Kelompok Hacker Lazarus Asal Korea Utara Diduga Jadi Biang Kerok Peretasan Indodax
JAKARTA, investortrust.id - Peretasan salah satu platform exchange kripto terbesar di Indonesia yaitu Indodax yang terjadi dua hari lalu, atau tepatnya Rabu (11/9/2024) pafi, diduga merupakan hasil tindakan kelompok peretas atau hacker asal Korea Utara, Lazarus.
Melansir News Bitcoin, Jumat (13/9/2024), perusahaan keamanan Web3 Cyvers mengungkapkan, bahwa pada Rabu lalu mereka mendeteksi sejumlah transaksi mencurigakan yang melibatkan platform exchange Indodax.
“Kelompok Lazarus diduga terlibat. Meski masih terlalu dini untuk mengkonfirmasinya, tapi kecepatan dan kecanggihan serangan itu sangat mirip dengan Lazarus Korea Utara, yang terkenal dengan peretasan lintas rantai yang rumit,” ujar Cyvers, dalam cuitan di akun resminya @CyversAlerts, Jumat (13/9/2024).
Menanggapi hal tersebut, Kepala AI Cyvers Yosi Hammer mengatakan bahwa dugaan tersebut masih terlalu dini. Tapi tidak bisa dipungkiri karakteristiknya mirip-mirip dengan praktik kejahatan yag dilakukan Lazarus Group.
Baca Juga
Sudah 2 Hari Lebih Indodax Maintenance, Padahal Hacker Cuma Perlu 2 Jam untuk Bobol
Namun begitu, lanjutnya, firma keamanan sekarang ingin menentukan apakah proses pencucian uang dalam serangan kejahatan ini cocok dengan kelompok yang diduga berasal dari Korea Utara tersebut.
Sebagai informasi, Lazarus Group terkenal karena berbagai serangan siber berskala besar, termasuk serangan ransomware, pencurian uang digital, dan spionase di dunia maya. Lazarus Group mulai dikenal luas usai sejumlah serangan besar seperti di Sony pictures pada 2014, serangan di Bank Sentral Bangladesh pada 2016, serangan WannaCry pada 2017.
Baca Juga
Indodax kena Hack dan hingga Saat ini Masih Maintenance, 6,8 Juta Pelanggannya Dag Dig Dug
Selain itu, kelompok ini dikabarkan juga aktif dalam serangan pencurian aset kripto, yang nantinya digunakan untuk membiaya rezim Korea Utara khususnya dalam menghadapi sanksi internasional. Kelompok ini telah menjadi subjek investigsi dan sanksi oleh beberapa negara, termasuk Amerika Serikat (AS).
Akibat peretasan tersebut, saat ini kerugian Indodax ditaksir mencapai US$ 20,58 juta atau setara Rp 317,24 miliar. Jika dirinci kerugian berdasarkan rantai, paling besar berasal dari ETH dengan kerugian US$ 13,3 juta, disusun Polygon dan TRON masing-masing US$ 2,5 juta, Bitcoin US$ 1,4 juta, dan OP US$ 883.000.
“Kami mengidentifikasi pelanggaran keamanan signifikan yang menargetkan Indodax yang mengakibatkan kerugian lebih dari US$ 20,58 juta di berbagai rantai,” tulis Cyvers Alerts.

