AS Mulai Blokade Pelabuhan Iran di Hormuz, Paus Leo Kritik Keras Retorika Perang Trump
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Militer Amerika Serikat resmi memulai blokade terhadap seluruh kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran di kawasan Selat Hormuz pada Senin (13/04/2026), menyusul gagalnya perundingan damai antara Washington dan Teheran yang digelar akhir pekan di Islamabad, Pakistan.
Komando Pusat AS (US Central Command/Centcom) menyatakan bahwa blokade mulai berlaku pukul 10.00 waktu AS Timur (ET) atau sekitar pukul 21.00 WIB. Operasi ini mencakup seluruh kapal tanpa memandang bendera negara yang menuju atau meninggalkan pelabuhan Iran, dengan risiko “intersepsi, pengalihan, hingga penangkapan” bagi kapal yang melanggar. Demikian dilansir BBC dan Reuters, Senin (13/4/2026).
Meski demikian, militer AS menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak akan mengganggu kebebasan navigasi kapal yang melintas Selat Hormuz menuju pelabuhan non-Iran, di tengah kekhawatiran gangguan total terhadap jalur energi global.
Langkah ini diumumkan langsung oleh Presiden Donald Trump sehari sebelumnya, Minggu (12/4/2026), setelah negosiasi dengan Iran gagal mencapai kesepakatan, terutama terkait program nuklir Teheran. Trump menegaskan blokade ini bertujuan menekan ekspor minyak Iran.
Baca Juga
Namun, respons keras datang dari Iran. Garda Revolusi Iran (IRGC) memperingatkan akan memberikan respons tegas terhadap setiap kapal militer yang mendekati kawasan tersebut. Pemerintah Iran bahkan menyebut langkah AS sebagai “aksi pembajakan maritim” dan menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan.
Di tengah eskalasi tersebut, harga minyak dunia melonjak kembali di atas US$100 per barel. Minyak mentah Brent bahkan sempat menyentuh sekitar US$102 per barel, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap terganggunya pasokan energi global. Sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz, menjadikan kawasan ini sangat strategis bagi stabilitas energi global.
Dampaknya langsung terasa di pasar keuangan global. Bursa saham Eropa dibuka melemah, dengan indeks FTSE 100 Inggris turun 0,38%, CAC 40 Prancis melemah 0,95%, dan DAX Jerman turun sekitar 1%, mencerminkan meningkatnya ketidakpastian akibat konflik.
Sejumlah pemimpin dunia pun angkat suara. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan bahwa kebebasan navigasi di Selat Hormuz merupakan hal yang “sangat penting”, seraya mengungkap bahwa Uni Eropa telah menanggung lonjakan biaya energi lebih dari €22 miliar sejak konflik memanas.
Di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat, kritik tajam datang dari pemimpin Gereja Katolik, Pope Leo XIV. Dalam pernyataannya kepada wartawan pada Senin (13/4/2026), Paus menegaskan tidak akan terlibat dalam polemik dengan Presiden Trump, namun tetap konsisten menyuarakan perdamaian.
“Saya bukan politisi. Pesannya tetap sama, mempromosikan perdamaian,” ujar Paus, menanggapi kritik Trump yang sebelumnya menyebut sikapnya “buruk bagi kebijakan luar negeri”.
Baca Juga
Prabowo Bakal Temui Putin, RI-Rusia Didorong Suarakan Gencatan Senjata Permanen Iran-AS
Sebelumnya, pada Sabtu (12/4/2026), Paus Leo XIV juga menyerukan kepada komunitas internasional untuk mengakhiri “kegilaan perang” serta mengingatkan agar agama tidak dijadikan pembenaran untuk konflik bersenjata. Sikap ini mempertegas posisi moral Vatikan yang konsisten menolak eskalasi militer, terutama ketika dampaknya dirasakan oleh warga sipil.
Sementara itu, China dan sejumlah negara lain menyerukan penahanan diri dari semua pihak, mengingat 86% minyak yang melewati Selat Hormuz dikirim ke Asia. Gangguan terhadap jalur ini berpotensi mengguncang ekonomi global secara luas.
Dengan eskalasi militer yang meningkat, lonjakan harga energi, serta perbedaan sikap di antara kekuatan global, blokade Selat Hormuz oleh AS kini bukan hanya isu geopolitik, tetapi juga ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi dunia dan memicu peringatan moral bahwa perang, dalam bentuk apa pun, selalu meninggalkan biaya kemanusiaan yang besar.

