Konflik Selat Hormuz Picu Lonjakan Premi Asuransi, Begini Strategi Menghadapinya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah (Timteng), khususnya di sekitar Selat Hormuz, dinilai memberikan dampak signifikan terhadap industri asuransi global, termasuk di Indonesia. Risiko yang meningkat tajam akibat konflik tersebut mendorong lonjakan premi hingga pembatalan polis di sejumlah lini bisnis.
Praktisi Asuransi Sekaligus Chairman PT Jupiter Insurance Brokers & Consultant Kapler Marpaung mengungkapkan, kondisi ini merupakan konsekuensi logis dari meningkatnya risiko di kawasan strategis tersebut.
“Kalau di asuransi itu melihat apa risiko yang akan datang dan itu yang dihitungkan, itulah yang menentukan preminya. Sekarang sudah ada risikonya, sudah ada konflik. Tidak usah di Selat Hormuz, tapi di kawasan itu pun preminya akan naik karena risikonya tinggi,” kepada Investortrust, di Jakarta, Selasa (28/4/2026).
“Semakin tinggi risiko, maka semakin tinggi pula premi asuransi,” lanjut Kapler yang juga Dosen Program MM- FE&B Universitas Gadjah Mada ini.
Kondisi ini, kata dia, berpotensi menciptakan tekanan terhadap daya beli masyarakat, terutama jika konflik berlangsung dalam jangka panjang. Kenaikan premi asuransi bisa menjadi beban tambahan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
“Ini kan dilema,” kata Kapler.
Dalam situasi seperti ini, ia menekankan pentingnya strategi baik dari sisi perusahaan asuransi maupun masyarakat sebagai tertanggung. Perusahaan dituntut menyusun strategi korporasi yang adaptif, sementara masyarakat perlu lebih selektif dalam memilih produk asuransi.
Baca Juga
Dilema Aturan Permodalan Hingga PSAK 117 Bayangi Industri Asuransi
Ia menyarankan agar masyarakat fokus pada perlindungan dasar dan tidak memaksakan diri mengambil perluasan jaminan (riders) yang tidak mendesak. Misalnya untuk asuransi kesehatan, cukup ambil perlindungan dasar terlebih dahulu tanpa tambahan penyakit kritis.
“Umpamanya asuransi kendaraan, sudah cukup dengan asuransi risiko tabrakan, pencurian, kehilangan. Tidak perlu dibeli untuk risiko banjir, gempa bumi, terorisme. Karena kalau kita beli polis asuransi dengan banyak perluasan, itu preminya juga naik,” ucap Kapler.
Ia juga menekankan pentingnya meningkatkan kualitas risiko, baik dari sisi aset maupun individu. Menurutnya, risiko yang lebih rendah dapat berdampak pada premi yang lebih terjangkau.
“Sebagai manusia, kita tingkatkan kualitas risiko supaya tetap hidup sehat, supaya jangan preminya naik, supaya jangan sakit. Kalau umpamanya kita sehat dan tidak sakit, berarti premi kita pun bisa lebih rendah, lebih terjangkau,” ujar Kapler.

