IHSG Intraday Anjlok hingga 4% Dipicu Faktor Ini, Sebaliknya Saham Berikut masih Menarik Dipantau
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) anjlok parah, pada perdagangan intraday Rabu (4/3/2026) di tengah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dunia. Di tengah tekanan tersebut, saham sektor energi dinilai berpotensi menjadi pelarian investor.
Berdasarkan data BEI hingga pukul 11.30 WIB, IHSG merosot sebanyak 300 poin (3,81%) menjadi 7.638. Bahkan, indeks intraday sempat anjlok lebih dari 4% ke level 7.584.
Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai bahwa pelemahan indeks hingga sempat melewati 4% tersebut dipicu kombinasi sejumlah sentimen yang terjadi secara bersamaan.
Baca Juga
Bahlil Jamin Pasokan Batu Bara RI Terjaga meski Volume Produksi Dipangkas
“Pelemahan IHSG hingga sempat lebih dari 4% hari ini dipicu kombinasi beberapa sentimen sekaligus. Faktor global menjadi pemicu utama, terutama meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong investor global mengurangi eksposur pada aset berisiko di emerging market,” ujar Reydi, Rabu (4/3/2026).
Ia menambahkan, tekanan juga datang dari pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat mendekati Rp 17.000 per dolar AS. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap potensi arus modal keluar dan stabilitas makroekonomi.
“Ketika rupiah melemah, biasanya investor asing cenderung melakukan rebalancing dan menjual saham-saham big caps yang paling likuid,” kata Reydi.
Baca Juga
Ketahanan Energi RI Hanya 25 Hari, Bahlil Targetkan Peningkatan 'Storage' hingga 3 Bulan
Sementara itu, rencana pembukaan data kepemilikan saham di atas 1% dinilai hanya menjadi sentimen tambahan yang membuat pasar lebih sensitif dalam jangka pendek. Namun, dalam jangka panjang kebijakan tersebut disebut positif karena meningkatkan transparansi dan kredibilitas pasar modal.
Di sisi lain, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata bersama Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas menyoroti dampak eskalasi konflik AS–Israel vs Iran terhadap pasar energi global.
“Eskalasi konflik AS–Israel vs Iran kembali menempatkan pasar energi global dalam mode waspada. Ancaman terhadap Selat Hormuz, jalur sekitar 20% perdagangan minyak dunia, langsung memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan risiko inflasi energi global,” tulis Liza dalam risetnya.
Baca Juga
OJK Buka Peluang ETF Kripto, Potensi Pasar Bisa Capai 20 Juta Investor
Harga minyak jenis Brent Crude melonjak sekitar 13% menjadi US$81,83 per barel dari posisi sebelum perang meletus pada 27 Februari.
Sebagai net oil importer, Indonesia menghadapi tambahan tekanan fiskal akibat kenaikan harga minyak. Setiap kenaikan US$ 1 harga minyak diperkirakan menambah beban APBN sekitar Rp 10,3 triliun, sementara tambahan penerimaan hanya sekitar Rp 3,6 triliun. Cadangan BBM Indonesia diperkirakan hanya cukup sekitar 20 hari.
Jika konflik berlangsung lebih lama, Indonesia berpotensi membeli minyak impor dengan harga lebih mahal dibandingkan sebelum konflik.
Baca Juga
BI Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah di Tengah Konflik AS-Iran
Dari sisi sektoral, saham energi dipandang berpotensi diuntungkan apabila harga energi global terus meningkat. Emiten migas seperti APEX, ENRG, ELSA, dan MEDC serta batu bara seperti AADI, ADRO, ITMG, dan PTBA dinilai berpeluang mendapat sentimen positif. Lonjakan harga energi biasanya turut mendorong inflasi komoditas dan memperkuat sentimen sektor resources.
Sebaliknya, sektor transportasi dan logistik berisiko menghadapi kenaikan biaya operasional karena bahan bakar menjadi komponen utama struktur biaya. Industri manufaktur juga berpotensi mengalami tekanan margin akibat kenaikan biaya produksi, sementara sektor konsumer dapat terdampak jika lonjakan harga energi memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat.

