konsumen mencatat kinerja lebih baik. Saham Walmart dan Procter & Gamble memimpin penguatan dengan kenaikan masing-masing lebih dari 2%.
Gejolak Tarif
Presiden Trump kembali menegaskan kewenangannya untuk menaikkan tarif pada Senin, memperingatkan tarif yang lebih tinggi bagi negara-negara yang ingin “bermain-main” setelah Mahkamah Agung membatalkan tarif “resiprokal” miliknya pekan lalu.
Pernyataan itu muncul setelah Trump pada Sabtu mengatakan akan menaikkan tarif global menjadi 15%, dari sebelumnya 10% yang diumumkan pada Jumat. Trump menambahkan tarif baru tersebut akan berlaku segera, meskipun belum jelas apakah dokumen resmi telah ditandatangani terkait waktu pelaksanaannya. Ia juga menyatakan bahwa pungutan tambahan akan diberlakukan dalam beberapa bulan mendatang.
Pejabat Eropa menyatakan kekhawatiran atas langkah tersebut, yang dinilai dapat mengancam kesepakatan dagang mereka dengan AS. Bahkan, Parlemen Eropa pada Senin mengumumkan telah menghentikan sementara proses ratifikasi perjanjian perdagangan yang dicapai antara AS dan Uni Eropa.
Saham seperti Wayfair dan Nike — yang sempat melonjak pada sesi sebelumnya setelah putusan Mahkamah Agung — justru turun pada Senin.
Harga emas naik pada Senin karena tarif baru meningkatkan ketidakpastian pasar terhadap prospek inflasi dan pertumbuhan global. Harga emas spot melonjak lebih dari 2%, sementara kontrak berjangka emas naik lebih dari 3%.
Bitcoin anjlok hingga di bawah US$65.000. Aset kripto tersebut masih turun lebih dari 4% seiring aksi jual tajam yang berlanjut.
Volatilitas terkait kebijakan tarif global Trump — yang diberlakukan berdasarkan Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan 1974, yang memungkinkan presiden mengenakan tarif selama 150 hari sebelum memerlukan persetujuan Kongres — kemungkinan tidak akan mereda dalam waktu dekat.
Baca Juga
Kejutan Baru, Trump Naikkan Tarif Impor Global Jadi 15 Persen
“Pertanyaan besar bagi ekonomi adalah apa yang terjadi setelah jendela waktu ini, dan jika kebijakan tarif tetap di jalur ini, kita mungkin akan kembali ke Mahkamah Agung akhir tahun,” kata Michael Landsberg, chief investment officer di Landsberg Bennett Private Wealth Management, seperti dikutip CNBC. “Tarik-ulur soal tarif kemungkinan menjadi tema yang mengganggu pasar sepanjang sisa tahun ini, meskipun dengan volatilitas yang lebih rendah dibandingkan guncangan awal April lalu,” tambahnya.

