Giveaway dari Tokoh Jadi Modus Penipuan Online Paling Marak di Indonesia
JAKARTA, investortrust.id - Praktik penipuan dengan personifikasi atau impersonator menjadi modus kejahatan di dunia maya yang banyak digunakan oleh pelaku kejahatan siber di Asia, termasuk Indonesia. Hal itu berdasarkan analisis Interpol Global Financial Fraud Assessment pada Maret 2024.
VP Financial Service Risk Management DANA Fath Ade Surya dalam acara Dialog DANA: Bersinergi Menjaga Keamanan dari Kejahatan Siber, di Capital Place, Jakarta, Kamis (26/9/2024) mengatakan praktik personifikasi adalah praktik penipuan yang mengatasnamakan tokoh masyarakat atau pihak tertentu. Diungkapkan, para pelaku penipuan kerap mengaku tokoh terkenal yang memberikan hadiah secara cuma-cuma atau giveaway.
Baca Juga
Kerap Digunakan untuk Deposit Judi Online, Begini Tanggapan DANA
"Para penjahat pura-pura mengaku sebagai tokoh masyarakat yang memberi giveaway atau hadiah,” katanya dalam acara Dialog DANA: Bersinergi Menjaga Keamanan dari Kejahatan Siber di Capital Place, Jakarta Selatan, Kamis (26/9/2024).
Hal ini didukung oleh Riset Center for Digital Society di Universitas Gadjah Muda pada 2022, Riset tersebut mengungkapkan 91,2% penipuan finansial yang terjadi di Indonesia paling banyak adalah berkedok pemberian hadiah.
Di Amerika, modus penipuan daring atau online yang paling banyak dilakukan adalah advanced payment fraud. Contohnya, pelaku mengaku sebagai penjual produk tertentu yang kemudian tidak mengirimkan produk ke konsumen mesti transaksi pembayaran sudah dilakukan.
Tidak hanya itu, di Amerika juga marak terjadi tindak kejahatan siber menggunakan teknologi canggih, termasuk memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
"Jadi, di sana lebih banyak klaster itu menggunakan teknologi yang advanced (canggih) untuk melakukan pencurian online," ungkapnya.
Baca Juga
Menteri PANRB Terbitkan Surat Edaran untuk Cegah ASN Terlibat Judi Online
Sementara itu, di Eropa pelaku kejahatan siber lebih banyak mengincar perusahaan atau entitas bisnis. Mereka melakukan pengelabuan (phising) untuk mencuri data atau mengakses sistem tertentu secara ilegal.
"Jadi biasanya mereka phishing menggunakan email (surel), jadi di ike pegawainya, pegawainya tulis email, datanya dicuri, nah kita ingin buat dikira, terus di ransomware," tuturnya.
Terakhir, di Afrika tindak kejahatan siber yang banyak dilakukan adalah kencan palsu. Pelaku dan korban berkenalan lewat platform media sosial atau kencan online.
"Ini agak unik loh romance fraud di Afrika, jadi kayaknya mereka tuh ditipu, ada orang yang terlalu berkenalan, terlalu dekat kemudian diminta untuk mengirimkan uang," ujarnya

