Insiden Peretasan Indodax, Pemerintah Perlu Siapkan Aturan Khusus Perdagangan Aset Kripto
JAKARTA, investortrust.id - Dugaan peretasan yang dialami oleh platform perdagangan aset kripto Indodax menjadi peringatan bagi pemerintah untuk segera menyiapkan aturan khusus untuk mengamankan aset kripto dari ancaman kejahatan siber.
Menurut Chairman lembaga riset siber Communication and Information System Security Research Center (CISSReC) Pratama Persadha, insiden tersebut makin menegaskan perlunya aturan yang lebih ketat dan peningkatan kesadaran tentang risiko terkait aset kripto. Pemerintah juga dinilai perlu meninjau langkah-langkah keamanan yang harus diambil apabila terjadi peretasan terhadap platform perdagangan aset kripto.
"Pentingnya deteksi dini ancaman dan tindakan cepat dalam menanggapi serangan peretasan. Karena jika deteksi atas adanya peretasan ini langsung diketahui tim keamanan Indodax, maka langkah pencegahan seperti melakukan isolasi sistem bisa dilakukan untuk mencegah kerugian yang lebih besar," katanya kepada Investortrust pada Jumat (13/9/2024).
Baca Juga
Lebih lanjut, Pratama menjelaskan bahwa insiden yang dialami oleh Indodax memperlihatkan betapa pentingnya keberadaan sistem pemantauan sistem pemantauan untuk mendeteksi transaksi yang mencurigakan, memastikan kode program diuji dengan baik dan diaudit untuk meminimalkan kemungkinan peretasan. Kemudian sistem tersebut juga harus bisa menghentikan sementara protokol jika terjadi peretasan, melakukan pendekatan keamanan berlapis.
"Termasuk langkah-langkah teknis yang kuat, penggunaan cold storage untuk menyimpan aset kripto secara offline, penggunaan multi factor authentication (otentikasi multifaktor), pelatihan karyawan, melakukan update secara berkala, dan audit keamanan secara terus menerus," tuturnya.
Pemilik pltform perdagangan aset kripto dan juga penggunanya harus tetap waspada dan proaktif dalam melindungi aset digital mereka. Menurut Pratama, peretasan terhadap Indodax menjadi pengingat bahwa keamanan bukanlah sebuah hasil akhir namun adalah sebuah proses berkelanjutan yang memerlukan perhatian dan perbaikan terus-menerus. "Karena yang kita yakini aman pada saat ini belum tentu masih akan tetap aman keesokan harinya," tegasnya.
Baca Juga
Habis Diretas Indodax Malah Giveaway, Begini Tanggapan Bappebti
Pratama menyebut peretasan dan pencurian terhadap platform aset kripto seperti yang dialami oleh Indodax sebenarnya bukan hal baru. Sebuah laporan dari PeckShield mengungkapkan bahwa pada bulan Juni 2024, peretas berhasil mencuri US$ 176 juta, meskipun angka tersebut lebih kecil jika dibandingkan dengan kerugian pada Mei 2024 yang menyebabkan US$ 574 juta yang berhasil dicuri oleh peretas.
"Sebagian besar peretasan menargetkan protokol DeFi sebesar 60% dari keseluruhan platform, akan tetapi platform terpusat seperti Indodax juga mengalami kerusakan hingga 40%. Bursa kripto global yang telah menjadi sasaran peretas di masa lalu yang menyoroti kerentanan aset digital dan perlunya langkah-langkah keamanan yang kuat," paparnya.
Seperti diketahui, berdasarkan cuitan di akun X (d/h Twitter) resmi perusahaan keamanan Web3, Cyvers Alerts @CyversAlerts, Rabu (11/9/2024), Indodax diduga mengalami peretasan yang terdeteksi lewat beberapa transaksi mencurigakan.
Baca Juga
Indodax Diretas Rugi Ratusan Miliar, Daftar Peretasan Kripto Tambah Panjang
“Peringatan Hai @indodax, sistem kami telah mendeteksi beberapa transaksi mencurigakan yang melibatkan dompet anda di jaringan yang berbeda. Alamat yang mencurigakan sudah menampung 14,4 juta USD dan menukar token ke Ether,” tulis akun X @CyversAlerts.
“Kami telah mendeteksi lebih dari 150 transaksi dan total kerugian $ 18,2 juta, @indodax mohon ambil tindakan,” tulisnya lagi.
Saat transaksi tersebut pertama kali terdeteksi, ada alamat yang dilaporkan memegang aset senilai sekitar US$ 14,4 juta atau setara dengan Rp 221,8 miliar yang kemudian ditukarkan menjadi Ether (ETH).
Tak lama berselang, Cyvers Alerts kembali mendeteksi lebih dari 150 transaksi mencurigakan lainnya. Saat ini, total kerugian akibat peretasan tersebut diperkirakan mencapai US$ 18,2 juta atau sekitar Rp 280,3 miliar.
Baca Juga
Indodax kena Hack dan hingga Saat ini Masih Maintenance, 6,8 Juta Pelanggannya Dag Dig Dug
Tak lama berselang, Cyvers Alerts kembali mendeteksi lebih dari 150 transaksi mencurigakan lainnya. Saat ini, total kerugian akibat peretasan tersebut diperkirakan mencapai US$ 18,2 juta atau sekitar Rp 280,3 miliar.
CEO Indodax Oscar Darmawan membenarkan bahwa pihaknya diduga mengalami peretasan. Walaupun demikian, dia meminta masyarakat maupun investor tidak perlu khawatir dengan insiden tersebut.
“Sistem transaksi kami betul diduga mengalami peretasan. Untuk itu, kami melakukan investigasi dan pemeliharaan menyeluruh terhadap sistem yang ada. Selama proses ini, platform web dan aplikasi Indodax tidak dapat diakses. Namun, tidak perlu khawatir, karena kami pastikan bahwa saldo pelanggan akan aman, baik secara kripto maupun rupiah,” ujar Oscar melalui keterangan resmi Indodax, dikutip Jumat (13/9/2024).

