Bahlil Jamin Pasokan Batu Bara RI Terjaga meski Volume Produksi Dipangkas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pasokan batu bara dalam negeri tetap aman meski pemerintah tengah melakukan penataan dan penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), yang salah satunya adalah menguarngi volume produksi.
Menurut Bahlil, langkah penataan RKAB batu bara dan nikel dilakukan dengan mempertimbangkan keseimbangan antara supply dan demand. Pemerintah ingin memastikan produksi tetap optimal, namun harga juga berada pada level yang menguntungkan.
“Idealnya batu bara kita produksi banyak, volumenya besar, tapi harganya juga harus bagus,” kata Bahlil dalam konferensi pers di Sekretariat Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Dia menegaskan, penyesuaian RKAB juga diprioritaskan untuk menjamin pemenuhan kebutuhan nasional, termasuk kebutuhan pembangkit listrik milik PT PLN (Persero). Dengan demikian, ketahanan energi nasional tetap terjaga.
Baca Juga
Apindo Soroti Dampak Sosial Pemangkasan Produksi Nikel dan Batu Bara 2026
“Untuk kebutuhan PLN, sampai dengan bulan Maret, April, no issue. Karena kita mengikuti terus perkembangan kebutuhan batu bara terhadap PLN, dengan tetap memperhatikan kualitas dan harga yang ekonomis,” tegas Bahlil.
Bahlil menjelaskan, tujuan utama penataan RKAB ini adalah menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan keberlanjutan usaha. Pasokan dalam negeri harus terjamin, namun di sisi lain harga juga perlu dijaga agar tidak merugikan pelaku usaha.
“Supaya pengusaha juga bisa dapat harga yang baik, tapi kita juga mampu mengelola sumber daya alam secara berkesinambungan,” tegasnya.
Bahlil memaparkan, saat ini Indonesia merupakan pemasok terbesar batu bara global. Sekitar 43% dari total perdagangan batu bara dunia disuplai oleh Indonesia. Dari total perdagangan global sekitar 1,3 miliar ton, Indonesia menyumbang sekitar 500–550 juta ton per tahun.
Kendati demikian, dia menyoroti bahwa besarnya kontribusi tersebut tidak serta-merta membuat Indonesia mengendalikan harga. Harga batu bara global tetap ditentukan oleh mekanisme pasar internasional.
“Yang terjadi sekarang, kita produksi banyak, tapi harganya lagi jatuh. Harganya bukan kita yang mengendalikan, pihak luar yang mengendalikan,” ujar Bahlil.
Dia menilai kondisi oversupply global menyebabkan harga tertekan. Karena itu, pemerintah tidak ingin terus mendorong produksi besar-besaran tanpa mempertimbangkan dampak harga dan keberlanjutan sumber daya.
“Kita harus memaknai bahwa pengelolaan sumber daya alam ini barang milik negara dan harus dikelola dengan hati-hati. Jangan kita mengobral murah barang-barang kita,” katanya.

