Trump: Perang Iran “Hampir Berakhir”, Blokade Hormuz AS Masuk Hari Kedua
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan perang terhadap Iran berada di ambang akhir, di tengah berlanjutnya blokade militer AS di Selat Hormuz yang kini memasuki hari kedua. Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara dengan Fox News pada Selasa (15/04/2026), sebagaimana dilaporkan Al Jazeera yang menayangkan perkembangan konflik secara langsung pada hari yang sama.
“Saya pikir perang ini hampir berakhir,” kata Trump, sembari membuka peluang dimulainya kembali perundingan langsung dengan Iran dalam beberapa hari ke depan. Ia menyebut Pakistan kembali berpotensi menjadi tuan rumah putaran kedua negosiasi setelah pembicaraan sebelumnya di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan.
Baca Juga
Blokade Hormuz Masuk Hari Kedua, Trump Isyaratkan Perundingan Baru
Di saat yang sama, militer AS mengklaim telah berhasil menghentikan secara total arus perdagangan laut Iran. Komando Pusat AS (US Central Command) menyatakan bahwa blokade di Selat Hormuz telah “sepenuhnya menghentikan perdagangan ekonomi yang masuk dan keluar Iran melalui laut”.
Langkah ini menandai eskalasi signifikan dalam konflik, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar sepertiga perdagangan minyak dunia. Namun demikian, laporan lain menunjukkan situasi di lapangan tidak sepenuhnya sejalan dengan klaim tersebut.
Sejumlah sumber internasional, termasuk laporan media Barat yang dirangkum oleh Sky News pada Rabu (15/4/2026), menyebutkan bahwa lebih dari 20 kapal komersial masih melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir, menunjukkan adanya celah dalam implementasi blokade. Perbedaan informasi ini mengindikasikan kompleksitas operasi militer di jalur pelayaran paling strategis di dunia tersebut.
Peluang Kesepakatan
Selain menyatakan perang mendekati akhir, Trump juga mengungkapkan optimisme terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Iran dalam waktu dekat. Dalam wawancara terpisah dengan Sky News yang ditayangkan Rabu (15/4/2026), Trump menyebut kesepakatan dengan Teheran “sangat mungkin” tercapai sebelum akhir bulan ini, bertepatan dengan rencana kunjungan Raja Inggris ke AS.
Wakil Presiden AS JD Vance juga menegaskan bahwa Washington tengah mendorong “kesepakatan besar” (grand bargain) dengan Iran, meskipun putaran negosiasi terakhir belum membuahkan hasil.
Baca Juga
Trump: Perundingan dengan Iran Bisa Dilanjutkan Dua Hari ke Depan
Di tengah ketegangan tersebut, negara-negara Teluk mulai aktif mendorong jalur diplomasi. Laporan lapangan Al Jazeera dari Kuwait City pada 15 April 2026 menyebut negara-negara kawasan ingin melibatkan Pakistan untuk menjembatani kembali dialog antara AS dan Iran.
Kekhawatiran utama negara-negara Teluk adalah dampak langsung terhadap ekonomi mereka, terutama karena ketergantungan tinggi pada ekspor minyak melalui Selat Hormuz. Di beberapa negara, hingga 90% ekspor energi bergantung pada jalur tersebut.
Sementara itu, konflik juga meluas ke kawasan lain. Israel dan Lebanon dilaporkan menggelar pembicaraan langsung yang jarang terjadi di Washington DC, di tengah terus berlanjutnya serangan militer Israel terhadap kelompok Hezbollah.
Tekanan internasional terhadap Israel pun meningkat. Inggris dan sejumlah negara lain menyerukan penghentian segera permusuhan di Lebanon, dengan alasan memburuknya situasi kemanusiaan dan meningkatnya jumlah pengungsi.
IMF: Risiko Resesi Menguat
Di tengah eskalasi konflik, International Monetary Fund memperingatkan bahwa konflik yang terus meluas dapat mendorong ekonomi global ke jurang resesi. Lembaga tersebut menilai gangguan terhadap pasokan energi, terutama dari kawasan Teluk, berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan memperburuk tekanan inflasi global.
Peringatan ini sejalan dengan berbagai analisis sebelumnya dari lembaga internasional dan media global seperti Reuters dan Bloomberg yang menyoroti dampak sistemik konflik terhadap pasar energi dan stabilitas ekonomi dunia.
Baca Juga
Tiga Tanker Terkait Iran Ditengarai Tembus Selat Hormuz di Tengah Blokade AS
Meski Trump menyatakan perang “hampir berakhir”, situasi di lapangan menunjukkan dinamika yang masih sangat cair. Blokade yang belum sepenuhnya efektif, pertempuran yang meluas ke Lebanon, serta ketergantungan global terhadap jalur energi di Hormuz menjadi faktor yang menjaga tingkat ketidakpastian tetap tinggi.
Dengan demikian, arah konflik dalam beberapa hari ke depan akan sangat ditentukan oleh keberhasilan diplomasi, terutama melalui jalur negosiasi yang difasilitasi oleh negara-negara pihak ketiga.

