Memanas, Ancaman Trump Terhadap Iran Soal Selat Hormuz Picu Harga Kripto Berguguran
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Pasar kripto mengalami tekanan tajam setelah serangkaian unggahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Truth Social memicu kekhawatiran geopolitik baru. Dalam waktu satu jam setelah unggahan tersebut, likuidasi di pasar derivatif kripto mencapai sekitar US$ 243 juta dan mendorong total kerugian harian menjadi US$ 279 juta.
Melansir Bitcoin.com, Minggu (22/3/2026) posisi long tercatat sebagai yang paling terdampak dalam aksi jual tersebut. Hingga periode perdagangan yang sama, sekitar 78.694 trader kripto dilikuidasi.
Bitcoin turun 2,4% dalam sehari dan sempat menyentuh titik terendah sesi di level US$ 68.241 di Bitstamp. Sementara itu, Ethereum dan sejumlah altcoin utama tercatat melemah lebih dari 3%.
Baca Juga
Ketegangan Memuncak, Trump Ancam Hantam Pembangkit Iran Jika Selat Hormuz Tak Dibuka 48 Jam
Tekanan pasar terjadi setelah Trump mengunggah pernyataan keras terkait Iran. Sebelum menyampaikan ancaman yang menargetkan infrastruktur listrik Iran, Trump mengklaim Amerika Serikat telah “menghancurkan Iran”. Ia juga menyatakan bahwa langkah AS berjalan “beberapa minggu lebih cepat dari jadwal” serta menyebut kepemimpinan Iran telah lumpuh, sementara kekuatan angkatan laut dan angkatan udaranya disebut telah hancur.
“If Iran doesn’t FULLY OPEN, WITHOUT THREAT, the Strait of Hormuz, within 48 HOURS from this exact point in time, the United States of America will hit and obliterate their various POWER PLANTS, STARTING WITH THE BIGGEST ONE FIRST,” tulis Trump, yang sedang berada di rumahnya di Florida untuk akhir pekan, menulis di Truth Social pada Sabtu (21/3/2026) pukul 23:44 GMT atau Minggu (22/3/2026) pukul 06.44 WIB.
Presiden Trump menyatakan dengan jelas dalam unggahannya di Truth Social. Iran memiliki waktu 48 jam "dari titik waktu tepat ini" untuk membuka jalur air sepenuhnya dan "tanpa ancaman".
Trump mengunggah pada pukul 23:44 GMT tanggal 21 Maret. Itu berarti Iran memiliki waktu hingga pukul 23:44 GMT tanggal 23 Maret (03:14 di Teheran tanggal 24 Maret) untuk membuka Selat tersebut.
Baca Juga
Trump Sebut NATO “Pengecut”, Krisis Hormuz Dorong Harga Minyak Tembus US$100 per Barel
Pernyataan tersebut mempercepat respons negatif pasar, dengan pelaku pasar melihat perkembangan geopolitik sebagai faktor utama yang menggerakkan harga dalam jangka pendek, melampaui faktor fundamental internal kripto.
Pelaku pasar kini mencermati apakah Bitcoin mampu mempertahankan area support US$ 68.000 tersebut setelah gelombang likuidasi mereda dan posisi pasar kembali disesuaikan. Jika ketegangan di sekitar Selat Hormuz terus meningkat, volatilitas diperkirakan tetap tinggi. Sebaliknya, jika tekanan geopolitik mereda, Bitcoin berpeluang mencoba merebut kembali level yang hilang dan kembali membangun kisaran harga di atas US$ 70.000.

