Trump: Blokade Hormuz Guncang Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Presiden AS Donald Trump menegaskan akan mempertahankan blokade terhadap Selat Hormuz hingga Iran menyetujui kesepakatan nuklir. Industri minyak Iran akan kolaps dalam waktu dekat, bahkan Trump menyebut industri minyak negara teokrasi itu akan “meledak” dalam hitungan hari. Namun, pernyataan presiden Amerika Serikat (AS) itu dipatahkan oleh analisis sejumlah pakar energi global. Meski tekanan ekonomi terhadap Teheran meningkat tajam, kalangan analis menilai dampak kehancuran cepat tidak realistis dalam jangka pendek.
Dalam laporan CNBC yang dipublikasikan Kamis (30/04/2026), pukul 08.16 EDT (19.16 WIB), dan diperbarui sekitar satu jam kemudian, Trump menegaskan akan mempertahankan blokade hingga Iran menyetujui kesepakatan nuklir. Pernyataan ini menyusul komentarnya pada Minggu (27 April 2026), ketika ia mengatakan infrastruktur minyak Iran hanya memiliki “tiga hari sebelum meledak” akibat penumpukan produksi yang tak bisa diekspor.
Baca Juga
Ancaman Trump dan Blokade Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak, Brent Dekati US$120
Namun, para analis menilai klaim tersebut berlebihan. Kepala layanan risiko geopolitik di Rapidan Energy Group, Fernando Ferreira, menyebut Iran justru memiliki “runway” yang cukup panjang untuk bertahan. Ia memperkirakan Iran masih memiliki kapasitas penyimpanan minyak setidaknya selama 26 hari, bahkan bisa diperpanjang hingga lebih dari 70 hari jika memperhitungkan kapasitas tambahan di kapal tanker dan penyesuaian produksi.
“Iran sudah mempersiapkan skenario blokade. Mereka belajar dari kasus Venezuela dan siap bertahan berbulan-bulan,” kata Ferreira.
Kendati demikian, data dari firma pelacak kapal Kpler menunjukkan bahwa tidak ada kapal tanker Iran yang berhasil menembus zona blokade AS sejak kebijakan itu diberlakukan. Pengiriman minyak Iran anjlok drastis dari sekitar 2,1 juta barel per hari sebelum blokade menjadi hanya sekitar 567.000 barel per hari setelahnya.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada CNBC bahwa Iran kini kehilangan sekitar US$ 500 juta per hari akibat blokade tersebut. Namun tekanan ekonomi itu belum cukup untuk memicu kehancuran cepat pada infrastruktur energi Iran.
Pakar energi dari Center on Global Energy Policy, Antoine Halff, menjelaskan bahwa ladang minyak memang bisa rusak permanen jika dihentikan secara mendadak dan tidak terkontrol. Tetapi kapasitas penyimpanan yang dimiliki Iran memberi waktu bagi operator untuk menurunkan produksi secara bertahap dan aman.
“Jika dilakukan secara teratur, kerusakan bisa diminimalkan, bahkan mungkin tidak ada sama sekali. Tidak ada alasan infrastruktur itu akan ‘meledak’ seperti yang dikatakan,” ujar Halff.
Baca Juga
Konflik Selat Hormuz Picu Lonjakan Premi Asuransi, Begini Strategi Menghadapinya
Analisis senada juga disampaikan oleh berbagai lembaga internasional. Laporan International Energy Agency sebelumnya menunjukkan bahwa negara produsen minyak besar umumnya memiliki mekanisme teknis untuk mengelola penurunan produksi tanpa merusak reservoir. Sementara itu, analis dari Kpler, Homayoun Falakshahi, menilai Iran bahkan bisa memangkas produksi hingga hanya memenuhi kebutuhan domestik, sehingga tekanan pada kapasitas penyimpanan bisa ditekan.
Di sisi lain, ketegangan di Selat Hormuz tetap menjadi faktor utama yang mengguncang pasar global. Sejumlah laporan sebelumnya dari Reuters dan BBC News pada akhir April 2026 menyebut penutupan jalur vital tersebut telah mengurangi jutaan barel pasokan minyak global per hari, memicu lonjakan harga dan meningkatkan risiko perlambatan ekonomi dunia.
Dengan Iran masih memiliki sekitar 120 juta barel minyak yang tersimpan di kapal tanker di luar zona blokade—setara pendapatan sekitar dua bulan—para analis menilai pertarungan ini lebih merupakan adu ketahanan ekonomi antara Washington dan Teheran, bukan krisis instan seperti yang digambarkan Trump.
“Pertanyaannya bukan apakah Iran akan runtuh dalam hitungan hari, tetapi siapa yang punya daya tahan lebih panjang,” ujar Ferreira.
Dengan demikian, meski blokade AS memberikan tekanan signifikan terhadap ekonomi Iran, konsensus para ahli menunjukkan bahwa dampaknya akan bersifat bertahap—bukan ledakan dramatis dalam waktu dekat.
Rakyat Iran Terjepit
Sejumlah laporan internasional memperkuat gambaran tersebut. Reuters dan BBC News dalam publikasi akhir April 2026 menyebutkan bahwa blokade dan penutupan Selat Hormuz telah memperparah kondisi ekonomi Iran yang sebelumnya sudah rapuh akibat sanksi bertahun-tahun. Inflasi melonjak tajam, nilai tukar rial terdepresiasi, dan daya beli masyarakat jatuh signifikan.
Di dalam negeri, tekanan ekonomi itu diterjemahkan menjadi realitas yang keras bagi masyarakat. Harga kebutuhan pokok meningkat, barang impor semakin langka, dan pemerintah terpaksa memprioritaskan distribusi komoditas esensial. Laporan Al Jazeera menyoroti bagaimana otoritas Iran mulai mengalihkan fokus ekonomi ke kebutuhan dasar di tengah ketidakpastian perang, sebuah indikasi bahwa kondisi kesejahteraan publik sedang tertekan.
Namun, tekanan tidak hanya datang dari sisi ekonomi. Dalam situasi konflik dan blokade, peran aparat keamanan —termasuk Islamic Revolutionary Guard Corps— disebut semakin dominan dalam mengontrol stabilitas domestik. Sejumlah laporan media Barat menggambarkan meningkatnya pengawasan, penindakan terhadap dissent, serta penyempitan ruang sipil di tengah kondisi darurat nasional.
Baca Juga
Trump Ingatkan Iran “Segera Sadar”, Rial Ambruk, Korban Sipil Bertambah
Analis energi dari Center on Global Energy Policy, Antoine Halff, sebelumnya menegaskan bahwa Iran memiliki kapasitas teknis untuk mengelola produksi minyak tanpa merusak infrastruktur. Namun persoalan utama bukan lagi sekadar teknis, melainkan ketahanan ekonomi dan sosial dalam jangka menengah.
Sementara itu, analis dari Kpler mencatat ekspor minyak Iran telah merosot tajam sejak blokade diberlakukan. Dengan berkurangnya arus kas, tekanan terhadap anggaran negara meningkat, dan kemampuan pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik semakin terbatas.
Kondisi ini menciptakan dilema yang dalam: di satu sisi Iran masih mampu bertahan secara teknis dan logistik dalam jangka pendek, tetapi di sisi lain, tekanan ekonomi yang berkepanjangan berpotensi memperburuk kesejahteraan masyarakat.
Dengan demikian, alih-alih menjadi lebih sejahtera, ekonomi Iran justru bergerak ke arah sebaliknya melemah secara struktural. Rakyat sipil tidak hidup dalam kondisi aman dan makmur, melainkan berada dalam tekanan berlapis: inflasi tinggi, daya beli yang terus tergerus, serta situasi keamanan yang semakin ketat.
Blokade ini mungkin belum menjatuhkan Iran dalam hitungan hari, tetapi jelas telah menempatkan negara itu —dan terutama rakyatnya— dalam lintasan krisis yang kian dalam dan berkepanjangan.

