Selat Hormuz Terancam, Ketegangan Israel-Iran Picu Pasokan LNG Terganggu
BAKU, Investortrust.id - Eskalasi lebih lanjut di Timur Tengah yang dipicu serangan Israel ke Iran dapat mengganggu ekspor gas alam cair (liquified natrual gas/LNG) melalui Selat Hormuz sehingga pasokan global terganggu.
Dilansir Trend, Rabu (18/6/2025), analisis grup perbankan ING yang berkantor pusat di Belanda menyebut, pasar minyak dan gas "gelisah" menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump, yang menyerukan evakuasi warga Teheran, Iran.
"Komentar Presiden AS sangat kontras dengan harapan sebelumnya bahwa konflik Israel-Iran dapat diatasi," kata para ahli ING.
Baca Juga
Harga LNG Bisa Melonjak Gila-gilaan Gegara Perang Israel-Iran
ING menambahkan bahwa keputusan Trump mempersingkat kunjungannya ke G-7 di Kanada menambah kekhawatiran potensi keterlibatan militer AS di Timur Tengah yang memicu kembali volatilitas di pasar keuangan.
"Perkembangan ini menambah risiko geopoliti. Pasar kini memperkirakan ketidakpastian lebih besar seputar potensi gangguan pasokan," kata analis ING.
Sejumlah laporan pada Senin (16/5/2025) menunjukkan bahwa Iran mengisyaratkan kesediaannya meredakan ketegangan dan melanjutkan perundingan nuklir dengan syarat AS tidak bergabung dengan operasi militer Israel. Namun, pasar tetap waspada pada Selat Hormuz sebagai pusat kekhawatiran pasokan energi global.
Hampir sepertiga minyak dunia diangkut melalui laut melewati Selat Hormuz, menjadikannya titik kritis energi dunia. Meskipun sejauh ini tidak ada gangguan pada infrastruktur atau pengiriman minyak, kekhawatiran eskalasi mendorong harga minyak melejit.
Harga minyak dan gas
Harga minyak mentah Brent naik tajam menyusul pernyataan Trump, karena pasar bersiap menghadapi potensi guncangan pasokan. Harga gas alam Eropa juga melonjak, mencapai level tertinggi sejak awal April setelah melonjak 4,8% Jumat pekan lalu.
“Seperti halnya minyak, kekhawatiran terbesar pasar gas adalah bahwa eskalasi lebih lanjut dapat mengganggu ekspor LNG melalui Selat Hormuz,” catat ING.
Qatar, eksportir LNG utama, mengirimkan sekitar 20% pasokan LNG global melalui rute ini. Tanpa koridor ekspor alternatif, gangguan di Selat Hormuz akan memperketat pasar LNG global secara signifikan dan mendorong harga lebih tinggi, terutama di Eropa.
Baca Juga
Uni Eropa tergantung gas Rusia
Sementara itu, Komisi Eropa diperkirakan akan mengungkap proposal baru yang bertujuan menghentikan ketergantungan Uni Eropa pada gas Rusia. Paket tersebut mencakup larangan impor pipa dan LNG Rusia mulai Januari 2026, dengan penghentian penuh pada akhir 2027.
Proposal tersebut juga berupaya melarang layanan terminal Uni Eropa bagi perusahaan energi Rusia. “Tekanan ganda berupa ketidakpastian geopolitik dan pergeseran kebijakan jangka panjang tengah membentuk kembali aliran energi global,” simpul analis ING.
Dengan ketegangan di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda dan rute pasokan strategis terancam, pasar kemungkinan tetap reaktif terhadap perkembangan dalam beberapa hari mendatang.

