Dividen Tinggi dan Buyback Disetujui, Saham BBCA Diproyeksi Re-Rating
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) akan merealisasikan pembagian dividen dengan lebih besar serta rencana pembelian kembali saham (buy back) saham. Hal ini sesuai dengan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). Dua keputusan ini bisa menjadi katalis penting bagi pergerakan harga saham BBCA ke depan.
Dalam RUPST yang diselenggarakan, Kamis (12 Maret 2026), BBCA juga menyampaikan rencana pembagian dividen interim sebanyak tiga kali sepanjang 2026. Kebijakan ini sejalan dengan komitmen bank swasta terbesar nasional tersebut untuk memberikan nilai tambah bagi pemegang saham.
Presiden Direktur BBCA Hendra Lembong mengatakan, pembagian dividen interim setiap kuartal diharapkan dapat menambah arus kas bagi pemegang saham.
Baca Juga
“Pembagian dividen interim setiap kuartal ini diharapkan dapat menambah cashflow bagi pemegang saham yang selama ini senantiasa bersama kami. Perseroan memastikan rencana ini juga menyesuaikan dengan kondisi keuangan dan telah mendapatkan persetujuan dari Dewan Komisaris,” ujar Hendra dalam keterangan resminya.
BBCA menetapkan pembagian dividen setara dengan 72% dari laba bersih tahun buku 2025 yang mencapai Rp 57,5 triliun. Dengan rasio tersebut, total dividen yang dibagikan kepada pemegang saham mencapai sekitar Rp 41,3 triliun atau setara Rp 336 per saham.
Rasio pembagian dividen ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024, BBCA membagikan dividen dengan payout ratio sekitar 67,4%, sehingga keputusan terbaru ini menunjukkan komitmen perseroan dalam memberikan imbal hasil lebih menarik bagi investor.
Sebelumnya, BBCA telah membagikan dividen interim pada Desember 2025 sebesar Rp 6,8 triliun atau setara Rp 55 per saham. Dengan demikian, sisa dividen tunai final yang akan dibagikan kepada pemegang saham mencapai sekitar Rp 281 per saham.
Baca Juga
Besaran dividen tersebut dinilai semakin menarik di tengah kondisi harga saham BBCA yang sempat mengalami tekanan pasar. Dengan harga saham saat ini, yield dividen BBCA diperkirakan berada di kisaran 4–5%, lebih tinggi dibandingkan yield historis yang biasanya berada di kisaran 2–3%.
Selain pembagian dividen, RUPST memberikan persetujuan kepada perseroan untuk melakukan buyback saham dengan nilai maksimal Rp5 triliun. Langkah ini dinilai sebagai strategi manajemen untuk menjaga stabilitas harga saham sekaligus meningkatkan nilai bagi pemegang saham.
Kombinasi antara dividen tinggi dan program buyback mencerminkan upaya BBCA untuk menambah nilai bagi pemegang saham di tengah kondisi pasar yang masih berfluktuasi. Strategi tersebut juga menjadi sinyal kepercayaan manajemen terhadap fundamental bisnis perseroan ke depan.
Di sisi operasional, manajemen BBCA menetapkan sejumlah target kinerja untuk 2026. Perseroan menargetkan pertumbuhan kredit di kisaran 8–10% seiring prospek pemulihan ekonomi dan permintaan pembiayaan yang tetap solid.
Baca Juga
Analis: Laba BBCA Diprediksi Lanjut Tumbuh di 2026, Potensi Dividen dan Harga Saham Menguat
Sementara itu, marjin bunga bersih atau net interest margin (NIM) diproyeksikan berada di kisaran 5,4–5,6%. BBCA juga menargetkan cost of credit tetap terjaga di level rendah sekitar 0,4–0,5%, mencerminkan kualitas aset yang tetap sehat.
Dari sisi efisiensi, bank swasta terbesar di Indonesia ini menargetkan cost to income ratio (CIR) berada di kisaran 31–33%. Target tersebut menunjukkan fokus perseroan dalam menjaga efisiensi operasional sekaligus mempertahankan profitabilitas yang kuat.
Re-rating
Sementara itu, analis KB Valbury Sekuritas Akhmad Nurcahyadi menilai bahwa pedoman kinerja yang disampaikan manajemen BBCA untuk 2026 tergolong realistis dan dapat dicapai. Ia juga mempertahankan pandangan positif terhadap saham BBCA.
“Kami kembali menegaskan keyakinan kami terhadap saham BBCA, mengingat kemampuannya untuk terus mencetak kinerja yang tangguh dengan fundamental laba yang tetap kuat,” kata Akhmad dalam laporan risetnya.
Baca Juga
Menkeu Tak Tahu soal Rencana Menaikkan Defisit APBN di Atas 3% PDB
Menurut dia, keunggulan BBCA dalam bisnis transactional banking yang sulit ditandingi, biaya dana yang rendah, serta daya tarik dividen yang solid akan tetap menjadi cerita utama pada 2026.
“Meskipun kepercayaan pasar masih relatif lemah dalam periode yang cukup panjang, kami tetap memperkirakan potensi re-rating saham masih terbuka. Hal ini didukung oleh tren penurunan biaya dana, imbal hasil kredit yang relatif stabil, efisiensi operasional yang terjaga, pendapatan non-bunga yang solid, serta pencadangan yang tetap terkelola dengan baik sehingga mampu menopang kinerja laba pada 2026,” ujar Akhmad.
Dalam risetnya, Akhmad memberikan rekomendasi beli saham BBCA dengan target harga Rp 11.080 per saham untuk 12 bulan ke depan atau setara dengan rasio price to book value (PBV) 4,1x untuk 2026. Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 60,6% dari harga penutupan Kamis (12/3) di level Rp 6.900 per saham.

