Perang Iran Memanas Hari Keempat: Serangan AS–Israel Meluas, Selat Hormuz Nyaris Lumpuh dan Dunia Khawatir Krisis Energi Global
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel memasuki hari keempat dengan eskalasi yang semakin luas dan kompleks.
Serangan udara baru menghantam Teheran dan Beirut, sementara Iran meluncurkan gelombang serangan balasan menggunakan rudal balistik dan drone ke berbagai target di kawasan Teluk.
Konflik yang berkembang cepat ini tidak hanya memperluas medan pertempuran di Timur Tengah, tetapi juga mulai mengganggu jalur energi global, mengguncang pasar keuangan dunia, dan memicu kekhawatiran akan krisis geopolitik yang lebih besar.
Militer Amerika Serikat menyatakan operasi udara yang dilakukan bersama Israel telah secara signifikan melemahkan kemampuan militer Iran. Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper mengatakan, sejak operasi dimulai pada 28 Februari, pasukan AS telah menyerang hampir 2.000 target militer di Iran. Target tersebut meliputi sistem pertahanan udara, fasilitas peluncuran rudal balistik, depot drone, hingga infrastruktur militer strategis lainnya.
“Kami telah secara serius melumpuhkan sistem pertahanan udara Iran dan menghancurkan ratusan rudal balistik, peluncur, serta drone milik Iran,” kata Cooper dalam pernyataan yang dipublikasikan di platform X. “Sederhananya, kami berfokus menghancurkan semua yang bisa menembak ke arah kami.”
Dalam operasi yang sama, militer AS menyatakan sedikitnya 17 kapal Iran telah dihancurkan. Washington juga mengklaim saat ini tidak ada kapal militer Iran yang beroperasi di Teluk Arab, Selat Hormuz, maupun Teluk Oman.
Namun di sisi lain, Iran tetap melancarkan serangan balasan besar-besaran. CENTCOM menyebut Teheran telah menembakkan lebih dari 500 rudal balistik dan lebih dari 2.000 drone ke berbagai target di kawasan. Serangan tersebut menyasar pangkalan militer Amerika Serikat di negara-negara Teluk, fasilitas energi, serta target di Israel.
Serangan drone terhadap fasilitas militer AS di Kuwait bahkan menewaskan empat prajurit Army Reserve Amerika Serikat. Departemen Pertahanan AS mengidentifikasi korban sebagai Capt. Cody A. Khork (35) dari Winter Haven, Florida; Sgt. 1st Class Noah L. Tietjens (42) dari Bellevue, Nebraska; Sgt. 1st Class Nicole M. Amor (39) dari White Bear Lake, Minnesota; serta Sgt. Declan J. Coady (20) dari West Des Moines, Iowa. Keempatnya bertugas di 103rd Sustainment Command yang berbasis di Des Moines, Iowa.
Baca Juga
Menlu Sugiono Hubungi AS dan Iran Terkait Kesiapan Prabowo Jadi Mediator Konflik
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengatakan, Washington memutuskan bergabung dengan operasi militer Israel karena meyakini Iran sedang mempersiapkan serangan besar. Menurut Trump, operasi tersebut dilakukan sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman yang dinilai semakin dekat.
“Kami sedang melakukan negosiasi dengan mereka, tetapi menurut saya mereka akan menyerang terlebih dahulu,” kata Trump kepada wartawan.
Trump juga menegaskan, Israel tidak mendorong Amerika Serikat untuk terlibat dalam perang tersebut. Ia bahkan menyatakan kemungkinan justru dirinya yang mempercepat keputusan Israel untuk bertindak.
Pernyataan Trump ini memicu perdebatan di Washington karena sebelumnya Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio menyatakan operasi militer dilakukan karena Washington memperkirakan Iran akan menyerang pasukan Amerika setelah Israel melancarkan serangan ke Teheran.
Perbedaan penjelasan tersebut memicu kritik dari sejumlah komentator konservatif yang menilai pemerintah AS gagal memberikan narasi yang konsisten mengenai latar belakang perang. Gedung Putih pun dilaporkan melakukan upaya pengendalian komunikasi untuk meredam kontroversi politik di dalam negeri.
Di lapangan, konflik terus meluas ke negara-negara sekitar. Militer Israel melancarkan serangan udara baru terhadap target di Teheran dan Beirut. Bahkan pasukan Israel dilaporkan telah melakukan operasi darat di Lebanon selatan untuk menghentikan serangan roket kelompok Hizbullah yang didukung Iran.
Pemerintah Lebanon merespons eskalasi tersebut dengan langkah politik besar. Menteri Luar Negeri Lebanon, Youssef Raggi mengumumkan bahwa Dewan Menteri Lebanon memutuskan melarang seluruh aktivitas militer dan keamanan Hizbullah. Keputusan itu juga mewajibkan kelompok tersebut menyerahkan senjatanya kepada negara, sementara Angkatan Bersenjata Lebanon ditugaskan mengambil alih kendali seluruh persenjataan.
Korban sipil terus bertambah di berbagai wilayah Timur Tengah. Bulan Sabit Merah Iran melaporkan sedikitnya 787 orang tewas akibat serangan udara AS–Israel di Iran. Korban juga tercatat di Israel, Lebanon, Bahrain, Oman, dan Uni Emirat Arab. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan tiga paramedis tewas dan enam lainnya terluka ketika mengevakuasi korban di Distrik Tyre, Lebanon, setelah serangan udara Israel.
Di sebuah kota di Iran selatan, ribuan warga menghadiri pemakaman korban serangan udara terhadap sebuah sekolah dasar putri yang dilaporkan menewaskan sedikitnya 175 orang. Tragedi tersebut memperlihatkan dampak kemanusiaan yang semakin besar dari konflik yang berkembang cepat ini.
Ketegangan juga meningkat di dalam negeri Iran setelah kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara Israel yang disebut bersifat terarah. Para ulama diperkirakan segera mengumumkan penggantinya, sementara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan mengirim pesan singkat kepada warga untuk memperingatkan agar tidak melakukan demonstrasi.
Pesan tersebut menyatakan bahwa setiap tindakan yang dianggap mengganggu keamanan negara akan diperlakukan sebagai kerja sama dengan musuh dan akan ditindak tegas.
Situasi keamanan yang memburuk memicu gelombang evakuasi internasional. Amerika Serikat menutup sejumlah kedutaan besarnya di Arab Saudi, Kuwait, dan Beirut setelah serangan drone menghantam fasilitas diplomatik AS di kawasan. Washington juga memerintahkan evakuasi personel nondarurat dari enam negara Teluk.
Baca Juga
Departemen Luar Negeri AS kini menyiapkan pesawat militer dan penerbangan carter untuk membantu warga Amerika keluar dari kawasan Timur Tengah. Sekitar 9.000 warga AS dilaporkan telah meninggalkan kawasan dengan inisiatif sendiri sejak konflik pecah.
Negara-negara lain juga melakukan langkah serupa. Prancis memperkirakan sekitar 400.000 warganya berada di Timur Tengah, sementara India dan sejumlah negara Eropa mulai menyiapkan penerbangan darurat untuk mengevakuasi warga mereka.
Di tengah eskalasi perang, jalur energi global mulai terganggu. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz—jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman—nyaris lumpuh karena meningkatnya risiko serangan militer.
Selat tersebut merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia karena sekitar 20% perdagangan minyak mentah global yang diangkut melalui laut melewati kawasan ini. Selain itu, sekitar 20% kapal tanker gas alam cair (LNG) dan hampir sepertiga perdagangan pupuk dunia juga melewati jalur tersebut.
Data pelacakan kapal menunjukkan aktivitas pelayaran turun drastis. Pada 2 Maret hanya tujuh kapal yang tercatat melintasi selat tersebut—turun sekitar 60% dibandingkan hari sebelumnya dan jauh di bawah rata-rata harian sekitar 79 kapal.
Setidaknya lebih dari 150 kapal tanker minyak dan gas kini berlabuh di kawasan Teluk sambil menunggu situasi keamanan membaik. Angka tersebut setara sekitar 4% dari total armada tanker global berdasarkan tonase.
Ketegangan meningkat setelah Iran mengklaim telah menyerang kapal tanker bahan bakar berbendera Honduras, Athe Nova, dengan dua drone di Selat Hormuz. Serangan itu menyebabkan kapal terbakar. Dua kapal tanker lain juga dilaporkan diserang di lepas pantai Oman sehari sebelumnya, menewaskan satu awak kapal.
Ancaman terhadap jalur pelayaran tersebut membuat perusahaan asuransi maritim menarik perlindungan risiko perang bagi kapal yang beroperasi di kawasan Teluk. Pasar asuransi maritim London juga memperluas wilayah yang dikategorikan berisiko tinggi, termasuk perairan di sekitar Bahrain, Djibouti, Kuwait, Oman, dan Qatar.
Gangguan terhadap jalur energi ini memicu lonjakan tajam biaya pengiriman. Tarif sewa tanker minyak raksasa (VLCC) dari Timur Tengah ke China melonjak hingga lebih dari US$ 424.000 per hari—empat kali lipat dari sekitar US$ 100.000 per hari dalam beberapa pekan sebelumnya.
Baca Juga
Prabowo Silaturahmi dengan Tokoh Nasional, Bahas Dampak Perang Iran dan Ekonomi Dunia
Sebagai respons terhadap krisis tersebut, Presiden Trump mengatakan Angkatan Laut AS sedang mempertimbangkan pengawalan kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz. Namun sumber industri pelayaran menilai jumlah kapal perang AS mungkin tidak cukup untuk mengawal seluruh kapal dagang yang melintas di kawasan tersebut.
Beberapa negara produsen energi mulai mencari jalur alternatif ekspor. Perusahaan minyak nasional Saudi Aramco dilaporkan mengalihkan sebagian ekspor minyak mentahnya melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah guna menghindari Selat Hormuz.
Sebagian fasilitas energi juga mulai terdampak. Qatar dilaporkan menghentikan operasi terminal LNG yang menyumbang sekitar 20% ekspor gas alam cair dunia. Arab Saudi juga menghentikan operasi di kilang domestik terbesarnya.
China sebagai importir energi terbesar dunia turut menyuarakan kekhawatiran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning mendesak semua pihak segera menghentikan operasi militer dan menjamin keselamatan navigasi di Selat Hormuz.
“Semua pihak harus segera menghentikan operasi militer, menghindari eskalasi, dan menjaga keselamatan pelayaran di Selat Hormuz,” kata Mao.
Seruan Beijing mencerminkan kerentanan ekonomi Asia terhadap gangguan energi dari Timur Tengah. Negara-negara seperti India, Korea Selatan, Thailand, dan Filipina sangat bergantung pada impor minyak dari kawasan tersebut.
Gangguan di jalur energi utama dunia ini langsung mengguncang pasar global. Harga minyak melonjak tajam, sementara pasar saham melemah akibat kekhawatiran lonjakan inflasi baru. Di Wall Street, indeks S&P 500 turun 0,9%, sementara indeks volatilitas VIX—yang sering disebut sebagai “barometer ketakutan” pasar—naik ke level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan.
Ketidakpastian juga terlihat dalam pernyataan Trump mengenai masa depan Iran. Ia mengakui bahwa sejumlah tokoh yang sebelumnya dipandang Washington sebagai kandidat pemimpin baru Iran telah tewas dalam kampanye pengeboman. Trump bahkan menyatakan kemungkinan pemimpin pengganti Iran bisa saja “sama buruknya” dengan para pendahulunya.
Pernyataan tersebut mencerminkan kabut ketidakpastian mengenai bagaimana perang ini akan berkembang dan seperti apa masa depan Iran setelah konflik berakhir.
Sementara ledakan terus mengguncang Teheran dan pertempuran meluas ke Lebanon serta kawasan Teluk, dunia kini menghadapi konflik yang tidak hanya mengubah peta militer Timur Tengah, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas energi, perdagangan, dan ekonomi global dalam skala yang jauh lebih luas.

