Ketegangan Memuncak, Trump Ancam Hantam Pembangkit Iran Jika Selat Hormuz Tak Dibuka dalam 48 Jam
Poin Penting
|
FLORIDA, investortrust.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang beberapa hari lalu secara terbuka meminta Israel untuk menghindari penargetan situs energi Iran karena khawatir akan memicu siklus serangan balasan yang meningkat, kali ini mengancam akan menyerang pembangkit listrik Iran jika negara itu tidak sepenuhnya membuka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Trump mengatakan bahwa serangan Amerika terhadap pembangkit listrik Iran akan dimulai dengan yang terbesar terlebih dahulu.
“If Iran doesn’t FULLY OPEN, WITHOUT THREAT, the Strait of Hormuz, within 48 HOURS from this exact point in time, the United States of America will hit and obliterate their various POWER PLANTS, STARTING WITH THE BIGGEST ONE FIRST,” tulis Trump, yang sedang berada di rumahnya di Florida untuk akhir pekan, menulis di Truth Social pada Sabtu (21/3/2026) pukul 23:44 GMT atau Minggu (22/3/2026) pukul 06.44 WIB.
Melansir The New York Times, Minggu (22/3/2026) pembangkit listrik terbesar Iran tampaknya adalah satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir yang beroperasi, di Bushehr. Selama beberapa dekade, pembangkit listrik tenaga nuklir dianggap terlarang karena risiko bencana lingkungan yang jelas. AS telah memimpin upaya untuk mencegah Rusia dan Ukraina menembak di dekat pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia sejak invasi Rusia ke Ukraina.
Bushehr menggunakan bahan bakar uranium yang disediakan Rusia dan dipantau oleh Badan Energi Atom Internasional. Pembangkit ini tidak dianggap sebagai bagian dari program senjata nuklir Ukraina. Bahan bakar bekas dikembalikan ke Rusia.
Baca Juga
Menlu Iran: Selat Hormuz Terbuka, tetapi Tertutup bagi Musuh
Presiden Trump menyatakan dengan jelas dalam unggahannya di Truth Social. Iran memiliki waktu 48 jam "dari titik waktu tepat ini" untuk membuka jalur air sepenuhnya dan "tanpa ancaman".
Trump mengunggah pada pukul 23:44 GMT tanggal 21 Maret. Itu berarti Iran memiliki waktu hingga pukul 23:44 GMT tanggal 23 Maret (03:14 di Teheran tanggal 24 Maret) untuk membuka Selat tersebut.
Baca Juga
Selat Hormuz Memanas, Menhan Tegaskan TNI Perketat Pengamanan Sumber Daya Alam
Dampak Penutupan Selat
Sebagai informasi, Iran secara efektif telah memblokir Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia, sejak AS dan Israel menyerang negara itu pada 28 Februari. Dibatasi di utara oleh Iran dan di selatan oleh Oman dan Uni Emirat Arab (UEA), jalur air ini hanya sekitar 50 km (31 mil) lebarnya di pintu masuk dan keluar, dan sekitar 33 km lebarnya di titik tersempit - menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab.
Melansir BBC, sekitar 20% minyak dan gas alam cair (LNG) dunia biasanya melewati selat ini, dengan minyak yang berasal tidak hanya dari Iran tetapi juga negara-negara Teluk lainnya seperti Irak, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan UEA.
Sekitar 3.000 kapal biasanya berlayar melalui selat ini setiap bulan, tetapi jumlah ini telah menurun drastis baru-baru ini, dengan Iran mengancam akan menyerang kapal tanker dan kapal lainnya. Pada 18 Maret 2026, setidaknya 21 kapal telah terkena serangan atau menjadi sasaran, atau melaporkan serangan, sejak awal perang.
Harga bahan bakar global telah melonjak setelah perang. Minyak mentah telah naik di atas US$ 100 per barel atau naik hampir 70% tahun ini dan hampir 50% dari tahun lalu.

