Trump Sebut NATO “Pengecut”, Krisis Hormuz Dorong Harga Minyak Tembus US$100 per Barel
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Eskalasi perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran semakin meluas menjadi krisis energi global, ditandai dengan gangguan serius di Selat Hormuz yang mendorong harga minyak dunia bertahan di atas US$100 per barel. Di tengah situasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik keras terhadap negara-negara anggota NATO yang dinilai enggan terlibat dalam pengamanan jalur energi strategis tersebut.
Dalam pernyataannya yang disampaikan pada Jumat (20/3/2026) waktu setempat, Trump menyebut sekutu NATO sebagai “pengecut” karena tidak bersedia membantu membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Ia menilai langkah militer untuk mengamankan jalur tersebut sebenarnya “mudah” dan berisiko rendah, namun sebagian besar negara sekutu memilih tidak terlibat. Pernyataan tersebut dilaporkan dalam live reporting BBC News dan diperkuat oleh laporan NBC News (20 Maret 2026).
Trump menegaskan bahwa tanpa Amerika Serikat, NATO tidak memiliki kekuatan nyata. Ia juga mengaitkan keengganan sekutu dengan lonjakan harga minyak global yang saat ini berada di kisaran US$109 per barel, akibat terganggunya distribusi energi dari kawasan Teluk. Sebelum konflik, sekitar 20% perdagangan minyak dunia melalui jalur laut melewati Selat Hormuz, menjadikannya titik paling krusial dalam rantai pasok energi global.
Situasi di lapangan menunjukkan eskalasi yang terus meningkat. Iran dilaporkan melakukan serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk, termasuk kilang minyak di Kuwait yang mengalami kebakaran akibat serangan drone. Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Bahrain, dan Kuwait juga melaporkan serangan rudal dan drone dalam beberapa hari terakhir. Informasi ini dikonfirmasi oleh NBC News dan berbagai laporan.
Sementara itu, Iran dan Israel terus saling melancarkan serangan udara dan rudal. Pada perayaan Nowruz (Tahun Baru Persia), Israel dilaporkan menggempur Teheran, sementara Iran membalas dengan serangan ke Yerusalem. Rekaman yang diverifikasi oleh BBC menunjukkan kerusakan signifikan pada sebuah bangunan di Semnan, Iran, yang diduga digunakan oleh milisi Basij—kelompok paramiliter di bawah kendali Garda Revolusi Iran.
Baca Juga
Menlu Iran Melontarkan Ancaman “Tanpa Batas” Jika Infrastruktur Diserang Lagi oleh Israel dan AS
Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, dalam pernyataan tertulis yang dibacakan televisi pemerintah pada 20 Maret 2026, menyerukan perlawanan nasional di tengah perang yang semakin meluas. Ia memuji ketahanan rakyat Iran di tengah serangan berulang, sekaligus menegaskan bahwa konflik ini merupakan bagian dari perjuangan eksistensial negara tersebut.
Ketegangan juga meluas ke ranah diplomatik. Pemerintah Iran memperingatkan Inggris bahwa penggunaan pangkalan militer Inggris oleh Amerika Serikat akan dianggap sebagai “partisipasi dalam agresi”. Namun, pemerintah Inggris melalui Downing Street menyatakan tidak ingin terseret lebih jauh dalam konflik yang lebih luas, meskipun tetap melakukan patroli udara defensif di kawasan Timur Tengah, sebagaimana dilaporkan Kementerian Pertahanan Inggris.
Di sisi lain, Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militernya di kawasan. NBC News melaporkan bahwa ribuan marinir tambahan, termasuk dari 11th Marine Expeditionary Unit (MEU) yang terdiri atas sekitar 2.200 personel, sedang dipersiapkan untuk dikerahkan ke Timur Tengah dalam waktu dekat.
Dampak konflik ini terhadap energi global semakin nyata. Kepala International Energy Agency (IEA) menyebut situasi saat ini sebagai “tantangan keamanan energi global terbesar dalam sejarah”, mengingat skala gangguan terhadap produksi dan distribusi energi yang terjadi secara simultan.
Dengan kombinasi serangan terhadap infrastruktur energi, gangguan jalur distribusi, serta eskalasi militer yang meluas, krisis ini tidak lagi bersifat regional. Ia telah berubah menjadi perang energi global yang berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi dunia—termasuk negara-negara berkembang seperti Indonesia yang sangat bergantung pada impor energi.

