Wall Street Ambruk Gegara Ancaman Tarif Trump terhadap China, Dow Ambles Hampir 900 Poin
Poin Penting
- Dow Jones anjlok hampir 900 poin setelah Trump ancam tarif besar terhadap produk China.
- Saham teknologi seperti Nvidia, AMD, dan Tesla memimpin aksi jual akibat ketegangan dagang.
- Indeks volatilitas melonjak, investor buru-buru lindungi portofolio dari risiko penurunan.
- Penutupan pemerintahan AS memperburuk sentimen pasar dan tekan indeks mingguan.
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS terguncang pada Jumat waktu AS atau Sabtu (11/10/2025) WIB. Saham rontok menyusul ancaman Presiden Donald Trump untuk menaikkan tarif terhadap China. Trump menuduh negara itu “menjadi sangat bermusuhan” dengan pembatasannya terhadap logam tanah jarang, sumber daya utama bagi industri teknologi dan pertahanan.
Baca Juga
Perang Dagang Kembali Memanas, Trump Ancam Naikkan Tarif Besar-Besaran pada China
Aksi jual makin kencang menjelang penutupan, dengan Dow Jones Industrial Average ditutup turun 878,82 poin, atau 1,9%, menjadi 45.479,60. S&P 500 anjlok 2,71% menjadi 6.552,51, sedangkan Nasdaq Composite merosot 3,56% ke 22.204,43.
Penurunan S&P 500 merupakan yang terbesar sejak 10 April. Sebelum komentar Trump, saham-saham naik cukup signifikan, dengan Nasdaq mencetak rekor tertinggi intraday baru.
“Saya seharusnya bertemu Presiden Xi dalam dua minggu di APEC, di Korea Selatan, tapi sekarang tampaknya tidak ada alasan untuk melakukannya. Salah satu kebijakan yang sedang kami hitung saat ini adalah kenaikan besar-besaran tarif terhadap produk-produk China yang masuk ke Amerika Serikat,” beber Trump dalam unggahan di Truth Social.
Trump menuduh China menahan dunia “sebagai sandera” melalui sumber daya logam tanah jarangnya. Awal pekan ini, China memperketat kendali atas pasar dengan mewajibkan entitas asing untuk mendapatkan izin dari Beijing untuk mengekspor barang apa pun yang mengandung logam tanah jarang senilai 0,1% atau lebih dari nilai total barang tersebut.
“Harapan akan kesepakatan dagang dengan China kini lenyap dari meja perundingan,” ujar Jeff Kilburg, pendiri KKM Financial, seperti dikutip CNBC. Akibatnya, aksi 'profit taking' besar-besaran melanda bursa.
Indeks volatilitas CBOE Wall Street – ukuran ketakutan pasar – melonjak di atas 22, mengakhiri sekitar empat bulan kenaikan tenang S&P 500 ke rekor tertinggi. Lonjakan itu menandakan bahwa para trader bergegas membeli perlindungan di pasar opsi terhadap potensi penurunan yang lebih besar untuk indeks acuan tersebut.
Saham-saham teknologi yang paling rentan terhadap memburuknya hubungan dagang dengan China memimpin aksi jual cepat pada Jumat. Nvidia turun sekitar 5%, AMD jatuh hampir 8%, dan Tesla kehilangan sekitar 5%.
Sementara itu, harga minyak mentah AS juga turun karena investor semakin khawatir bahwa tarif yang lebih tinggi pada akhirnya dapat menekan permintaan.
“Tidak mengherankan melihat saham-saham terkait teknologi turun paling tajam hari ini karena mereka memiliki eksposur signifikan terhadap China, baik dalam manufaktur maupun sebagai pelanggan besar,” kata Art Hogan, kepala strategi pasar di B. Riley Wealth, kepada CNBC. “Jelas, hubungan kita dengan ekonomi terbesar kedua di dunia baru saja menjadi lebih sulit,” tambahnya.
Baca Juga
Wall Street Longsor Seiring Meningkatnya Kekhawatiran Dampak ‘Shutdown’
Kemunduran hubungan dengan China terjadi ketika penutupan pemerintahan AS memasuki hari ke-10 pada Jumat, menambah sentimen bearish untuk menutup pekan. Senat untuk ketujuh kalinya pada Kamis gagal meloloskan dua proposal pendanaan sementara yang akan mengakhiri penghentian kegiatan pemerintahan.
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda bahwa Partai Republik dan Demokrat mencapai kemajuan berarti dalam negosiasi.
Dengan penutupan yang masih berlangsung, PHK terhadap pekerja federal “telah dimulai,” kata kepala anggaran pemerintahan Trump, Russell Vought, dalam unggahan di media sosial pada Jumat.
Penurunan pada hari Jumat menghapus seluruh kenaikan S&P 500 selama pekan tersebut, dengan indeks acuan kehilangan 2,4% untuk periode itu. Nasdaq dan Dow juga mencatat kerugian mingguan masing-masing sebesar 2,5% dan 2,7%.

