Serangan Trump ke Fasilitas Nuklir Iran Guncang Dunia dan Picu Ancaman di Selat Hormuz
WASHINGTON, Investortrust.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Sabtu (21/6/2025) mengatakan, AS telah menyerang situs nuklir Iran, yang mendorong negara mereka ke dalam perang Israel dengan pesaing lamanya. Serangan ini mengguncang dunia sekaligus mengancam Selat Hormuz, jalur utama distribusi energi dunia.
“Militer AS melancarkan serangan presisi besar-besaran terhadap tiga fasilitas nuklir utama rezim Iran, yakni Fordo, Natanz, dan Isfahan,” kata Trump dalam pidato dari Gedung Putih.
Baca Juga
Serangan AS ke Iran Bisa Bikin IHSG Tertekan, Saham Energi Jadi Tumpuan
Kapal selam Angkatan Laut AS juga meluncurkan lebih 30 rudal Tomahawk ke Iran, dua pejabat pertahanan mengatakan kepada NBC News.
Trump mengatakan, AS dan Israel bekerja sebagai satu tim, yang mungkin belum pernah ada tim lain yang bekerja sama sebelumnya. "Kami berupaya menghapus ancaman mengerikan ini terhadap sekutu Amerika," kata Trump.
Presiden Trump mengucapkan selamat kepada militer AS atas operasi yang belum pernah dilihat dunia selama beberapa dekade. "Semoga kita tidak lagi membutuhkan jasa mereka dalam kapasitas ini,” kata dia.
“Akan ada perdamaian, atau ada tragedi bagi Iran yang jauh lebih besar dari yang kita saksikan dalam 8 hari terakhir. Ingat, masih banyak target yang tersisa,” kata Trump.
Baca Juga
AS Serang Fasilitas Nuklir Iran, Apa yang harus Dilakukan Indonesia?
AS bidik target lain jika Iran membalas
Trump menilai, serangan AS ke Iran itu mungkin yang paling mematikan. Namun, jika perdamaian tidak segera datang, AS akan mengejar target-target lainnya dengan presisi, kecepatan, dan keterampilan. "Sebagian besar dari mereka dapat dikalahkan dalam hitungan menit,” tambahnya.
Trump menyaksikan serangan yang berlangsung hari Sabtu itu dari ruang situasi Gedung Putih, tempat ia bergabung dengan tim keamanan nasionalnya dan para pembantu terdekatnya.
Presiden awalnya mengumumkan serangan tersebut di media sosial pada Sabtu. Dia menulis bahwa muatan penuh bom dijatuhkan di lokasi utama, Fordow.
Sebelumnya pada hari itu, beberapa pesawat pengebom siluman B-2 Angkatan Udara AS meninggalkan Missouri, menuju ke barat melintasi Samudra Pasifik. Pesawat-pesawat besar itu merupakan satu-satunya pesawat AS yang mampu membawa GBU-57 Massive Ordnance Penetrator (MOP), bom seberat 30.000 pon yang dikenal sebagai “penghancur bunker.”
Bom penghancur bunker dipandang sebagai satu-satunya senjata konvensional non-nuklir yang mampu menimbulkan kerusakan serius pada fasilitas nuklir Fordo, yang dibangun di sisi gunung.
Tindakan Sabtu menempatkan Amerika Serikat dalam konflik bersenjata langsung dengan Iran, peningkatan besar dalam keterlibatannya dengan upaya Israel melumpuhkan program nuklir Teheran dan menggulingkan rezimnya.
Trump berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu setelah serangan AS, kata seorang pejabat Gedung Putih kepada NBC News.
Hal ini juga menandai perubahan besar dari 48 jam lalu, ketika Trump mengatakan Amerika Serikat akan membutuhkan waktu 2 minggu untuk melihat apakah konflik antara Israel dan Iran dapat diselesaikan secara diplomatis.
Baca Juga
Ini Dia Hantu Biang Kerok Yang Disebut-sebut Mengebom Fasilitas Nuklir Iran di Fordow
Di balik layar, pemerintahan Trump berupaya mencapai kesepakatan dengan Iran mengenai program nuklirnya. Bahkan Trump dalam beberapa bulan terakhir dilaporkan mendesak Netanyahu untuk menunda serangan.
Respons Ayatollah Ali Khamenei
Jalur diplomatik itu kini mungkin telah ditutup. Ayatollah Ali Khamenei dari Iran baru-baru ini mengatakan bahwa setiap masuknya militer Amerika niscaya akan menemui kerusakan yang tidak dapat diperbaiki.
“Jika mereka masuk secara militer, mereka akan menghadapi bahaya yang tidak dapat mereka atasi,” tambahnya dalam sebuah pernyataan yang dibacakan di televisi pemerintah Iran.
Setelah serangan AS, tidak jelas pilihan apa yang tersisa untuk pembalasan Iran terhadap Amerika Serikat.
"Salah satu kemungkinan yang berdampak langsung pada ekonomi global dan rantai pasokan adalah jika Teheran memasang ranjau darat di Selat Hormuz," kata Kepala Strategi Komoditas Global di RBC Capital Markets Helima Croft.
Perairan sempit antara Iran dan Oman merupakan titik transit sekitar 20% minyak dunia, melalui kapal tanker. Ranjau darat secara efektif akan menutup selat tersebut, karena kapal tidak akan tahu ranjau ditempatkan.
“Kami sudah menerima laporan bahwa Iran sedang mengganggu transponder kapal dengan sangat, sangat agresif,” kata Croft.

