Pakar Siber: Agar Peretasan Indodax Tak Terulang, Pedagang Aset Kripto Perlu Perhatikan Ini
JAKARTA, investortrust.id - Pubik dihebohkan oleh kejadian peretasan yang menimpa salah satu perusahaan perdagangan aset digital atau exchange Indodax baru-baru ini. Apalagi kerugian dari kasus ini ditaksir mencapai US$ 20,58 juta atau setara Rp 317,24 miliar.
Pakar Keamanan Siber Vaksincom Alfons Tanujaya menyatakan, ada sejumlah hal yang perlu dilakukan bagi Indodax maupun perusahaan perdagangan aset digital lainnya ke depan agar kasus seperti ini tidak terulang kembali, utamanya menjaga kunci pengamanan dan proses pengamanan transaksi dengan sebaik-baiknya.
“Melakukan kontrol ketat pada anomali transaksi dengan menghentikan transaksi yang tidak biasa atau melakukan verifikasi tambahan pada transaksi besar yang tidak biasa dan menyebabkan anomali,” ujarnya, ketika dihubungi investortrust.id, Jumat (13/9/2024).
Menurutnya, insiden peretasan tersebut mengejutkan publik, pasalnya Indodax merupakan salah satu platform perdagangan kripto terbesar di Indonesia. Setelah kepercayaan masyarakat diuji terhadap keamanan siber dari institusi pemerintahan yang tak dikelola dengan baik oleh Indonesia, sekarang hal serupa terjadi di sektor swasta.
“Kali ini justru lembaga swasta yang bergerak dalam bisnis kripto yang sangat padat teknologi dan security menjadi korban eksploitasi,” kata Alfons.
Baca Juga
Kelompok Hacker Lazarus Asal Korea Utara Diduga Jadi Biang Kerok Peretasan Indodax
Ia mengungkapkan, jika kerugian dana dari peretasan ini masih dalam tingkat yang mampu diserap oleh Indodax maka dampaknya kemungkinan besar akan sangat kecil bagi kerugian aset-aset para anggotanya.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Blockchain Indonesia dan Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (ABI-Aspakrindo) dan CCO Reku Robby Bun mengatakan, selain menjaga password yang menjadi dasar pengamanan yang dilakukan pengguna, namun pada dasarnya pengguna harus memahami bahwa pedagang aset kripto merupakan tempat melakukan transaksi jual beli aset.
“Terkait penyimpanan tetap pengguna diharapkan dapat melakukan self kustodi. Apakah lebih aman? Iya, namun jika tidak memiliki pengetahuan lebih baik self kustodi juga memiliki resiko,” ujarnya kepada investortrust.id, Jumat (13/9/2024).
Ia pun meyakini kasus peretasan ini tidak membuat industri kripto ditinggalkan oleh para penggemarnya. Apalagi digitalisasi makin menjadi kebutuhan saat ini. “Harusnya saat ini transaksi aset kripto masih berjalan dengan normal yah,” katanya.
Baca Juga
Sudah 2 Hari Lebih Indodax Maintenance, Padahal Hacker Cuma Perlu 2 Jam untuk Bobol
Sebelumnya, Chief Technology Officer (CTO) Indodax William Sutanto menyatakan, pihaknya akan menanggung kerugian atas kasus peretasan ini. ”Your assets are SAFU,” cuitnya di X.
SAFU adalah secure asset fund for users alias aset aman untuk pengguna. Perusahaan memiliki cadangan dana yang disisihkan untuk melindungi aset pengguna dari potensi kerugian atau peretasan.
Di lain sisi, CEO Indodax Oscar Darmawan mengungkapkan, saat ini pihaknya telah melakukan investigasi siber forensik atas seluruh basis data, perangkat lunak (software) dan server terus dilakukan bersama dengan pihak eksternal.
“Kami secara rutin akan memberikan perkembangan hasil investigasi. Kami ingin memastikan sistem kembali berjalan normal tanpa ada risiko keamanan,” ujarnya, melalui akun instagram pribadi, Kamis sore (12/9/2024).
Ia juga memastikan jika dana pengguna, baik dalam bentuk rupiah maupun aset kripto terjamin keamanannya 100%. “Kami akan mengeluarkan proft of reserve milik Indodax, sehingga anggota bisa melihat aset kripto 100% sesuai saldo wallet,” kata Oscar.

